Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Ada pesan penting yang dapat kita pelajari mengenai kehidupan seorang pengusaha: jangan membangun gaya hidup di atas kemampuan finansial. Ketika usaha sedang berkembang dan pendapatan meningkat, sangat mudah bagi seseorang merasa kondisi tersebut akan berlangsung selamanya. Pengeluaran ikut naik, kebutuhan bertambah, dan standar hidup semakin tinggi. Padahal dunia usaha selalu mempunyai siklus. Ada saat penjualan meningkat, tetapi ada pula saat bisnis mengalami penurunan. Menurut saya, persoalannya muncul ketika pendapatan turun tetapi gaya hidup tidak ikut menyesuaikan. Di sinilah banyak pelaku usaha mulai mengalami tekanan keuangan. Karena sudah terbiasa dengan pengeluaran yang tinggi, sebagian orang akhirnya mencari pinjaman untuk mempertahankan gaya hidup, bahkan sampai menggunakan pinjaman berbunga tinggi. Padahal utang seperti itu dapat memperberat keadaan dan menjadi masalah baru yang jauh lebih sulit diselesaikan.
Bisnis Selalu Ada Naik dan Turunnya
Tidak ada usaha yang selamanya berada dalam kondisi terbaik. Permintaan konsumen dapat berubah, persaingan meningkat, biaya bahan baku naik, kondisi ekonomi berubah, bahkan sebuah produk yang hari ini sangat diminati belum tentu mempunyai permintaan yang sama beberapa tahun kemudian. Karena itu, ketika bisnis sedang naik, jangan menganggap seluruh peningkatan pendapatan sebagai kesempatan untuk meningkatkan pengeluaran pribadi. Menurut saya, saat pendapatan naik, yang pertama kali harus diperkuat adalah usaha dan kondisi keuangan, bukan gaya hidup. Sisihkan keuntungan. Bangun dana cadangan. Tambah modal kerja secara terukur. Perbaiki sistem usaha. Tingkatkan kualitas produk. Dan siapkan diri menghadapi masa ketika penjualan tidak sebaik hari ini.
Gaya Hidup Harus Mengikuti Kemampuan
Salah satu jebakan terbesar ketika seseorang mulai berhasil adalah merasa harus menunjukkan keberhasilannya. Kendaraan harus lebih mahal, tempat tinggal harus lebih besar, barang yang digunakan harus lebih bermerek, dan pengeluaran sosial ikut bertambah. Tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja, tetapi semuanya harus sesuai kemampuan. Jangan sampai usaha bekerja keras hanya untuk membiayai gaya hidup pemiliknya. Pelaku UMKM perlu mempunyai batas yang jelas antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan usaha. Ketika pendapatan naik, pengeluaran pribadi tidak harus ikut naik dengan kecepatan yang sama. Menurut saya, kesederhanaan dalam mengelola kehidupan justru memberikan ruang lebih besar bagi seorang pengusaha untuk membangun masa depan.
Jangan Tutupi Masalah dengan Pinjaman
Ketika pendapatan menurun tetapi pengeluaran tetap tinggi, seseorang dapat mulai mencari pinjaman sebagai jalan keluar cepat. Awalnya mungkin hanya untuk menutup kebutuhan sementara. Kemudian muncul pinjaman berikutnya untuk membayar kewajiban sebelumnya. Apabila pinjaman memiliki bunga tinggi, masalah dapat berkembang semakin cepat. Karena itu, pelaku UMKM harus berhati-hati. Pinjaman jangan digunakan untuk mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya sudah tidak sesuai dengan kemampuan keuangan. Jika kondisi usaha sedang menurun, yang harus dilakukan adalah mengevaluasi pengeluaran, memperbaiki arus kas, mengurangi biaya yang tidak penting, dan mencari cara meningkatkan pendapatan. Jangan menyelesaikan masalah keuangan hari ini dengan menciptakan masalah yang lebih besar untuk bulan berikutnya.
Bedakan Uang Usaha dan Uang Pribadi
Pelaku UMKM juga harus membiasakan diri memisahkan keuangan usaha dengan keuangan rumah tangga. Ketika seluruh uang tercampur, pemilik usaha sering merasa mempunyai uang lebih banyak daripada kondisi sebenarnya. Uang untuk modal, pembelian stok, pembayaran pemasok, dan kebutuhan operasional akhirnya ikut digunakan untuk konsumsi. Lama-kelamaan usaha kehilangan modal kerja. Menurut saya, usaha yang sehat harus mampu menjaga uang usaha tetap berada pada fungsinya. Pemilik dapat menentukan penghasilan atau bagian yang wajar untuk dirinya sendiri. Selebihnya tetap digunakan untuk memperkuat bisnis dan membangun cadangan.
