Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Joko Widodo atau Jokowi tetap menjadi salah satu figur yang mendapat perhatian besar dalam politik Indonesia setelah menyelesaikan dua periode kepemimpinannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Dalam perkembangan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), kedekatan Jokowi dengan partai ini juga semakin terlihat. Pada Juni 2026, Jokowi menghadiri kegiatan PSI di Lampung dan mengenakan atribut PSI. Pada periode yang sama, Sekjen PSI Raja Juli Antoni menyebut posisi Jokowi saat itu sebagai mentor, motivator, serta “bapak ideologis”, sementara posisi struktural formalnya belum diumumkan. Menurut saya, kehadiran Jokowi mempunyai pengaruh tersendiri terhadap dinamika PSI. Pengalaman panjangnya dalam pemerintahan dan politik memberikan perhatian publik yang besar setiap kali dirinya hadir dalam kegiatan partai. Namun pengaruh figur tersebut seharusnya dilihat sebagai salah satu unsur dalam pembangunan partai, bukan satu-satunya kekuatan. Survei Lembaga Pemilih Indonesia pada 10–17 Juni 2026 terhadap 1.922 responden di 32 provinsi menemukan 70,2 persen responden menilai kedekatan PSI dengan Jokowi dapat meningkatkan citra positif PSI. Survei yang sama mencatat 77,8 persen responden menilai Jokowi memiliki pengaruh terhadap dukungan masyarakat kepada PSI. Temuan ini menggambarkan kuatnya peran figur dalam persepsi politik, tetapi tetap merupakan hasil satu survei pada periode tertentu dan tidak dengan sendirinya menentukan pilihan masyarakat pada pemilu mendatang.
PENGARUH TOKOH HARUS DIIKUTI KEKUATAN ORGANISASI
Menurut saya, tokoh dapat memberikan perhatian, pengalaman, serta semangat kepada sebuah partai. Namun partai politik yang ingin tumbuh harus mempunyai organisasi yang kuat sampai ke tingkat paling bawah. Jokowi sendiri ketika menghadiri kegiatan PSI di Bandar Lampung pada Juni 2026 menekankan pentingnya menggerakkan struktur partai hingga tingkat bawah dalam menghadapi Pemilu 2029. Karena itu, tantangan PSI bukan hanya bagaimana memanfaatkan perhatian publik terhadap Jokowi, tetapi bagaimana membangun kader yang berkualitas, memperkuat struktur, meningkatkan pendidikan politik, dan menghadirkan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
DARI PENGARUH FIGUR MENJADI KERJA NYATA
Menurut saya, popularitas seorang tokoh harus diterjemahkan menjadi kerja nyata. Masyarakat pada akhirnya akan menilai partai dari apa yang dilakukan oleh kader dan wakil rakyatnya. Di daerah, pekerjaan tersebut berarti hadir dalam persoalan sehari-hari masyarakat: pelayanan publik, lapangan pekerjaan, UMKM, pendidikan, kesehatan, lingkungan, hukum, serta berbagai kebutuhan sosial lainnya. Jokowi dapat memberikan pengalaman dan perhatian terhadap PSI, tetapi keberlanjutan sebuah partai tetap membutuhkan regenerasi, kaderisasi, dan kemampuan membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat.
PSI HARUS MEMILIKI IDENTITAS DAN KADER YANG KUAT
Menurut saya, PSI juga harus membangun identitas politik yang dapat dipahami masyarakat melalui sikap, program, serta perilaku kadernya. Partai yang kuat tidak hanya dikenal karena satu atau beberapa tokohnya. Partai harus memiliki kader yang mampu bekerja di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan hingga kelurahan. Kehadiran Jokowi dapat menjadi bagian dari perjalanan politik PSI. Namun tantangan yang lebih besar adalah bagaimana PSI mengembangkan organisasi yang mampu bertahan, tumbuh, dan mendapatkan kepercayaan masyarakat melalui kerja yang konsisten. Menurut saya, pengaruh Jokowi terhadap PSI merupakan modal politik yang penting, tetapi modal tersebut harus diterjemahkan menjadi konsolidasi organisasi, kaderisasi, gagasan, dan kerja nyata. Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan menilai. Tokoh dapat membuka perhatian terhadap sebuah partai, tetapi kepercayaan hanya dapat dijaga melalui integritas, konsistensi, dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
