Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Pemikiran Sun Tzu tentang strategi perang memberikan pelajaran yang masih relevan dalam kehidupan modern, termasuk dunia bisnis, organisasi, politik, dan kepemimpinan. Salah satu prinsip pentingnya adalah bahwa keberhasilan tidak selalu dicapai melalui pertentangan, tetapi melalui kecerdasan memahami keadaan, menyusun strategi, dan mengambil keputusan yang tepat.
Menurut saya, orang yang bijaksana bukanlah orang yang selalu memenangkan perdebatan, melainkan orang yang mampu menyelesaikan persoalan tanpa harus menciptakan konflik yang tidak diperlukan.
Pahami Situasi Sebelum Mengambil Keputusan
Tidak semua persoalan harus langsung dihadapi dengan tindakan. Kemampuan membaca keadaan, memahami risiko, mengenali kepentingan, dan mempertimbangkan akibat merupakan bagian penting dari kecerdasan strategis. Menurut saya, keputusan yang baik tidak lahir dari emosi sesaat, tetapi dari pemikiran yang matang dan informasi yang tepat.
Strategi Lebih Penting daripada Sekadar Kekuatan
Dalam dunia bisnis maupun kepemimpinan, keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki kekuasaan, modal, atau pengaruh terbesar. Kemampuan merencanakan, bernegosiasi, membangun kerja sama, dan menemukan solusi sering kali jauh lebih menentukan. Orang yang berpikir strategis mengetahui kapan harus bertindak, kapan harus menunggu, dan kapan harus mengubah pendekatan.
Kemenangan Terbaik Tidak Harus Melahirkan Permusuhan
Tidak setiap perbedaan harus menjadi pertengkaran, dan tidak semua konflik harus berakhir dengan pihak yang dipermalukan. Menurut saya, kepemimpinan yang matang terlihat dari kemampuan menyelesaikan masalah, menjaga hubungan, dan mencapai tujuan tanpa mengorbankan etika serta integritas. Menghindari konflik yang tidak perlu bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan.
Pesan untuk Masyarakat
Saya mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, pekerja, pelaku UMKM, dan para pemimpin, untuk membangun kebiasaan berpikir strategis sebelum mengambil keputusan. Jangan mudah terpancing emosi, jangan terburu-buru menghadapi konflik, dan jangan menganggap setiap perbedaan sebagai permusuhan. Belajarlah memahami persoalan, memperhitungkan risiko, mengutamakan komunikasi, dan mencari penyelesaian yang memberikan manfaat.
Menurut saya, semakin tinggi pendidikan dan jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menggunakan kecerdasan dalam mengambil keputusan, bukan sekadar menunjukkan kekuasaan. Pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang kemampuan mengalahkan orang lain, tetapi kemampuan mengendalikan diri, memahami keadaan, dan mencapai tujuan dengan cara yang bijaksana. Karena orang yang benar-benar cerdas tidak selalu harus memenangkan pertengkaran. Terkadang, kemenangan terbesar justru ketika kita mampu menyelesaikan persoalan tanpa harus bertengkar.(BN)
