Oleh: Binton Jhonson Nadapdap.,S,Sos.,S.H.,M.M.,M.H.
Penulis, pemerhati seni, dan kolektor lukisan
Dunia seni rupa Indonesia berduka. Pelukis dan perupa kenamaan Indonesia, Nasirun, meninggal dunia pada Sabtu, 1 Agustus 2026, sekitar pukul 05.58 WIB di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Seniman kelahiran Cilacap tersebut berpulang pada usia 60 tahun dan dimakamkan di Makam Seniman Girisapto, Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya, Binton Jhonson Nadapdap, sebagai penulis, pemerhati seni, dan kolektor lukisan, menyampaikan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Maestro Nasirun. Indonesia kehilangan seorang seniman besar yang tidak hanya meninggalkan lukisan, tetapi juga mewariskan pemikiran, spiritualitas, kekayaan tradisi, dan perjalanan kebudayaan bangsa. Semoga seluruh amal baik almarhum diterima Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan,
Kenangan Pribadi Bersama Nasirun
Bagi saya, kepergian Nasirun juga menghadirkan rasa kehilangan secara pribadi. Beberapa lukisan karya Nasirun menjadi bagian dari koleksi seni yang saya miliki dan rawat hingga saat ini. Karya-karya tersebut bukan sekadar benda koleksi ataupun investasi, melainkan bagian dari perjalanan penting seni rupa Indonesia. Saya pernah bertemu dan berbincang langsung dengan Nasirun dalam sebuah acara yang mempertemukan pemilik galeri, kolektor, seniman, dan pelaku seni di kawasan Kemayoran, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, kami berbincang mengenai karya-karyanya, gagasan di balik lukisan, serta caranya mengolah tradisi dan kehidupan menjadi bahasa visual yang khas. Saya masih mengingat perbincangan kami mengenai karya-karyanya. Nasirun berbicara dengan penuh semangat tentang lukisan dan proses berkesenian. Pertemuan tersebut sekarang menjadi kenangan yang sangat berharga. Sebagai pemilik beberapa lukisannya, saya merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk terus merawat, mendokumentasikan, dan menjaga karya-karya beliau.
Perjalanan Hidup dan Pendidikan
Nasirun lahir di Cilacap, Jawa Tengah, pada 1 Oktober 1965. Pada 1983, ia hijrah ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan seni. Ia mempelajari seni kriya batik sebelum mendalami seni murni dan seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia, yang kemudian menjadi Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Nasirun tercatat menyelesaikan pendidikan di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta pada 1994. Latar belakang pendidikan seni kriya batik dan seni murni memberikan kekuatan tersendiri pada karya-karyanya. Ia mampu mengolah corak dekoratif, simbol, warna, cerita rakyat, dan unsur spiritual menjadi karya kontemporer yang memiliki karakter kuat. Perjalanan hidupnya sebagai seniman tidak selalu mudah. Ia menjalani masa awal dengan penuh perjuangan, tetapi tetap konsisten melukis dan tidak meninggalkan jalan kesenian yang telah dipilihnya. Pameran tunggal pertamanya diselenggarakan di Mirota Kampus, Yogyakarta, pada 1993. Namanya kemudian semakin dikenal luas, terutama ketika karya-karyanya mendapat perhatian besar dari kolektor dan masyarakat seni, menjelang serta setelah era Reformasi.
Tradisi, Wayang, dan Spiritualitas
Nasirun dikenal sebagai pelukis yang kuat dalam mengolah unsur kebudayaan Jawa, wayang, dongeng mistik, legenda, mitologi, kaligrafi, dan spiritualitas Islam. Inspirasi mengenai cerita rakyat dan dunia mistik antara lain diperolehnya dari sang ibu, sedangkan pemahaman spiritual dan tasawuf dipengaruhi oleh kehidupan ayahnya. Di tangan Nasirun, tradisi tidak sekadar dipindahkan ke atas kanvas. Ia menafsirkan kembali warisan budaya tersebut dan menghubungkannya dengan persoalan manusia, lingkungan, kehidupan sosial, serta fenomena zaman. Ciri khas karya Nasirun terlihat dari penggunaan warna-warna kuat, figur imajinatif, bentuk ornamental, simbol budaya, serta suasana spiritual. Karya-karyanya sering terasa ramai, ekspresif, misterius, sekaligus mengandung humor dan perenungan. Nasirun juga tidak membatasi kreativitasnya hanya pada kanvas. Ia pernah melukis di atas kayu, meja, kursi, kemasan, surat undangan, kaleng, benda bekas, hingga kendaraan. Eksplorasi tersebut memperlihatkan bahwa baginya, hampir setiap benda dapat dihidupkan kembali menjadi karya seni.
