Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 Tahun Pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Setiap orang tua tentu menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang berhasil, sehat, bahagia, dan memiliki masa depan yang baik. Berbagai pengorbanan dilakukan, mulai dari bekerja keras, memberikan pendidikan terbaik, hingga mempersiapkan kebutuhan mereka agar mampu menghadapi kehidupan. Namun, ada satu kenyataan yang harus kita terima, yaitu orang tua tidak akan selamanya dapat mendampingi, melindungi, atau menentukan setiap keputusan dalam kehidupan anak-anaknya.
Seiring bertambahnya usia, anak-anak akan menghadapi dunia dengan berbagai tantangan, kegagalan, kekecewaan, dan keputusan yang harus mereka ambil sendiri. Pada saat itulah pendidikan, nilai kehidupan, dan iman yang ditanamkan sejak kecil menjadi bekal yang sangat berharga. Tugas orang tua bukan memastikan anak tidak pernah menghadapi kesulitan, tetapi mempersiapkan mereka agar memiliki kekuatan, kebijaksanaan, dan keberanian untuk menghadapinya.
Kita boleh berdoa agar anak-anak memperoleh keberhasilan. Namun, jangan hanya memohon agar mereka mendapatkan pekerjaan yang baik, penghasilan besar, atau kedudukan tinggi. Berdoalah juga agar mereka memiliki hati yang baik, kejujuran, kerendahan hati, dan keteguhan iman. Ketika anak berhasil, semoga mereka tidak menjadi sombong dan tetap mengingat Tuhan serta orang-orang yang telah mendukung perjuangannya. Ketika mengalami kegagalan, semoga mereka tidak kehilangan harapan, tetapi memiliki kekuatan untuk bangkit dan mencoba kembali.
Kesuksesan yang sesungguhnya bukan hanya ketika anak mampu mengumpulkan kekayaan, melainkan ketika ia tetap memiliki karakter yang baik, menghormati sesama, dan tidak kehilangan nilai-nilai kehidupannya. Sebagai orang tua, kita juga perlu memahami bahwa kasih sayang tidak selalu berarti memberikan segala sesuatu yang diinginkan anak. Terkadang, kasih sayang justru diwujudkan melalui nasihat, ketegasan, disiplin, keteladanan, dan kesempatan bagi anak untuk belajar bertanggung jawab. Jangan sampai keinginan melihat anak sukses secara materi membuat kita melupakan pembentukan moral dan spiritual mereka. Jangan mengajarkan anak mengejar keberhasilan dengan mengorbankan kejujuran, kebaikan, atau imannya kepada Tuhan.
Dalam kehidupan keluarga Kristiani, doa merupakan bagian penting dalam mendampingi pertumbuhan anak. Kita menyerahkan masa depan mereka ke dalam penyertaan Tuhan, sambil tetap menjalankan tanggung jawab untuk mendidik, membimbing, dan memberikan teladan yang baik. Menurut saya, semakin bertambah usia, semakin kita menyadari bahwa warisan terbaik bagi anak bukan semata-mata rumah, tanah, tabungan, atau harta benda, melainkan nilai kehidupan yang akan terus mereka pegang ketika orang tua tidak lagi berada di samping mereka.
Pada akhirnya, orang tua mungkin tidak mampu melindungi anak dari setiap badai kehidupan, tetapi dapat membekali mereka dengan iman, karakter, dan keberanian untuk tetap berdiri ketika badai datang. Teruslah mendoakan anak-anak kita. Bukan hanya agar mereka berhasil, tetapi juga agar mereka tetap rendah hati saat berada di atas, kuat ketika terjatuh, bijaksana dalam mengambil keputusan, dan tidak pernah melupakan Tuhan. Karena kebahagiaan terbesar orang tua bukan sekadar melihat anak menjadi orang kaya atau memiliki jabatan tinggi, tetapi menyaksikan mereka tumbuh menjadi manusia yang baik, beriman, mandiri, dan membawa manfaat bagi sesama.
Harta dapat habis, jabatan dapat berakhir, tetapi iman, karakter, dan nilai kebaikan yang ditanamkan orang tua dapat menjadi bekal sepanjang kehidupan anak-anaknya.(BN)
