Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Menurut saya, Joko Widodo atau Jokowi merupakan salah satu tokoh politik paling berpengaruh dalam perjalanan politik Indonesia modern. Perjalanannya dari Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga menjadi Presiden Republik Indonesia selama dua periode menunjukkan kemampuan membangun komunikasi politik yang kuat dengan masyarakat.
Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Presiden ke-7 Republik Indonesia, pengaruh politik Jokowi tidak serta-merta berakhir. Kehadirannya masih mendapatkan perhatian publik dan menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi dinamika politik nasional.
Dalam perkembangan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), hubungan Jokowi dengan PSI juga semakin terlihat. Sepanjang 2026, Jokowi beberapa kali hadir dalam kegiatan dan konsolidasi PSI. Sejumlah elite PSI menyebut Jokowi sebagai patron, mentor, motivator, bahkan “bapak ideologis” PSI, meskipun pada akhir Juni 2026 posisi struktural formalnya di partai belum diumumkan.
Menurut saya, kedekatan tersebut mempunyai arti penting bagi PSI. Jokowi memiliki pengalaman panjang menghadapi berbagai kontestasi politik, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta memahami pentingnya kerja politik sampai ke tingkat akar rumput.
Pengaruh itu juga terlihat dalam persepsi publik. Survei Lembaga Pemilih Indonesia pada Juni 2026 menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai kedekatan PSI dengan Jokowi memberikan dampak positif terhadap citra partai. Namun hasil survei tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa popularitas seorang tokoh harus dapat diterjemahkan menjadi program dan kerja politik yang benar-benar dirasakan masyarakat.
JOKOWI ADALAH KEKUATAN, TETAPI PSI HARUS MEMBANGUN KEKUATANNYA SENDIRI
Menurut saya, pengaruh Jokowi merupakan modal politik yang besar bagi PSI, tetapi masa depan PSI tidak boleh hanya bergantung kepada satu figur. Tokoh dapat membuka pintu, memberikan inspirasi, menarik perhatian masyarakat, dan mempercepat konsolidasi. Tetapi partai politik yang ingin tumbuh besar harus mempunyai organisasi yang kuat, kader yang berkualitas, serta program yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Karena itu, pengaruh Jokowi seharusnya menjadi energi bagi seluruh kader PSI untuk bekerja lebih keras. Mulai dari DPP, DPW, DPD, DPC hingga tingkat kelurahan, seluruh struktur harus aktif turun ke masyarakat. Politik harus hadir dalam persoalan sehari-hari: ekonomi masyarakat, UMKM, lapangan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, lingkungan hidup, hingga persoalan hukum dan keadilan.
DARI POPULARITAS MENJADI KEPERCAYAAN
Menurut saya, tantangan terbesar PSI ke depan bukan sekadar membuat masyarakat mengenal PSI, tetapi membuat masyarakat percaya kepada PSI. Popularitas dapat diperoleh melalui figur besar. Namun kepercayaan hanya dapat dibangun melalui konsistensi, integritas, dan kerja nyata. Jokowi dapat memberikan pengaruh dan pengalaman politik. Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep dapat membawa energi generasi muda. Tetapi semuanya harus diperkuat oleh ribuan kader PSI di daerah yang setiap hari berhadapan langsung dengan masyarakat. Jokowi sendiri dalam kegiatan PSI di Lampung pada Juni 2026 menekankan pentingnya kerja yang konsisten sampai tingkat akar rumput agar PSI mampu berkembang menuju Pemilu 2029. Karena pada akhirnya, partai besar bukan hanya dibangun oleh satu tokoh besar, tetapi oleh kader-kader yang bekerja bersama masyarakat. Saya melihat pengaruh Jokowi sebagai peluang besar bagi PSI untuk memperluas kepercayaan masyarakat. Tetapi peluang tersebut harus dijawab dengan konsolidasi organisasi, kaderisasi, keberanian menyampaikan gagasan, serta kerja nyata yang dapat dirasakan rakyat.
Jokowi dapat menjadi inspirasi dan kekuatan bagi PSI. Namun masa depan PSI akan ditentukan oleh kemampuan seluruh kadernya mengubah pengaruh tersebut menjadi kerja, pelayanan, dan kepercayaan masyarakat. Menurut saya, di situlah tantangan sekaligus kesempatan PSI menuju 2029: bukan sekadar menjadi partai yang dikenal karena tokohnya, tetapi menjadi partai yang dipercaya karena kerja nyatanya.
