Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Kehadiran Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) membawa warna tersendiri dalam perjalanan politik generasi muda di Indonesia. Di tengah tuntutan masyarakat yang semakin kritis, kepemimpinan politik tidak cukup hanya mengandalkan popularitas. Partai harus memiliki organisasi yang kuat, kader yang bekerja, serta program yang benar-benar dirasakan masyarakat. Menurut saya, tantangan terbesar Kaesang bukan hanya membesarkan nama PSI, tetapi membangun partai yang kuat sampai ke akar rumput dan mampu membuktikan manfaat politik bagi masyarakat.
Bangun Struktur Sampai Akar Rumput
Pada April 2026, Kaesang menegaskan bahwa PSI mulai mempersiapkan mesin politik menghadapi Pemilu 2029 dengan memperkuat struktur organisasi hingga tingkat desa. Saat itu, struktur PSI di tingkat kecamatan disebut telah mencapai lebih dari 5.000 unit, dan Kaesang menargetkan struktur partai semakin lengkap sebelum memasuki tahapan politik berikutnya. Langkah tersebut penting karena partai politik tidak mungkin dibangun hanya dari pusat. Kekuatan sesungguhnya berada pada kader di daerah, kecamatan, kelurahan, desa, bahkan lingkungan masyarakat. Mereka yang setiap hari bertemu rakyat, mendengarkan persoalan, dan mengetahui kebutuhan masyarakat secara langsung.
Kaesang dan Representasi Generasi Muda
Kaesang juga sering dikaitkan dengan wajah politik generasi muda. Sebuah survei Lembaga Pemilih Indonesia yang dipublikasikan pada Juni 2026 menemukan bahwa figur Kaesang dinilai memperkuat citra PSI sebagai partai anak muda. Namun menurut saya, politik anak muda tidak cukup hanya ditentukan oleh usia pemimpinnya. Politik generasi muda harus membawa cara kerja baru, keterbukaan, kreativitas, keberanian mendengar kritik, serta kemampuan memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat. Anak muda membutuhkan lapangan pekerjaan. Pelaku UMKM membutuhkan akses pasar dan pembinaan. Masyarakat membutuhkan pelayanan publik yang cepat. Generasi muda juga membutuhkan pendidikan politik agar memahami bahwa politik bukan sekadar perebutan kekuasaan. Di situlah partai politik harus hadir.
Politik Harus Menenangkan dan Memberikan Solusi
Dalam pernyataan pada April 2026, Kaesang mengatakan Indonesia membutuhkan persatuan dan kerja sama, serta menilai bahwa kritik merupakan bagian yang wajar dalam demokrasi. Pandangan tersebut perlu diterjemahkan dalam praktik politik sehari-hari. Perbedaan pilihan politik jangan membuat masyarakat saling bermusuhan. Kritik terhadap pemerintah maupun partai politik harus tetap memiliki ruang. Sebaliknya, setiap pemimpin juga harus mampu menjawab kritik melalui kerja dan kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Menurut saya, politik yang baik bukan politik yang paling gaduh, tetapi politik yang mampu menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Menuju Pemilu 2029
Kaesang juga telah menyatakan rencananya untuk maju sebagai calon anggota legislatif pada Pemilu 2029 dari Solo. Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan PSI di Solo pada Juli 2026. Perjalanan menuju 2029 masih panjang. Karena itu, pekerjaan politik tidak boleh baru dimulai ketika pemilu sudah dekat. Masyarakat akan melihat apa yang dikerjakan partai sejak sekarang: apakah kader hadir ketika rakyat membutuhkan bantuan, apakah partai memperjuangkan persoalan masyarakat, dan apakah organisasi benar-benar bekerja sampai tingkat bawah.
PSI Harus Dirasakan Kehadirannya
Sebagai Ketua DPD PSI Kota Depok, saya melihat pembangunan struktur harus berjalan bersama dengan pembangunan kualitas kader. Jumlah pengurus memang penting, tetapi kualitas, integritas, kedisiplinan, serta kemampuan kader memahami persoalan rakyat jauh lebih menentukan. PSI jangan hanya dikenal melalui baliho, media sosial, atau momentum pemilu. PSI harus dikenal karena kadernya hadir dan bekerja di tengah masyarakat. Di bawah kepemimpinan Kaesang, tantangan tersebut akan menjadi salah satu ukuran perkembangan PSI menuju Pemilu 2029. Pada akhirnya, masa depan sebuah partai tidak hanya ditentukan oleh siapa ketua umumnya, tetapi oleh seberapa kuat organisasinya, seberapa baik kadernya, dan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat dari kehadiran partai tersebut. Politik harus kembali kepada tujuan dasarnya melayani masyarakat dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
