Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok Komisi A dan Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Indonesia tidak dibangun hanya oleh pemerintah, dunia usaha, atau kelompok tertentu. Bangsa ini tumbuh karena adanya kebersamaan, kepedulian, dan semangat gotong royong yang hidup di tengah masyarakat. Gotong royong telah lama menjadi bagian dari kehidupan bangsa Indonesia. Ketika ada warga yang mengalami kesulitan, masyarakat hadir untuk saling membantu tanpa mempersoalkan perbedaan suku, agama, pekerjaan, maupun pilihan politik.
Semangat kebersamaan inilah yang harus terus dijaga.
Menurut saya, berbagai tantangan bangsa tidak mungkin diselesaikan oleh satu orang atau satu lembaga saja. Kemiskinan, pengangguran, persoalan pendidikan, kesehatan, lingkungan, bencana alam, ketahanan pangan, dan ketimpangan membutuhkan kerja sama seluruh unsur masyarakat. Pemerintah mempunyai kewenangan untuk membuat kebijakan dan menyediakan anggaran. Dunia usaha memiliki modal, teknologi, jaringan, dan kemampuan membuka lapangan pekerjaan. Perguruan tinggi mempunyai ilmu pengetahuan dan hasil penelitian. Sementara itu, masyarakat memahami kebutuhan serta persoalan yang terjadi di lingkungannya.
Apabila seluruh kekuatan tersebut bergerak bersama, persoalan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan tepat.
Gotong royong tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan besar. Membantu tetangga yang sakit, membersihkan lingkungan, menjaga keamanan, mendampingi anak belajar, membeli produk UMKM, atau membantu warga memperoleh pelayanan publik merupakan bentuk gotong royong yang nyata. Hal-hal sederhana dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten. Dalam menghadapi tantangan ekonomi, semangat gotong royong sangat dibutuhkan. Perusahaan besar dapat membuka kemitraan dengan UMKM. Masyarakat dapat mendukung produk lokal. Pemerintah dapat menyediakan pelatihan, akses permodalan, dan kesempatan pasar. Dengan kerja sama tersebut, pelaku usaha kecil tidak perlu berjuang sendirian. Mereka dapat berkembang, meningkatkan pendapatan, serta menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Anak muda juga harus mengambil peran. Lembaga pendidikan dapat menyiapkan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan zaman, dunia usaha membuka program magang, dan pemerintah menciptakan kebijakan yang mendukung kewirausahaan.
Generasi muda harus didorong tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga berani menciptakan lapangan pekerjaan.
Dalam bidang pendidikan, gotong royong diperlukan untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal. Sekolah, keluarga, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat harus bekerja sama menciptakan lingkungan belajar yang aman dan berkualitas. Anak-anak dari keluarga kurang mampu membutuhkan dukungan agar tetap dapat bersekolah. Mereka memerlukan buku, teknologi, pendampingan, serta ruang untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya.
Pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru dan sekolah, tetapi tanggung jawab kita bersama.
Gotong royong juga penting dalam bidang kesehatan. Masyarakat perlu menjaga kebersihan dan menerapkan pola hidup sehat. Tenaga kesehatan memberikan pelayanan dan edukasi, sedangkan pemerintah memastikan tersedianya fasilitas, obat-obatan, serta perlindungan kesehatan yang terjangkau. Ketika ada warga yang sakit atau mengalami kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan, lingkungan sekitar harus menunjukkan kepedulian. Jangan sampai seseorang menghadapi persoalan berat seorang diri karena tidak memiliki biaya, informasi, atau pendampingan. Semangat kebersamaan juga selalu terlihat ketika Indonesia menghadapi bencana. Saat terjadi banjir, gempa bumi, tanah longsor, atau kebakaran, bantuan datang dalam bentuk makanan, pakaian, tenaga, tempat tinggal sementara, layanan kesehatan, dan dukungan psikologis.
