Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Dalam kehidupan, kita sering mendengar ungkapan bahwa apa yang ditanam seseorang, itulah yang kelak akan dituainya. Ungkapan ini mengandung pesan moral yang mendalam tentang hubungan antara perbuatan, tanggung jawab, dan konsekuensi dalam kehidupan manusia. Menurut saya, tidak ada tindakan manusia yang benar-benar terlepas dari konsekuensi. Setiap perkataan, keputusan, dan perlakuan terhadap orang lain dapat meninggalkan pengaruh, baik terhadap kehidupan orang tersebut maupun terhadap karakter, hubungan sosial, dan masa depan kita sendiri.
Ada orang yang dengan mudah menyakiti, merendahkan, mengkhianati kepercayaan, bahkan merugikan orang lain, kemudian melanjutkan kehidupannya seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun seseorang perlu memahami bahwa ketiadaan rasa bersalah bukan berarti tindakannya tidak memiliki akibat. Dalam perspektif moral, sosial, dan hukum, setiap tindakan membawa tanggung jawab. Karena itu, ada tiga hal penting yang menurut saya perlu menjadi perhatian.
Setiap Perbuatan Memiliki Konsekuensi
Menurut saya, prinsip tabur tuai dapat dipahami sebagai pengingat bahwa tindakan manusia akan memengaruhi hubungan, kepercayaan, dan kehidupannya. Seseorang yang terbiasa berbuat baik, menjaga kejujuran, dan menghormati sesama akan memiliki peluang lebih besar untuk membangun hubungan sosial yang sehat. Sebaliknya, kebiasaan menyakiti, menipu, atau mengkhianati kepercayaan dapat merusak hubungan dan reputasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Jangan menganggap suatu perbuatan tidak memiliki akibat hanya karena konsekuensinya belum terlihat. Namun kita juga tidak boleh menganggap setiap kesulitan hidup sebagai hukuman atas kesalahan seseorang.
Jangan Menyakiti Orang Lain lalu Mengabaikan Tanggung Jawab
Dalam kehidupan sosial, pekerjaan, organisasi, maupun keluarga, seseorang terkadang menggunakan kedudukan, kekuasaan, atau kelebihannya untuk memperlakukan orang lain secara tidak adil. Ada yang merendahkan martabat sesama, menyalahgunakan kepercayaan, atau mengambil keuntungan dengan mengorbankan kepentingan orang lain. Menurut saya, kedewasaan seseorang bukan hanya terlihat dari kemampuannya mengambil keputusan, tetapi juga dari keberaniannya bertanggung jawab ketika keputusan tersebut merugikan orang lain. Meminta maaf, memperbaiki kesalahan, dan memulihkan kerugian merupakan bagian penting dari integritas. Kesalahan tidak akan selesai hanya dengan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Kebaikan dan Integritas Adalah Investasi Kehidupan
Kekayaan, jabatan, dan kedudukan sosial dapat berubah, tetapi karakter serta cara seseorang memperlakukan orang lain akan meninggalkan kesan yang panjang. Menurut saya, keberhasilan hidup tidak cukup hanya diukur dari pencapaian materi, tetapi juga dari kepercayaan, penghormatan, dan manfaat yang diberikan kepada sesama. Karena itu, biasakan menanam kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Kebaikan memang tidak selalu langsung mendapatkan balasan, tetapi tetap mempunyai nilai yang tidak boleh dikorbankan demi keuntungan sesaat.
Pesan untuk Masyarakat
Menurut saya, masyarakat perlu semakin menyadari bahwa setiap tindakan harus dilandasi pertimbangan moral, etika, dan tanggung jawab. Jangan mudah menyakiti orang lain hanya karena merasa memiliki kekuasaan, kedudukan, kemampuan, atau kesempatan yang lebih besar. Jangan meremehkan perasaan orang lain. Jangan mengkhianati kepercayaan hanya demi kepentingan pribadi. Jangan pula merasa bebas dari tanggung jawab hanya karena orang yang dirugikan memilih diam.
Diamnya seseorang bukan berarti ia tidak terluka. Kesabarannya bukan berarti kita berhak memperlakukannya sesuka hati. Jika pernah melakukan kesalahan, milikilah keberanian untuk mengakui dan memperbaikinya. Jika memiliki kesempatan berbuat baik, lakukanlah tanpa harus menunggu imbalan. Menurut saya, kehidupan yang bermartabat dibangun melalui keselarasan antara perkataan, perbuatan, dan tanggung jawab. Orang yang benar-benar bijaksana tidak hanya memikirkan apa yang dapat diperolehnya hari ini, tetapi juga mempertimbangkan akibat dari tindakannya bagi kehidupan orang lain.
Pada akhirnya, jangan berharap memperoleh kepercayaan jika terbiasa mengkhianati. Jangan berharap dihormati jika gemar merendahkan. Dan jangan berharap membangun hubungan yang baik apabila kita terus menanam luka dalam kehidupan orang lain. Karena apa yang kita tanam hari ini akan memengaruhi apa yang mungkin kita tuai pada masa depan. Maka tanamlah kebaikan, jagalah integritas, dan perlakukan setiap manusia dengan penuh penghormatan. Sebab kebesaran seseorang bukan terlihat dari kemampuannya membuat orang lain menderita, tetapi dari kemampuannya menghadirkan kebaikan tanpa harus merendahkan martabat siapa pun.(BN)
