Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Ungkapan “berani berkata benar saat semua diam, itulah bentuk tertinggi kecerdasan” mengandung pesan yang sangat dalam. Menurut saya, keberanian untuk menyuarakan kebenaran adalah sikap yang tidak selalu mudah dilakukan, tetapi sangat penting untuk dijaga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dalam banyak keadaan, orang sering memilih diam. Ada yang diam karena takut, ada yang diam karena tidak ingin berbeda, dan ada juga yang diam karena merasa persoalan tersebut bukan urusannya. Padahal, ketika kebenaran diketahui tetapi tidak disuarakan, maka ruang bagi ketidakadilan bisa menjadi semakin besar.
Kebenaran Membutuhkan Keberanian
Berkata benar bukan hanya soal pandai berbicara. Berkata benar membutuhkan keberanian, kejujuran, dan tanggung jawab. Seseorang yang berani menyampaikan kebenaran harus siap menghadapi risiko, perbedaan pendapat, bahkan penolakan. Namun menurut saya, justru di situlah nilai moral seseorang diuji. Kecerdasan tidak hanya diukur dari seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi juga dari bagaimana seseorang menggunakan akal budinya untuk membela yang benar, menjaga keadilan, dan melindungi kepentingan banyak orang.
Diam Tidak Selalu Bijak
Dalam situasi tertentu, diam memang bisa menjadi pilihan yang baik. Tetapi tidak semua diam adalah kebijaksanaan. Jika diam membuat kebohongan tumbuh, kesalahan dibiarkan, atau ketidakadilan semakin kuat, maka diam bukan lagi sikap netral. Diam justru dapat menjadi bentuk pembiaran. Karena itu, menurut saya, masyarakat perlu memiliki keberanian moral untuk mengatakan yang benar, meskipun tidak selalu populer. Kebenaran kadang tidak terdengar nyaman, tetapi tetap perlu disampaikan dengan cara yang baik, santun, dan bertanggung jawab.
Kebenaran Harus Disampaikan dengan Etika
Keberanian berkata benar juga harus disertai etika. Menyampaikan kebenaran bukan berarti bebas melukai, menghina, atau merendahkan orang lain. Kebenaran tetap harus disampaikan dengan bahasa yang baik, niat yang lurus, serta tujuan untuk memperbaiki keadaan, bukan memperkeruh suasana. Di era sekarang, ketika informasi begitu cepat menyebar, masyarakat juga harus cerdas membedakan mana kritik yang membangun dan mana sekadar serangan yang menyesatkan. Keberanian yang sejati bukan keberanian untuk gaduh, tetapi keberanian untuk jujur dan bertanggung jawab.
Menjadi Pribadi yang Teguh
Menurut saya, bangsa ini membutuhkan lebih banyak pribadi yang berani berdiri di pihak kebenaran. Di lingkungan keluarga, tempat kerja, organisasi, maupun dunia politik, keberanian seperti ini sangat dibutuhkan agar nilai kejujuran dan keadilan tetap hidup. Pada akhirnya, berani berkata benar saat semua diam adalah bukti bahwa seseorang tidak hanya mempunyai kecerdasan, tetapi juga mempunyai karakter. Kebenaran harus tetap disuarakan, sebab dari sanalah kepercayaan, keadilan, dan masa depan yang lebih baik dapat dibangun. Kalau mau, saya juga bisa bantu buatkan versi lebih simple, lebih singkat untuk caption, atau langsung dibuat format poster landscape.(BN)
