Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 Tahun Pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Dalam kehidupan, setiap orang tentu memiliki keinginan untuk sukses, dihargai, hidup tenang, bahagia, dan memperoleh keberkahan. Namun, sering kali kita terlalu sibuk mengejar apa yang kita inginkan tanpa menyadari bahwa perubahan besar dalam kehidupan justru dimulai dari kebiasaan, sikap, dan cara kita memperlakukan diri sendiri maupun orang lain. Keberhasilan hidup bukan hanya ditentukan oleh seberapa besar cita-cita yang kita miliki, tetapi juga oleh kesediaan menjalankan nilai-nilai sederhana secara konsisten.
Ada sepuluh prinsip kehidupan yang dapat menjadi bahan renungan bersama.
Pertama, ingin sukses? Bangun kedisiplinan. Kesuksesan tidak datang hanya karena keinginan besar. Dibutuhkan kerja keras, ketekunan, tanggung jawab, dan kemampuan menjaga komitmen. Orang yang disiplin tidak selalu memiliki jalan yang mudah, tetapi lebih siap menghadapi tantangan.
Kedua, ingin dihargai? Jaga ucapan. Cara kita berbicara mencerminkan karakter dan kedewasaan. Jangan sampai perkataan yang diucapkan tanpa pertimbangan merusak hubungan baik dan kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Ketiga, ingin hidup tenang? Hormati urusan dan privasi orang lain. Tidak semua persoalan perlu kita ketahui atau komentari. Belajarlah membatasi rasa ingin tahu yang berlebihan dan fokus memperbaiki kehidupan sendiri.
Keempat, ingin menjadi dewasa? Belajar mengalah. Mengalah bukan berarti lemah atau selalu membenarkan orang lain. Terkadang, mengalah merupakan bentuk kebijaksanaan untuk menghindari pertengkaran yang tidak perlu, tanpa harus mengorbankan prinsip dan kebenaran.
Kelima, ingin hidup penuh berkah? Carilah rezeki yang halal dan jujur. Penghasilan besar tidak selalu menjamin ketenangan. Rezeki yang diperoleh melalui cara yang benar akan lebih bermakna ketika digunakan untuk memenuhi tanggung jawab keluarga dan membantu sesama.
Keenam, ingin hubungan harmonis? Kurangi ego. Dalam keluarga, pekerjaan, maupun organisasi, tidak semua keinginan pribadi harus dipaksakan. Hubungan yang baik membutuhkan kemampuan mendengarkan, menghargai perbedaan, dan mencari jalan keluar bersama.
Ketujuh, ingin terus maju? Kurangi keluhan dan perbanyak tindakan. Mengeluh sesekali merupakan hal manusiawi. Namun, apabila terlalu lama terjebak dalam keluhan, kita dapat kehilangan kesempatan untuk mencari solusi. Jadikan setiap kesulitan sebagai dorongan untuk belajar dan memperbaiki keadaan.
Kedelapan, ingin dipercaya? Tepati janji. Kepercayaan tidak dibangun hanya melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan yang konsisten. Sekecil apa pun janji yang diberikan, usahakan untuk menepatinya. Apabila menghadapi kendala, sampaikan dengan jujur dan bertanggung jawab.
Kesembilan, ingin menjadi kuat? Beranilah menghadapi masalah. Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Kegagalan, kekecewaan, dan kesulitan merupakan bagian dari perjalanan. Kekuatan bukan berarti tidak pernah jatuh, melainkan memiliki keberanian untuk bangkit dan mencari pertolongan ketika dibutuhkan.
Kesepuluh, ingin bahagia? Belajarlah bersyukur. Kebahagiaan tidak selalu datang ketika seluruh keinginan terpenuhi. Terkadang, kebahagiaan justru hadir ketika kita mampu menghargai kesehatan, keluarga, pekerjaan, persahabatan, dan kesempatan hidup yang masih diberikan Tuhan.
Menurut saya, sepuluh prinsip tersebut mengingatkan bahwa kehidupan yang baik tidak hanya dibangun melalui keberhasilan materi, jabatan, atau pengakuan orang lain, tetapi juga melalui karakter, integritas, kedisiplinan, dan hubungan yang harmonis. Kita tidak dapat mengendalikan seluruh keadaan ataupun menentukan bagaimana orang lain memperlakukan kita. Namun, kita dapat terus memperbaiki cara berpikir, menjaga sikap, mengendalikan ucapan, dan bertanggung jawab atas keputusan sendiri.
Pada akhirnya, kesuksesan tanpa kejujuran akan kehilangan makna, kekayaan tanpa ketenangan akan terasa hampa, dan kehidupan tanpa rasa syukur akan selalu dipenuhi keinginan yang tidak pernah selesai. Jangan hanya bertanya tentang apa yang ingin kita dapatkan dari kehidupan. Bertanyalah pula tentang pribadi seperti apa yang sedang kita bangun setiap hari.
Karena kehidupan yang berhasil bukan hanya tentang memiliki lebih banyak, tetapi juga tentang menjadi manusia yang lebih baik, lebih bijaksana, lebih dapat dipercaya, dan lebih bermanfaat bagi sesama.(BN)
