Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 Tahun Pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Banyak orang memiliki keinginan membuka usaha dengan harapan memperoleh penghasilan lebih besar, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan mencapai kemandirian finansial. Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami, yaitu membangun usaha bukan hanya tentang menghasilkan uang, tetapi juga bagaimana menciptakan sistem agar usaha dapat bertahan dan berkembang. Tidak sedikit pelaku usaha yang setiap hari bekerja sejak pagi hingga malam, mengurus pelanggan, membeli barang, mengatur keuangan, hingga menyelesaikan seluruh persoalan sendiri. Akibatnya, ketika pemilik tidak hadir, kegiatan usaha ikut terganggu. Jika sebuah usaha hanya dapat berjalan ketika pemiliknya terus bekerja, maka usaha tersebut masih sangat bergantung pada tenaga dan waktu pemiliknya.
Ada tiga prinsip penting yang perlu diperhatikan dalam membangun usaha yang berkelanjutan.
Pertama, hitung kelayakan usaha sebelum memulai. Jangan membuka usaha hanya karena mengikuti tren atau melihat keberhasilan orang lain. Perhitungkan kebutuhan modal, biaya operasional, potensi keuntungan, risiko kerugian, dan kemampuan usaha menghasilkan pendapatan yang cukup.
Kedua, bangun sistem kerja yang jelas. Usaha yang baik membutuhkan pengelolaan keuangan, pembagian tugas, standar pelayanan, pencatatan transaksi, dan pengawasan yang teratur. Dengan sistem yang baik, kegiatan operasional tidak sepenuhnya bergantung pada kehadiran pemilik.
Ketiga, siapkan usaha untuk berkembang secara bertahap. Jangan hanya mengejar keuntungan hari ini. Sebagian keuntungan perlu digunakan untuk memperkuat modal, meningkatkan kualitas produk, mengembangkan keterampilan karyawan, dan membangun sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan.
Sebagai penggiat dan pelaku UMKM, saya melihat bahwa salah satu tantangan terbesar usaha kecil adalah bagaimana mengubah pola pikir dari sekadar berjualan menjadi membangun bisnis yang memiliki sistem dan kemampuan berkembang. Pemilik usaha harus mulai belajar menjadi pengelola dan pengembang bisnis, bukan selamanya menjadi satu-satunya orang yang mengerjakan seluruh kegiatan usaha. Tentu saja, membangun sistem membutuhkan waktu, modal, pengalaman, dan sumber daya manusia yang dapat dipercaya. Proses tersebut tidak dapat dilakukan secara instan, terutama bagi usaha yang baru dirintis.
Menurut saya, keberhasilan usaha bukan hanya diukur dari besarnya omzet atau keuntungan, tetapi juga dari kemampuan usaha bertahan, menciptakan lapangan kerja, dan terus berkembang tanpa ketergantungan berlebihan pada pemiliknya. Karena itu, jangan hanya bertanya berapa banyak uang yang dapat dihasilkan dari sebuah usaha. Bertanyalah juga apakah usaha tersebut memiliki sistem yang baik, mampu menghadapi perubahan, dan dapat memberikan penghasilan secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, tujuan membangun usaha bukan sekadar menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri, tetapi membangun aset produktif yang memberikan manfaat bagi keluarga, karyawan, dan masyarakat. Jangan hanya bekerja keras di dalam usaha. Belajarlah bekerja cerdas membangun sistem usaha, agar suatu hari bisnis dapat terus berjalan, berkembang, dan memberikan manfaat meskipun pemiliknya tidak selalu hadir.(BN)
