Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Menghargai diri sendiri bukan berarti merasa lebih tinggi daripada orang lain. Menghargai diri adalah memahami nilai diri, menjaga martabat, mengetahui batas, dan tidak memaksakan diri berada di tempat yang tidak memberikan penghargaan sebagaimana mestinya. Dalam kehidupan, kita tidak selalu mendapatkan perlakuan sesuai harapan. Ada saat ketika kita tidak dihargai, tidak diajak, tidak dilibatkan, tidak didengar, bahkan mungkin dikhianati atau direndahkan. Kondisi seperti itu tentu tidak menyenangkan, tetapi cara kita meresponsnya akan menunjukkan kedewasaan dan kualitas diri.
Ketika Tidak Dihargai, Belajarlah Menjaga Jarak
Tidak semua orang harus kita paksa untuk memahami atau menghargai kita. Ketika berada dalam lingkungan yang terus-menerus merendahkan, mengabaikan, atau memperlakukan kita dengan tidak baik, menjaga jarak dapat menjadi pilihan yang sehat. Menjaga jarak bukan berarti bermusuhan. Kita tetap dapat bersikap sopan, tetapi tidak perlu terus berada dalam situasi yang menguras energi dan harga diri.
Menghargai diri berarti mengetahui kapan harus bertahan dan kapan harus mundur dengan tenang. Begitu juga ketika kita tidak diundang atau tidak diajak dalam suatu kegiatan. Tidak perlu memaksakan diri hadir hanya untuk mendapatkan pengakuan. Ada kalanya menerima kenyataan dengan lapang dada jauh lebih baik daripada memaksakan keberadaan kita di tempat yang memang tidak mengharapkan kehadiran kita.
Jangan Memaksakan Diri untuk Selalu Dilibatkan
Dalam pekerjaan, organisasi, pergaulan, maupun kehidupan sosial, tidak semua urusan harus melibatkan kita. Ketika kita tidak dilibatkan, jangan terburu-buru ikut campur atau merasa harus mengetahui semuanya. Ada waktunya kita berbicara dan ada waktunya kita memberi ruang kepada orang lain.
Demikian pula ketika sesuatu tidak diberikan kepada kita, jangan selalu merasa harus meminta. Kemandirian dan kemampuan mencukupi kebutuhan sendiri merupakan bagian penting dari harga diri. Bukan berarti kita tidak boleh meminta bantuan. Namun kita perlu memahami perbedaan antara membutuhkan bantuan dengan menggantungkan penghargaan diri kepada pemberian orang lain.
Dikhianati, Maafkan dan Lanjutkan Kehidupan
Pengkhianatan merupakan pengalaman yang menyakitkan. Baik dalam hubungan pribadi, pekerjaan, persahabatan, maupun dunia usaha, kepercayaan yang rusak memang tidak mudah dipulihkan. Namun membawa rasa kecewa terus-menerus hanya akan membuat kita semakin terbebani.
Memaafkan tidak selalu berarti melupakan atau kembali memberikan kepercayaan yang sama. Memaafkan adalah keputusan untuk tidak membiarkan pengalaman buruk menguasai kehidupan kita. Ada saatnya kita harus menerima apa yang telah terjadi, mengambil pelajaran, kemudian melangkah ke depan. Jangan biarkan satu pengalaman buruk menghentikan perjalanan panjang yang masih harus kita jalani.
Ketika Dihina, Jangan Balas dengan Kebencian
Hinaan sering membuat seseorang ingin membalas dengan kata-kata yang sama. Tetapi membalas hinaan dengan hinaan hanya akan membawa kita turun ke tingkat persoalan yang sama. Jawaban terbaik sering kali bukan perdebatan panjang, melainkan pembuktian melalui tindakan.
Jika seseorang meremehkan kemampuan kita, jadikan itu motivasi untuk bekerja lebih baik. Tingkatkan kemampuan, perbaiki kualitas diri, bangun usaha, jalankan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, dan biarkan hasil yang berbicara. Kesuksesan yang dicapai dengan kerja keras jauh lebih kuat daripada seribu jawaban terhadap orang yang pernah meremehkan kita.
Tidak Didengar, Jangan Terus Memaksakan Pembicaraan
Ada kalanya kita sudah menjelaskan sesuatu dengan baik tetapi orang lain tidak mau mendengarkan. Dalam kondisi seperti itu, kita tidak harus terus memaksakan pendapat. Berbicara memiliki nilai ketika ada orang yang bersedia mendengar.
Jika pendapat kita belum diterima, mungkin saatnya berhenti sejenak, mengevaluasi cara penyampaian, atau membiarkan waktu membuktikan. Hal yang sama berlaku ketika kita tidak diberi tahu mengenai sesuatu. Tidak semua hal harus kita ketahui. Jangan menghabiskan energi untuk terus bertanya mengenai urusan yang memang tidak melibatkan kita. Ketenangan akan tumbuh ketika seseorang tidak lagi merasa harus mengetahui, memiliki, atau mengendalikan segala sesuatu.
Jangan Menempatkan Diri sebagai Pilihan Terakhir
Menghargai diri juga berarti memahami bagaimana orang lain memperlakukan kita. Apabila seseorang baru mengingat kita di saat-saat terakhir secara berulang-ulang, kita berhak mempertimbangkan apakah kita perlu selalu memenuhi panggilan tersebut. Bukan karena kesombongan, tetapi karena waktu dan perhatian kita juga memiliki nilai.
Namun setiap keadaan tentu harus dilihat secara bijaksana. Ada undangan yang terlambat karena keadaan, ada kesalahan komunikasi, dan ada pula situasi yang memang tidak disengaja. Karena itu, jangan terburu-buru menilai seseorang hanya dari satu kejadian. Yang perlu diperhatikan adalah pola perlakuannya.
Menghargai Diri Bukan Berarti Menutup Diri
Ada satu hal penting yang perlu dipahami. Menghargai diri sendiri jangan sampai berubah menjadi sikap mudah tersinggung, merasa tidak membutuhkan orang lain, atau menutup diri dari kritik. Kita tetap membutuhkan orang lain. Kita tetap harus belajar menerima masukan, meminta maaf ketika salah, dan memperbaiki kekurangan.
Harga diri yang sehat justru membuat seseorang lebih tenang. Ia tidak harus selalu membuktikan dirinya kepada semua orang dan tidak mudah goyah hanya karena penilaian orang lain. Menurut saya, orang yang benar-benar menghargai dirinya tidak sibuk mengejar pengakuan. Ia lebih sibuk memperbaiki kualitas dirinya sendiri.
Terus Bertumbuh Tanpa Kehilangan Martabat
Kita tidak dapat mengatur bagaimana semua orang memperlakukan kita, tetapi kita dapat menentukan bagaimana kita merespons perlakuan tersebut. Jika tidak dihargai, jaga jarak dengan bijaksana. Jika tidak dilibatkan, jangan memaksakan diri. Jika dikhianati, ambil pelajaran dan lanjutkan kehidupan. Jika dihina, jangan membalas dengan kebencian. Bangun kemampuan dan buktikan diri melalui prestasi.
Pada akhirnya, menghargai diri sendiri bukan soal menjauh dari semua orang yang mengecewakan kita. Menghargai diri adalah kemampuan menjaga keseimbangan antara martabat, kedewasaan, kesabaran, dan keberanian untuk terus berkembang.
Jangan habiskan kehidupan untuk memaksa orang lain melihat nilai diri kita. Bangunlah kualitas diri sedemikian rupa sehingga nilai itu terlihat melalui sikap, karya, integritas, dan perjalanan hidup kita sendiri.
