Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Pelaksanaan Manajemen Talenta Nasional Lab x Balige Writers Festival 2026: Emerging Writers patut mendapatkan apresiasi. Kegiatan yang dihadiri Wakil Bupati Toba, Audi Murphy O. Sitorus, tersebut menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan menulis, memperkuat kecintaan terhadap sastra, sekaligus mendokumentasikan kekayaan budaya daerah. Balige Writers Festival 2026 berlangsung pada 21–24 Mei 2026 di Kompleks Pizza Andaliman, Balige. Kegiatan berupa lokakarya penulisan cerita pendek tersebut menghadirkan penulis nasional Benny Arnas sebagai mentor dan diikuti oleh 11 penulis dari berbagai daerah. Pemerintah Kabupaten Toba menilai festival ini telah melalui perjalanan panjang dan menjadi bukti konsistensi komunitas sastra dalam membangun budaya literasi di Sumatera Utara.
Menurut pandangan saya, kegiatan seperti ini sangat positif karena menulis bukan hanya milik sastrawan, wartawan, akademisi, atau mereka yang memiliki gelar tinggi. Pada dasarnya, menulis dapat dilakukan oleh siapa saja. Syarat awalnya adalah mampu membaca, memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, dan berani memulai. Seseorang tidak perlu langsung menulis buku setebal ratusan halaman. Menulis dapat dimulai dari satu paragraf mengenai pengalaman hidup, sejarah keluarga, kegiatan masyarakat, kebudayaan daerah, persoalan lingkungan, perjalanan wisata, ataupun pandangan terhadap suatu peristiwa. Dari satu paragraf dapat berkembang menjadi satu halaman, satu artikel, bahkan sebuah buku.
Pada era digital, media untuk menulis juga semakin terbuka. Masyarakat tidak lagi harus menunggu tulisannya diterbitkan oleh surat kabar atau penerbit besar. Tulisan dapat disampaikan melalui Facebook, blog, media daring, Instagram, WhatsApp, serta berbagai platform digital lainnya. Telepon genggam yang setiap hari berada di tangan kita bahkan telah menjadi alat untuk membaca, menulis, menyunting, dan memublikasikan karya. Namun, kemudahan tersebut harus diikuti dengan tanggung jawab. Seorang penulis harus memeriksa kebenaran informasi, mencantumkan sumber, menggunakan bahasa yang santun, serta menghindari berita bohong, fitnah, penghinaan, dan tulisan yang dapat memecah persatuan. Kebebasan menulis harus digunakan untuk menyampaikan pengetahuan, membangun kesadaran, menjaga kebudayaan, serta memberikan solusi bagi masyarakat.
Menulis untuk Menjaga Budaya dan Sejarah Toba
Kabupaten Toba memiliki kekayaan budaya yang sangat besar. Sejarah masyarakat Batak, bahasa daerah, adat istiadat, ulos, musik tradisional, kuliner, cerita rakyat, perjuangan para tokoh, kehidupan masyarakat di sekitar Danau Toba, hingga nilai-nilai Dalihan Na Tolu merupakan sumber tulisan yang tidak akan pernah habis. Apabila kekayaan tersebut hanya disampaikan secara lisan, sebagian informasi dapat hilang atau mengalami perubahan ketika diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Namun, apabila dituliskan dan diterbitkan, pengetahuan tersebut dapat dibaca dan dipelajari oleh anak cucu, bahkan dikenal oleh masyarakat dunia. Karena itu, Balige Writers Festival bukan sekadar acara seremonial. Festival ini dapat menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat Toba. Dari kegiatan ini diharapkan lahir penulis muda, novelis, penyair, wartawan, penulis sejarah, penulis cerita anak, serta kreator digital yang mampu memperkenalkan Toba dan kebudayaan Batak ke tingkat nasional maupun internasional.
Festival Harus Menghasilkan Karya Nyata
Saya menyarankan agar Balige Writers Festival terus diselenggarakan setiap tahun dengan jumlah dan latar belakang peserta yang lebih luas. Pemerintah daerah dapat melibatkan sekolah, perguruan tinggi, perpustakaan, komunitas adat, sanggar seni, gereja, tokoh masyarakat, pelaku pariwisata, media massa, dan pelaku UMKM. Kegiatan ini sebaiknya tidak berhenti pada seminar dan lokakarya. Tulisan para peserta perlu dikurasi dan diterbitkan dalam bentuk buku antologi, jurnal kebudayaan, majalah digital, ataupun konten media daring. Dengan demikian, peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga menghasilkan karya nyata yang dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Perlu pula diselenggarakan lomba menulis bagi pelajar, guru, mahasiswa, aparatur desa, pelaku UMKM, tokoh adat, dan masyarakat umum. Pemerintah daerah juga dapat memberikan penghargaan tahunan kepada penulis, pegiat literasi, perpustakaan desa, sekolah, serta komunitas yang aktif menjaga budaya membaca dan menulis.
Dari Balige Menuju Festival Penulis Nasional
Saya berharap kegiatan seperti Balige Writers Festival tidak hanya berkembang di Kabupaten Toba, tetapi juga dilaksanakan di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia. Balige dapat menjadi salah satu pelopor lahirnya jaringan festival penulis daerah yang kemudian dipertemukan dalam sebuah Festival Penulis Nasional Indonesia. Festival tersebut dapat menjadi tempat bertemunya penulis dari berbagai daerah, bahasa, suku, agama, dan latar belakang. Setiap daerah dapat membawa cerita, sejarah, kebudayaan, serta kearifan lokalnya masing-masing. Dari sinilah literasi dapat menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan Indonesia.
Perlukah Hari Menulis Nasional?
Sampai saat ini, belum terdapat peringatan resmi pemerintah Indonesia yang secara khusus bernama Hari Menulis Nasional. Indonesia telah memperingati Hari Buku Nasional setiap 17 Mei, sedangkan Hari Literasi Internasional diperingati setiap 8 September. Kedua momentum tersebut sama-sama menegaskan pentingnya membaca, menulis, dan literasi bagi kemajuan bangsa. Menurut saya, pemerintah bersama komunitas literasi, organisasi penulis, perguruan tinggi, dan Perpustakaan Nasional dapat mempertimbangkan penetapan Hari Menulis Nasional. Hari tersebut bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk menggerakkan masyarakat Indonesia menulis secara serentak, mulai dari pelajar, guru, mahasiswa, pekerja, petani, nelayan, pelaku UMKM, aparatur pemerintah, hingga masyarakat lanjut usia. Bangsa yang rajin membaca akan memiliki pengetahuan. Bangsa yang rajin menulis akan meninggalkan pemikiran, sejarah, dan peradaban. Mari membaca untuk memperluas wawasan, menulis untuk mengabadikan gagasan, dan berkarya untuk meninggalkan sesuatu yang berguna bagi generasi berikutnya.
Dari Balige, semangat menulis harus bergema ke seluruh Indonesia.
