Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 Tahun Pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Dalam dunia kerja, organisasi, bisnis, maupun politik, kita sering melihat seseorang yang memiliki karisma besar, pandai berbicara, mampu menarik perhatian, dan mudah mendapatkan dukungan dari banyak orang. Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami, yaitu karisma dapat membuat orang tertarik mengikuti seorang pemimpin, tetapi karakterlah yang menentukan apakah mereka akan tetap percaya dan bertahan bersamanya.
Tidak sedikit pemimpin yang pada awalnya mampu menarik banyak orang untuk bergabung, tetapi kemudian kehilangan dukungan karena sikap, perilaku, atau cara memperlakukan anggota tim tidak sesuai dengan harapan. Karisma berkaitan dengan daya tarik dan kemampuan memengaruhi orang lain, sedangkan karakter mencerminkan integritas, kejujuran, tanggung jawab, serta nilai-nilai yang menjadi dasar tindakan seseorang.
Karisma dapat membangun popularitas, tetapi karakterlah yang membangun kepercayaan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya terlihat hebat di hadapan banyak orang. Ia juga harus mampu menunjukkan keteladanan melalui tindakan nyata, terutama ketika menghadapi persoalan, tekanan, dan perbedaan pendapat. Dalam membangun kepemimpinan yang efektif, terdapat tiga kemampuan penting yang perlu dimiliki seorang pemimpin, yaitu Ability, Adaptability, dan Availability.
Pertama, Ability atau kemampuan memimpin. Seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan, keterampilan, kemampuan mengambil keputusan, serta kecakapan menyelesaikan persoalan. Kepemimpinan bukan hanya tentang memberikan perintah, tetapi juga memahami pekerjaan dan mampu memberikan solusi ketika tim menghadapi kesulitan.
Kedua, Adaptability atau kemampuan beradaptasi. Perubahan merupakan bagian yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan organisasi. Pemimpin harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, perubahan keadaan, kebutuhan masyarakat, dan dinamika anggota tim. Pemimpin yang baik tidak selalu memaksakan cara lama, tetapi terbuka terhadap gagasan baru dan bersedia terus belajar.
Ketiga, Availability atau kesediaan untuk hadir dan dapat diakses. Inilah salah satu unsur kepemimpinan yang sering kurang diperhatikan. Seorang pemimpin mungkin memiliki kemampuan tinggi dan pengalaman luas, tetapi apabila sulit ditemui, tidak mau mendengarkan, atau tidak hadir ketika anggota membutuhkan arahan, hubungan kepercayaan dalam tim dapat melemah.
Kehadiran seorang pemimpin bukan sekadar hadir secara fisik, melainkan juga kesediaan memberikan perhatian, mendengarkan persoalan, dan membantu anggota tim berkembang. Dalam organisasi, termasuk organisasi politik, kepemimpinan yang kuat tidak dapat hanya dibangun melalui popularitas seorang tokoh. Diperlukan karakter yang baik, kemampuan mengelola organisasi, kesiapan menghadapi perubahan, dan kedekatan dengan seluruh anggota. Menurut saya, pemimpin yang berhasil bukan hanya mereka yang mampu menarik banyak pengikut, tetapi mereka yang mampu membangun tim yang solid, loyal, mandiri, dan memiliki tujuan bersama.
Pada akhirnya, jabatan dapat memberikan kewenangan dan karisma dapat mendatangkan perhatian. Namun, kepercayaan hanya dapat dipertahankan melalui integritas, keteladanan, kemampuan, serta kepedulian yang dibuktikan secara konsisten. Jangan hanya berusaha menjadi pemimpin yang dikagumi karena kemampuan berbicara. Jadilah pemimpin yang dihormati karena karakter, dipercaya karena tindakan, dan dirasakan kehadirannya oleh orang-orang yang dipimpin.
Karena pemimpin sejati bukan hanya mampu membuat orang datang dan bergabung, tetapi juga mampu membuat mereka percaya, bertumbuh, dan bergerak bersama menuju keberhasilan.(BN)