Karya-Karya Penting Nasirun
Sejumlah karya Nasirun yang banyak didokumentasikan dalam pameran dan galeri seni antara lain: Abstraction of Nature’s Aura, Ibu Pertiwi, Rajah, Sultan Seni Rupa, Jailangkung, Arjuna Memanah, Sudut Maha Karya, Meditation, LOVE/CINTA, My Ship, My Ocean, dan Darwis. Karya lainnya yang dikenal masyarakat seni meliputi Ibu Jangan Menangis, Jangan Menangis Ibu Pertiwi, Ibu Pertiwi Tetap Optimis, Imajinasi Dasamuka, Imaji Blawong, serta Kerja… Kerja… Kerja…. Tidak mudah memilih satu lukisan sebagai karya Nasirun yang paling terkenal karena perjalanan kreatifnya sangat panjang dan produktif. Namun, tema mengenai Ibu Pertiwi, wayang, spiritualitas, ingatan budaya, serta hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta menjadi benang merah yang sering muncul dalam karya-karyanya.
Pameran dan Pengakuan Dunia Seni
Nasirun telah mengikuti ratusan pameran di dalam maupun luar negeri. Sejumlah pameran tunggal pentingnya antara lain Ojo Ngono di Galeri Nasional Indonesia, Magical Journey di Nadi Gallery Jakarta, Salam Bekti di Sangkring Art Space, Uwuh Seni di Galeri Salihara, serta The Breath of Nasirun: Metamorphosis of Tradition di Mizuma Art Gallery, Tokyo. Ia juga menggelar RUN: Embracing Diversity di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Wirid on Canvas di Yogyakarta, Menafsir Borobudur di Jakarta, Metajagad Nasirun, dan Perayaan Persahabatan di OHD Museum, Magelang. Karya-karyanya pernah hadir dalam berbagai perhelatan seni di Jepang, Singapura, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, China, Malta, dan sejumlah negara lainnya. Kehadiran tersebut menunjukkan bahwa bahasa visual Nasirun mampu berbicara melampaui batas geografis, meskipun akar karya-karyanya tetap kuat pada kebudayaan Indonesia.
Penghargaan dan Prestasi
Sejak menjalani pendidikan seni, kemampuan Nasirun telah mendapatkan pengakuan. Ia pernah memperoleh Penghargaan Sketsa dan Seni Lukis Terbaik ISI Yogyakarta, McDonald Award pada Lustrum X ISI Yogyakarta, serta Philip Morris Indonesia Art Award pada 1997. Nasirun juga dipercaya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk terlibat dalam program Belajar Bersama Maestro. Melalui program tersebut, para peserta terpilih memperoleh kesempatan belajar secara langsung mengenai proses kreatif dan kehidupan berkesenian bersama Nasirun. Selain menjadi pelukis, Nasirun juga dikenal sebagai kolektor seni. Di kediamannya, ia menyimpan berbagai karya penting seniman Indonesia, termasuk karya-karya yang memiliki nilai sejarah dan tidak selalu ditemukan dalam koleksi museum pemerintah. Kegemarannya mengoleksi menunjukkan bahwa ia tidak hanya membangun namanya sendiri, tetapi juga ikut menjaga jejak perjalanan para seniman lainnya.
Informasi Mengenai Penyebab Meninggalnya
Berdasarkan informasi awal yang diberitakan sejumlah media, sebelum meninggal dunia Nasirun mengalami keluhan sesak napas dan sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit. Sejumlah pemberitaan menyebutkan bahwa ia mengalami henti jantung. Sementara itu, terdapat keterangan bahwa dalam beberapa waktu terakhir Nasirun sempat mengeluhkan sakit pada bagian dada dan gangguan asam lambung. Namun, informasi mengenai penyebab medis tersebut perlu disampaikan secara hati-hati. Sampai tulisan ini disusun, belum ditemukan keterangan medis resmi dan terperinci dari rumah sakit atau keluarga yang menjelaskan diagnosis akhir penyebab wafatnya. Oleh karena itu, informasi mengenai henti jantung dan keluhan kesehatan sebelumnya sebaiknya dipahami sebagai keterangan awal yang diberitakan media, bukan sebagai kesimpulan medis yang lengkap. Kepergian Nasirun terasa sangat mendadak. Sehari sebelumnya, ia disebut masih beraktivitas dan berbincang dengan orang-orang di sekitarnya. Ia juga masih menyiapkan berbagai agenda kesenian dan rencana pameran.
Lukisan sebagai Warisan Peradaban
Sebagai seorang kolektor, saya memandang lukisan bukan semata-mata benda yang memiliki nilai ekonomi. Di dalam sebuah karya tersimpan pikiran, doa, pengalaman, pergulatan batin, serta pandangan seorang seniman terhadap kehidupan dan zamannya. Beberapa lukisan Nasirun yang saya miliki akan terus saya rawat sebagai bagian dari warisan seni dan kebudayaan Indonesia. Karya-karya tersebut harus didokumentasikan dengan baik, dijaga keasliannya, dipelajari sejarahnya, dan pada waktunya diperkenalkan kepada generasi muda. Kepergian seorang pelukis tidak membuat karyanya berhenti berbicara. Sebaliknya, setelah sang seniman berpulang, karya-karyanya menjadi saksi yang akan terus menceritakan siapa dirinya, apa yang diperjuangkannya, serta pesan apa yang hendak diwariskannya. Selamat jalan, Maestro Nasirun. Terima kasih atas warna, simbol, doa, dan kekayaan budaya yang telah engkau persembahkan bagi Indonesia. Ragamu telah tiada, tetapi karya-karyamu akan terus hidup, berbicara, dan menginspirasi generasi demi generasi.
