Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan bangunan, tetapi juga ketakutan, kehilangan, dan ketidakpastian. Karena itu, menurut saya, kehadiran langsung di tengah masyarakat yang sedang menghadapi bencana mempunyai arti yang sangat besar.
Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi masyarakat terdampak gempa di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Rabu, 16 September 2026. Jokowi berdialog dengan warga, melihat kondisi masyarakat, menyerahkan bantuan, serta bermalam bersama para penyintas di lokasi pengungsian. Kehadiran tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Salah satu ungkapan warga yang menarik perhatian adalah bahwa kehadiran Jokowi membuat mereka merasa “tidak sendirian” menghadapi bencana.
Menurut saya, kalimat tersebut mempunyai makna yang sangat dalam. Dalam keadaan sulit, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan material, tetapi juga perhatian, kepedulian, dan keyakinan bahwa masih ada pihak yang datang untuk melihat dan mendengar keadaan mereka. Masyarakat terdampak bencana membutuhkan proses pemulihan yang panjang. Rumah harus dibangun kembali, fasilitas umum diperbaiki, kegiatan ekonomi dipulihkan, dan rasa aman masyarakat harus dikembalikan. Karena itu, perhatian tidak boleh berhenti ketika pemberitaan mengenai bencana mulai berkurang.
Menurut saya, solidaritas harus terus dijaga sampai masyarakat benar-benar mampu bangkit. Pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, komunitas, dan seluruh elemen masyarakat dapat mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing. Kita mungkin tidak dapat menghilangkan seluruh kesedihan akibat bencana, tetapi kita dapat memastikan bahwa masyarakat terdampak tidak merasa berjuang sendirian.
Kunjungan Jokowi ke Pulau Palue menjadi pengingat bahwa di balik angka kerusakan terdapat keluarga dan masyarakat yang sedang berusaha membangun kembali kehidupannya. Kepedulian akan menjadi lebih berarti ketika diwujudkan melalui kehadiran, perhatian, dan tindakan nyata. Semoga masyarakat Pulau Palue dan seluruh warga terdampak diberikan kekuatan untuk bangkit dan kembali menjalani kehidupan dengan penuh harapan.
