Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Pendidikan merupakan fondasi penting dalam membangun masa depan bangsa. Namun menurut saya, keberhasilan pendidikan tidak boleh hanya diukur dari jumlah lulusan, tingginya nilai akademik, atau banyaknya orang yang memperoleh pekerjaan. Pendidikan juga harus mampu melahirkan manusia yang berpikir kritis, mandiri, kreatif, dan mempunyai kemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat.
Kita perlu bertanya secara jujur: apakah sistem pendidikan kita sudah cukup mempersiapkan generasi muda untuk menjadi pencipta peluang, atau masih terlalu berorientasi menghasilkan tenaga kerja yang hanya mengikuti sistem yang telah tersedia?
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan persaingan global, pertanyaan tersebut semakin penting. Indonesia membutuhkan generasi yang bukan hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan, menguasai, dan menciptakan teknologi sendiri.
Pendidikan Harus Melahirkan Pemikir, Bukan Sekadar Pengikut
Menurut saya, pendidikan tidak boleh hanya membiasakan peserta didik menghafal jawaban, mengikuti perintah, dan mengejar nilai. Anak-anak harus diberikan kesempatan untuk bertanya, menyampaikan gagasan, menguji pemikiran, serta mencari solusi terhadap persoalan nyata. Kecerdasan bukan hanya kemampuan menjawab pertanyaan dengan benar, tetapi juga keberanian mempertanyakan sesuatu, memahami masalah, dan menemukan jalan keluar. Guru dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam membangun budaya berpikir kritis, kreativitas, kemandirian, serta keberanian mencoba hal-hal baru.
Indonesia Harus Menjadi Pencipta, Bukan Hanya Pengguna dan Pasar
Indonesia memiliki sumber daya alam, jumlah penduduk, dan potensi ekonomi yang besar. Namun potensi tersebut perlu didukung kemampuan menguasai teknologi, membangun industri, menciptakan produk, serta mengembangkan usaha yang mempunyai nilai tambah. Menurut saya, kita tidak boleh puas hanya menjadi konsumen teknologi, penyedia tenaga kerja, atau pemasok bahan mentah bagi industri yang lebih maju.
Kemajuan bangsa membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menciptakan inovasi, membangun perusahaan, mengembangkan industri nasional, dan bersaing secara global. Karena itu, pendidikan harus semakin terhubung dengan penelitian, kewirausahaan, dunia industri, dan kebutuhan nyata masyarakat. Generasi muda perlu dipersiapkan bukan hanya untuk mencari pekerjaan, tetapi juga untuk menciptakan lapangan pekerjaan.
Pendidikan Harus Membangun Kemandirian dan Keberanian Berkarya
Ijazah dan gelar akademik merupakan bagian penting dari perjalanan pendidikan, tetapi keduanya harus disertai kompetensi nyata. Pengetahuan akan semakin bernilai ketika seseorang mampu menerapkannya untuk menyelesaikan masalah. Menurut saya, pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang membentuk manusia berpengetahuan, memiliki keterampilan, berintegritas, serta mampu menghasilkan karya dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Generasi muda harus dibiasakan berpikir mandiri, berani mengambil keputusan, memahami risiko, dan belajar dari kegagalan. Mereka perlu memperoleh pengalaman melalui praktik, penelitian, pengembangan usaha, dan kegiatan yang mendorong kreativitas.
Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi benar-benar menjadi kekuatan untuk membangun kemandirian ekonomi dan kemajuan bangsa.
Pesan untuk Masyarakat
Menurut saya, kita perlu mengubah cara pandang terhadap keberhasilan pendidikan. Jangan hanya merasa bangga ketika anak memperoleh nilai tinggi, gelar akademik, atau bekerja di perusahaan besar. Kita juga perlu mendorong mereka untuk mampu berpikir mandiri, menciptakan karya, membangun usaha, menghasilkan inovasi, dan memberikan solusi bagi persoalan masyarakat. Orang tua, guru, perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha harus bersama-sama membangun lingkungan yang memberikan ruang bagi kreativitas dan keberanian berkarya.
Indonesia tidak kekurangan orang yang ingin bekerja. Tantangannya adalah bagaimana memperbesar kesempatan agar semakin banyak masyarakat mampu menciptakan pekerjaan, mengembangkan teknologi, dan membangun usaha yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, menurut saya, kemajuan bangsa tidak cukup hanya ditentukan oleh seberapa banyak sarjana yang dihasilkan, tetapi juga oleh kemampuan bangsa tersebut mengubah ilmu pengetahuan menjadi inovasi, kemandirian ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Pendidikan seharusnya tidak hanya mempersiapkan manusia untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan untuk menciptakan masa depan.(BN)
