Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
UMKM sering dimulai dari sesuatu yang sederhana usaha rumahan, warung kecil, produksi makanan, jasa, perdagangan, atau keterampilan yang kemudian berkembang menjadi sumber penghasilan keluarga. Menurut saya, kekuatan UMKM justru terletak pada keberanian masyarakat untuk menciptakan peluang dari kemampuan yang dimiliki. Namun tantangan hari ini berbeda. Pelaku UMKM tidak cukup hanya mampu membuat produk dan menjualnya. Persaingan semakin luas, konsumen semakin kritis, teknologi berkembang cepat, dan pasar terus berubah. Karena itu, UMKM harus mulai berpikir bukan hanya bagaimana bertahan hari ini, tetapi bagaimana membangun usaha yang tetap kuat dalam lima atau sepuluh tahun ke depan.
Pisahkan Keuangan Usaha dan Keuangan Pribadi
Salah satu langkah sederhana tetapi sangat penting adalah disiplin dalam keuangan. Banyak usaha sebenarnya memiliki penjualan yang baik, tetapi sulit berkembang karena uang usaha dan kebutuhan pribadi tercampur. Menurut saya, pelaku UMKM harus mengetahui berapa omzet, biaya, keuntungan, utang, dan modal yang benar-benar dimiliki. Pencatatan yang sederhana sekalipun jauh lebih baik daripada menjalankan usaha hanya berdasarkan ingatan.
Jangan Hanya Menjual Produk, Bangun Kepercayaan
Produk dapat ditiru, harga dapat bersaing, tetapi kepercayaan konsumen dibangun melalui proses yang panjang. Kualitas yang konsisten, pelayanan yang baik, kejujuran, kebersihan, ketepatan waktu, dan kemampuan menangani keluhan merupakan bagian dari kekuatan sebuah usaha. Konsumen yang percaya bukan hanya akan membeli kembali, tetapi dapat menjadi orang yang merekomendasikan usaha kita kepada orang lain.
Teknologi Harus Membantu UMKM Bertumbuh
Media sosial dan platform digital membuka pasar yang jauh lebih luas. Tetapi teknologi harus digunakan secara terarah. Pelaku UMKM perlu belajar membuat tampilan produk yang menarik, memberikan informasi harga yang jelas, melayani konsumen dengan cepat, memanfaatkan pembayaran digital, dan membangun reputasi usaha secara konsisten. Menurut saya, digitalisasi bukan sekadar hadir di media sosial, tetapi menggunakan teknologi untuk membuat usaha lebih efisien dan pasar lebih luas.
Pesan untuk Pelaku UMKM
Jangan pernah merasa usaha terlalu kecil untuk dikelola secara profesional. Usaha yang besar selalu membutuhkan fondasi yang kuat, dan fondasi itu dapat dibangun sejak usaha masih sederhana. Mulailah dari disiplin keuangan, kualitas produk, pelayanan yang baik, pemanfaatan teknologi, legalitas yang tertib, dan kemauan untuk terus belajar. Yang perlu dibangun bukan hanya penjualan hari ini, tetapi usaha yang memiliki sistem, dipercaya konsumen, mampu menciptakan lapangan kerja, dan dapat diwariskan sebagai aset ekonomi keluarga. Menurut saya, ketika satu UMKM bertumbuh dengan sehat, manfaatnya tidak berhenti pada pemilik usaha. Karyawan mendapatkan pekerjaan, pemasok mendapatkan pasar, keluarga memperoleh penghasilan, dan ekonomi lingkungan ikut bergerak. Karena itu, UMKM bukan sekadar usaha kecil. UMKM adalah tempat lahirnya kemandirian, kesempatan kerja, dan kekuatan ekonomi masyarakat.(BN)