Saat Bisnis Naik, Bangun Dana Cadangan
Masa terbaik untuk mempersiapkan kondisi sulit adalah ketika bisnis sedang baik. Jangan menunggu penjualan turun baru berpikir mengenai dana darurat. Sisihkan sebagian keuntungan secara rutin. Dana cadangan dapat digunakan ketika penjualan menurun, alat produksi rusak, biaya bahan baku meningkat, atau muncul kebutuhan usaha yang tidak terduga. Pengusaha yang bijak bukan hanya pandai menghasilkan uang ketika keadaan baik, tetapi juga mempersiapkan dirinya ketika keadaan berubah.
Lingkungan Juga Mempengaruhi Cara Kita Mengelola Uang
Pesan lain yang tidak kalah penting adalah mengenai lingkungan. Menurut saya, seseorang harus memilih lingkungan dan pergaulan yang mampu memberikan dukungan positif. Teman dan komunitas dapat mempengaruhi cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, menggunakan uang, bahkan menjalankan usaha. Lingkungan yang sehat dapat memberikan masukan, membuka jaringan, saling mengingatkan, dan memberikan dukungan ketika usaha sedang menghadapi masalah. Sebaliknya, lingkungan yang mendorong gaya hidup berlebihan dapat membuat seseorang terus merasa harus mengikuti standar orang lain. Jangan memilih lingkungan yang membuat kita merasa harus terlihat sukses. Pilih lingkungan yang membantu kita benar-benar menjadi lebih baik.
Pengusaha Tetap Bisa Terpengaruh
Kadang seseorang merasa karena sudah dewasa atau sudah menjadi pengusaha, dirinya tidak akan mudah terpengaruh. Menurut saya, anggapan tersebut tidak selalu benar. Manusia tetap dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Jika setiap hari berada di lingkungan yang boros, konsumtif, dan menganggap utang sebagai sesuatu yang biasa untuk memenuhi gaya hidup, pola pikir tersebut perlahan dapat dianggap normal. Sebaliknya, jika berada di lingkungan yang membicarakan investasi, efisiensi, inovasi, peluang usaha, dan pertumbuhan bisnis, cara berpikir kita juga akan ikut berkembang. Karena itu, pilihlah lingkungan yang saling mendukung untuk bertumbuh, bukan saling mendorong untuk terlihat lebih kaya.
Jangan Ukur Kesuksesan dari Penampilan
Keberhasilan seorang pengusaha jangan hanya dilihat dari kendaraan, pakaian, rumah, atau barang yang digunakannya. Ukurlah dari kesehatan usahanya. Apakah bisnis menghasilkan keuntungan? Apakah mempunyai dana cadangan? Apakah utangnya terkendali? Apakah karyawan mendapatkan haknya? Apakah pelanggan terus bertambah? Apakah aset usaha meningkat? Apakah bisnis dapat bertahan ketika kondisi pasar berubah? Menurut saya, lebih baik terlihat sederhana tetapi mempunyai usaha yang sehat daripada terlihat berhasil tetapi setiap bulan dikejar kewajiban.
UMKM Harus Membangun Ketahanan Keuangan
UMKM yang ingin bertahan panjang perlu membangun ketahanan finansial sejak awal. Catat pemasukan dan pengeluaran. Pisahkan uang pribadi dan usaha. Batasi gaya hidup. Sisihkan keuntungan. Hindari pinjaman berbunga tinggi untuk konsumsi. Bangun dana cadangan. Dan jangan mengambil keputusan keuangan hanya karena ingin mengikuti lingkungan. Ketika bisnis sedang naik, jangan terlena. Ketika bisnis sedang turun, jangan panik. Disiplin keuangan akan membuat pelaku usaha mempunyai ruang untuk berpikir dan mengambil keputusan dengan lebih tenang.
Kesederhanaan Bukan Berarti Tidak Maju
Hidup sesuai kemampuan bukan berarti tidak boleh berkembang atau menikmati hasil kerja. Justru dengan pengelolaan yang sehat, seseorang dapat menikmati hasil usaha tanpa mengorbankan masa depan bisnis. Menurut saya, gaya hidup harus selalu berada di bawah kemampuan keuangan, bukan sebaliknya. Jika pendapatan meningkat, gunakan kesempatan tersebut untuk memperkuat fondasi sebelum meningkatkan pengeluaran. Karena dalam dunia usaha, keadaan bisa berubah kapan saja.
Pada akhirnya, seorang pengusaha bukan hanya dituntut pandai mencari uang, tetapi juga pandai menjaga uang, mengendalikan gaya hidup, memilih lingkungan yang sehat, dan mempersiapkan diri menghadapi naik turunnya bisnis. Jangan biarkan gaya hidup tumbuh lebih cepat daripada usaha. Jangan mempertahankan penampilan dengan pinjaman berbunga tinggi. Bangun bisnis yang sehat, hidup sesuai kemampuan, dan berada di lingkungan yang saling mendukung. Ketika keuangan terkendali dan lingkungan kita sehat, pelaku UMKM akan lebih siap bertahan menghadapi masa sulit dan lebih kuat ketika kesempatan untuk tumbuh kembali datang.
