Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Politik sering dipahami hanya sebagai persoalan kekuasaan, jabatan, kontestasi, dan siapa yang memenangkan dukungan masyarakat. Menurut saya, pemahaman tersebut terlalu sempit. Politik pada hakikatnya adalah ruang untuk mengelola kepentingan masyarakat melalui gagasan, kebijakan, tanggung jawab, dan keberanian mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. Semakin dewasa demokrasi, semakin tinggi pula tuntutan terhadap kualitas orang-orang yang berada di dalam dunia politik. Masyarakat tidak hanya membutuhkan tokoh yang pandai berbicara, tetapi juga mereka yang mampu mendengar, memahami persoalan, menawarkan solusi, dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil.
Politik Harus Dimulai dari Gagasan
Menurut saya, politik yang sehat harus dibangun melalui adu gagasan, bukan sekadar adu popularitas. Perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Justru melalui perbedaan itulah masyarakat dapat melihat berbagai alternatif dalam menyelesaikan persoalan. Politik akan memiliki nilai ketika perdebatan akhirnya menghasilkan kebijakan yang memberi manfaat nyata. Karena itu, seorang politisi perlu terus belajar, membaca perubahan masyarakat, memahami hukum, ekonomi, pelayanan publik, serta berbagai persoalan yang dihadapi warga.
Kekuasaan Harus Disertai Etika dan Tanggung Jawab
Kekuasaan memberikan kewenangan, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan tanggung jawab yang besar. Jabatan publik tidak boleh dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Menurut saya, kualitas seorang pemimpin justru diuji ketika ia memiliki kewenangan. Apakah kewenangan tersebut digunakan untuk melayani kepentingan masyarakat atau sekadar mempertahankan kepentingan pribadi dan kelompok. Karena itu, etika, integritas, transparansi, dan keberanian mempertanggungjawabkan keputusan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan politik.
Politik Harus Tetap Dekat dengan Masyarakat
Politik tidak boleh hanya hadir menjelang pemilu. Persoalan masyarakat berlangsung setiap hari pelayanan publik, pendidikan, lapangan pekerjaan, UMKM, lingkungan, administrasi kependudukan, perizinan, hingga kepastian hukum. Karena itu, menurut saya, politik harus hadir melalui kerja yang konsisten, kemampuan mendengar aspirasi, serta keberanian memperjuangkan solusi yang realistis. Masyarakat juga perlu diberi ruang untuk mengawasi, mengkritik, dan memberikan masukan kepada mereka yang memegang jabatan publik. Kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi.
Politik Bukan Tentang Siapa yang Paling Keras Berbicara
Dalam kehidupan politik modern, perhatian publik dapat dengan cepat berpindah karena media sosial. Pernyataan yang kontroversial terkadang lebih mudah mendapatkan perhatian daripada pekerjaan yang dilakukan secara konsisten.
Namun menurut saya, politik tidak seharusnya diukur dari siapa yang paling ramai berbicara, tetapi dari siapa yang mampu menghadirkan gagasan, menjaga integritas, dan mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada masyarakat.
Perbedaan pilihan politik juga tidak seharusnya membuat masyarakat kehilangan persaudaraan. Demokrasi memberikan ruang untuk berbeda, tetapi perbedaan tersebut harus tetap dijalankan dengan penghormatan terhadap hukum, etika, dan martabat sesama.
Pesan untuk Masyarakat
Masyarakat mempunyai posisi yang sangat penting dalam menentukan kualitas kehidupan politik. Karena itu, jangan melihat politik hanya berdasarkan slogan, popularitas, atau percakapan di media sosial. Pelajari gagasannya, lihat pekerjaannya, kritisi kebijakannya, dan awasi bagaimana kekuasaan dijalankan. Politik akan semakin berkualitas apabila masyarakat juga semakin kritis, rasional, dan berani meminta pertanggungjawaban dari mereka yang diberikan kepercayaan. Menurut saya, politik yang baik bukanlah politik yang sekadar memenangkan kekuasaan, tetapi politik yang mampu mengubah kepercayaan masyarakat menjadi kerja nyata dan kepentingan publik menjadi prioritas.
Pada akhirnya, jabatan memiliki batas waktu, tetapi integritas, pengabdian, dan manfaat yang ditinggalkan kepada masyarakat akan menjadi ukuran yang jauh lebih panjang.(BN)