Namun, gotong royong tidak boleh hanya muncul setelah bencana terjadi. Kerja sama juga diperlukan dalam pencegahan, edukasi, penataan lingkungan, dan pembangunan yang memperhatikan keselamatan masyarakat. Dalam menjaga lingkungan, semua pihak harus terlibat. Persoalan sampah, banjir, pencemaran, berkurangnya ruang terbuka hijau, dan rusaknya sumber air tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah atau petugas kebersihan. Masyarakat harus ikut menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, melakukan penghijauan, dan merawat fasilitas umum.
Menjaga lingkungan merupakan bentuk gotong royong untuk melindungi kehidupan generasi sekarang dan masa depan.
Menurut saya, semangat gotong royong juga harus hadir dalam kehidupan politik. Perbedaan pilihan tidak boleh memecah persaudaraan. Pemilu seharusnya menjadi sarana memilih pemimpin, bukan alasan untuk saling membenci. Setelah pemilu selesai, seluruh unsur bangsa harus kembali bekerja bersama untuk kepentingan masyarakat. Perbedaan pendapat merupakan bagian dari demokrasi, tetapi kepentingan bangsa harus tetap ditempatkan di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Pemerintah harus terbuka terhadap kritik dan masukan. Pada saat yang sama, kritik juga perlu disampaikan secara bertanggung jawab serta bertujuan memperbaiki keadaan.
Gotong royong juga harus menjadi dasar pelayanan publik. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga terkait tidak boleh bekerja sendiri-sendiri. Ketika masyarakat melaporkan jalan rusak, persoalan administrasi, sengketa tanah, kesulitan layanan kesehatan, atau masalah sosial, seluruh lembaga terkait harus berkoordinasi untuk memberikan penyelesaian.
Masyarakat tidak membutuhkan saling melempar tanggung jawab. Masyarakat membutuhkan solusi.
Perkembangan teknologi dapat digunakan untuk memperkuat gotong royong. Media sosial dan platform digital bisa menjadi sarana menyampaikan informasi, menggalang bantuan, mempromosikan UMKM, serta menghubungkan masyarakat dengan pelayanan publik. Namun, teknologi harus digunakan secara bijak. Jangan sampai media sosial justru menjadi tempat menyebarkan kebencian, fitnah, dan informasi palsu yang merusak persatuan.
Kemajuan teknologi harus memperkuat solidaritas, bukan memperbesar perpecahan.
Bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang tidak memiliki masalah. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Indonesia memiliki penduduk yang besar, kekayaan alam yang melimpah, keragaman budaya, dan generasi muda yang kreatif. Semua potensi tersebut akan menjadi kekuatan luar biasa apabila dipersatukan melalui semangat gotong royong. Karena itu, nilai gotong royong harus terus ditanamkan dalam keluarga, sekolah, lingkungan kerja, organisasi masyarakat, lembaga pemerintahan, dan kehidupan politik. Anak-anak harus dibiasakan untuk berbagi, membantu, menghargai perbedaan, dan menjaga lingkungan. Para pemimpin juga harus memberikan contoh dengan bekerja bersama masyarakat dan tidak membangun jarak dengan rakyat.
Gotong royong bukan sekadar warisan budaya yang dibicarakan dalam pidato. Gotong royong harus menjadi cara bekerja dan cara menyelesaikan persoalan.
Mari mengurangi perbedaan yang tidak perlu dan memperbesar ruang kerja sama. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, tokoh agama, tokoh adat, serta generasi muda harus bergerak menuju tujuan yang sama. Dengan kebersamaan, tantangan sebesar apa pun akan terasa lebih ringan. Masyarakat yang sedang mengalami kesulitan akan mendapatkan dukungan, sedangkan mereka yang memiliki kemampuan dapat memberikan manfaat kepada sesamanya.
Indonesia akan semakin kokoh apabila seluruh rakyat saling menjaga, membantu, dan menguatkan.
Sebab masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh kemampuan kita untuk berdiri dan bergerak bersama.
