Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Dalam kehidupan, setiap kebutuhan manusia sebenarnya dapat membuka peluang ekonomi. Mulai dari kebutuhan bayi, makanan, pakaian, tempat tinggal, kegiatan sosial, hingga layanan kedukaan, semuanya memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kegiatan usaha.
Menurut saya, perbedaan penting dalam membangun kemandirian ekonomi bukan terletak pada asal-usul seseorang, tetapi pada cara berpikir, kemampuan membaca kebutuhan masyarakat, keberanian berusaha, dan kedisiplinan mengelola keuangan.
Kita perlu mengubah pola pikir dari sekadar menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan menjadi kemampuan menciptakan produk, layanan, dan nilai ekonomi yang bermanfaat.
Belajar Melihat Peluang dari Kebutuhan Masyarakat
Peluang bisnis tidak selalu berasal dari sesuatu yang besar atau rumit. Kebutuhan sederhana yang terjadi setiap hari dapat menjadi sumber usaha apabila dikelola dengan kreativitas, kualitas, dan pelayanan yang baik. Menurut saya, pelaku UMKM harus belajar melihat persoalan masyarakat sebagai kesempatan menghadirkan solusi yang bernilai ekonomi.
Jangan Hanya Menghabiskan Uang, Belajar Mengembangkannya
Menghasilkan uang memang penting, tetapi kemampuan mengelolanya jauh lebih menentukan ketahanan ekonomi. Jangan sampai seluruh penghasilan habis untuk konsumsi tanpa menyisakan ruang bagi tabungan, modal usaha, dan aset produktif. Kemandirian ekonomi membutuhkan disiplin, perencanaan, dan keberanian membangun usaha secara bertahap.
Bangun Mental Kewirausahaan dan Kemandirian
Keberhasilan ekonomi tidak ditentukan oleh suku, agama, maupun latar belakang seseorang. Setiap masyarakat memiliki kesempatan untuk berkembang melalui pendidikan, keterampilan, kerja keras, jaringan usaha, dan kemampuan membaca pasar. Menurut saya, budaya kewirausahaan perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak hanya menjadi pembeli, tetapi juga mampu menjadi produsen, penyedia jasa, dan pencipta lapangan pekerjaan.
Pesan untuk Masyarakat
Saya mengajak masyarakat, khususnya generasi muda dan pelaku UMKM, untuk mulai membangun pola pikir yang lebih produktif. Jangan hanya melihat apa yang bisa dibeli, tetapi pikirkan juga apa yang bisa diciptakan, dijual, dan dikembangkan. Belajarlah mengelola keuangan, meningkatkan keterampilan, membangun jaringan, serta melihat peluang dari kebutuhan masyarakat tanpa mengabaikan etika dan nilai kemanusiaan.
Menurut saya, kekayaan bukan semata-mata hasil kerja keras, tetapi juga kemampuan menciptakan nilai, mengelola peluang, dan membangun usaha yang berkelanjutan. Pada akhirnya, masyarakat yang kuat secara ekonomi bukan hanya masyarakat yang memiliki kemampuan membeli, tetapi juga kemampuan menghasilkan, memproduksi, berinovasi, dan menciptakan lapangan kerja.
Jangan hanya menjadi bagian dari pasar. Belajarlah menjadi pencipta peluang, karena kemandirian ekonomi dimulai ketika cara berpikir berubah dari sekadar menghabiskan uang menjadi kemampuan menciptakan nilai dan mengembangkannya.(BN)
