Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 Tahun Pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Dalam kehidupan, kita sering mendengar ungkapan bahwa uang bukanlah segalanya dan tidak akan dibawa mati. Ungkapan tersebut memang benar. Namun, ada satu hal yang perlu kita pahami, yaitu uang yang diperoleh dengan cara baik dan dikelola secara bijaksana dapat menjadi sarana untuk membantu sesama, menciptakan kesejahteraan, dan meninggalkan manfaat bagi kehidupan. Kita sering melihat keberhasilan ekonomi sebagian masyarakat, termasuk para pengusaha keturunan Tionghoa, yang mampu membangun usaha dan mempertahankannya hingga lintas generasi. Hal menarik yang dapat dipelajari bukanlah latar belakang sukunya, melainkan nilai-nilai positif seperti kerja keras, disiplin, pengelolaan keuangan, kerja sama, dan keberanian membangun usaha.
Keberhasilan ekonomi tentu tidak ditentukan oleh keturunan atau identitas seseorang. Siapa pun memiliki kesempatan untuk berkembang apabila mau belajar, bekerja cerdas, membangun kepercayaan, dan mengelola setiap peluang dengan baik. Salah satu persoalan yang sering kita hadapi adalah kebiasaan menggunakan uang untuk memenuhi keinginan sesaat, bukan membangun masa depan. Tidak sedikit orang yang berusaha terlihat berhasil melalui penampilan, sementara kondisi keuangannya belum benar-benar kuat.
Padahal, kekayaan yang sesungguhnya bukan tentang seberapa mahal gaya hidup seseorang, tetapi seberapa baik ia mampu mengelola penghasilan, menjaga aset, dan menciptakan manfaat bagi orang lain. Dalam membangun usaha, termasuk UMKM, kemampuan mengelola uang menjadi sangat penting. Keuntungan seharusnya tidak seluruhnya dihabiskan untuk konsumsi, tetapi sebagian disisihkan sebagai modal pengembangan usaha, tabungan, investasi yang terukur, dan persiapan menghadapi keadaan darurat.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah membangun kebiasaan saling mendukung. Keberhasilan akan lebih bermakna apabila mampu membuka lapangan pekerjaan, membantu keluarga, memperkuat ekonomi masyarakat, dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berkembang. Kita juga perlu memahami bahwa berbuat baik tidak selalu membutuhkan uang. Namun, kemampuan ekonomi yang memadai dapat memperluas kesempatan seseorang untuk membantu mereka yang membutuhkan, mendukung pendidikan, membangun kegiatan sosial, serta menciptakan manfaat yang lebih besar.
Karena itu, jangan menjadikan ungkapan “uang tidak dibawa mati” sebagai alasan untuk berhenti berusaha atau mengabaikan pentingnya membangun kesejahteraan. Justru selama masih diberikan kesempatan hidup, kita perlu bekerja dengan sungguh-sungguh, mencari rezeki secara jujur, dan menggunakannya untuk tujuan yang bermanfaat. Pada akhirnya, uang hanyalah alat, bukan tujuan utama kehidupan. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh integritas, tanggung jawab, dan kebaikan yang dilakukan.
Jangan hanya bekerja keras untuk terlihat kaya. Bekerjalah dengan cerdas agar mampu hidup sejahtera, membahagiakan keluarga, dan memberikan manfaat bagi sesama. Sebab, uang memang tidak dibawa mati, tetapi kebaikan yang kita lakukan dengan uang tersebut dapat meninggalkan jejak manfaat yang jauh lebih panjang daripada usia kita.(BN)
