Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk | Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor (S3) Hukum – Konsentrasi Hukum Bisnis, Universitas Kristen Indonesia
Banyak pelaku UMKM bekerja sangat keras setiap hari. Pagi membuka usaha, malam baru berhenti. Barang terjual, pelanggan datang, uang berputar, tetapi setelah bertahun-tahun kondisi usahanya hampir tidak berubah. Usaha memang tetap berjalan, tetapi belum menghasilkan kekuatan ekonomi yang lebih besar bagi pemiliknya. Menurut saya, inilah tantangan yang harus mulai kita pikirkan bersama. UMKM tidak boleh selamanya hanya berjuang agar usaha tetap hidup dari hari ke hari. UMKM harus mempunyai target untuk naik kelas, memperbesar keuntungan, memperkuat modal, dan membangun aset. Karena tujuan usaha bukan hanya mendapatkan uang hari ini, tetapi juga membangun kekuatan ekonomi untuk masa depan.
Jangan hanya mengejar omzet
Omzet memang penting. Tetapi omzet yang besar belum tentu membuat pemilik usaha semakin sejahtera. Yang lebih penting adalah berapa keuntungan bersih yang tersisa setelah seluruh biaya dibayar. Pelaku usaha perlu mengetahui dengan jelas berapa pendapatan, biaya operasional, keuntungan, utang, serta modal yang dimiliki. Jangan sampai setiap hari terlihat banyak transaksi, tetapi pada akhir tahun tidak ada tambahan tabungan, tidak ada peningkatan modal, dan tidak ada aset baru yang dimiliki. Menurut saya, usaha yang sehat harus meninggalkan sesuatu yang semakin bertambah dari tahun ke tahun.
Sebagian keuntungan harus menjadi modal
Salah satu kebiasaan yang perlu dibangun adalah tidak menghabiskan seluruh keuntungan usaha untuk kebutuhan konsumsi. Sebagian keuntungan sebaiknya dikembalikan menjadi modal. Misalnya digunakan untuk menambah stok, membeli peralatan, memperbaiki tempat usaha, meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pemasaran, atau membangun dana cadangan. Jika keuntungan terus diputar secara produktif, kemampuan usaha akan semakin besar. Hari ini mungkin hanya mempunyai satu peralatan produksi. Beberapa tahun kemudian bisa menjadi dua atau tiga. Hari ini mungkin hanya mempunyai satu tempat usaha. Ke depan bisa berkembang menjadi beberapa cabang. Pertumbuhan seperti inilah yang harus menjadi tujuan.
Mulai membangun aset
Pelaku UMKM juga perlu mempunyai pemikiran bahwa hasil usaha harus secara perlahan diubah menjadi aset. Aset tidak selalu berarti tanah atau bangunan yang mahal. Peralatan produksi, kendaraan operasional, mesin, inventaris usaha, persediaan yang sehat, tabungan usaha, tempat usaha, hingga teknologi yang meningkatkan produktivitas juga dapat menjadi bagian dari kekuatan usaha. Jika kemampuan sudah semakin besar, barulah pelaku usaha dapat memikirkan aset jangka panjang seperti tempat usaha milik sendiri, tanah, gudang, atau bentuk investasi produktif lainnya. Prinsipnya, jangan sampai bertahun-tahun berusaha tetapi seluruh hasilnya habis tanpa meninggalkan aset.
Naik kelas membutuhkan pencatatan
Menurut pengalaman saya di dunia perbankan maupun sebagai pelaku UMKM, salah satu kelemahan yang masih sering ditemui adalah usaha berjalan tanpa pencatatan yang baik. Pemilik usaha mengetahui uang masuk, tetapi tidak selalu mengetahui keuntungan sebenarnya. Padahal pencatatan sederhana sangat penting. Pisahkan uang usaha dengan uang rumah tangga. Catat penjualan. Catat biaya. Catat utang dan piutang. Ketahui berapa keuntungan bersih setiap bulan. Dari angka-angka tersebut, pemilik usaha dapat menentukan apakah usahanya benar-benar berkembang atau hanya berputar di tempat. Usaha yang ingin naik kelas harus mulai dikelola berdasarkan data, bukan hanya perasaan.
Legalitas membuka lebih banyak peluang
Naik kelas juga berarti usaha semakin tertib secara administrasi dan hukum. Pelaku UMKM perlu memiliki legalitas usaha sesuai kebutuhan, mulai dari Nomor Induk Berusaha (NIB), perizinan usaha, sertifikasi produk, hingga kewajiban administrasi lainnya sesuai bidang usaha. Legalitas bukan sekadar dokumen. Dengan usaha yang semakin tertib, kesempatan untuk memperoleh pembiayaan, mengikuti pengadaan, bekerja sama dengan perusahaan yang lebih besar, memperluas pemasaran, maupun masuk ke berbagai ekosistem bisnis juga dapat semakin terbuka.
Jangan takut menggunakan teknologi
Pasar hari ini tidak lagi hanya berada di depan toko. Pelanggan dapat datang dari media sosial, marketplace, aplikasi pesan, maupun berbagai platform digital. Karena itu, UMKM perlu berani belajar menggunakan teknologi. Mulai dari promosi sederhana melalui media sosial, pembayaran digital, pencatatan keuangan, pengelolaan stok, hingga membangun identitas merek. Tidak harus langsung menggunakan teknologi yang mahal. Yang penting adalah teknologi membantu usaha menjadi lebih cepat, lebih rapi, dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Pembiayaan harus digunakan untuk memperbesar kemampuan usaha
Jika usaha membutuhkan pembiayaan, gunakan dengan perhitungan. Pinjaman sebaiknya diarahkan kepada kegiatan produktif yang dapat meningkatkan pendapatan atau kapasitas usaha. Jangan sampai seluruh keuntungan hanya digunakan untuk membayar cicilan. Menurut saya, pembiayaan yang sehat seharusnya membuat usaha semakin besar, bukan semakin terbebani. Setelah pinjaman selesai dibayar, seharusnya ada sesuatu yang tertinggal: mesin bertambah, produksi meningkat, pelanggan bertambah, omzet meningkat, atau aset usaha semakin kuat.
UMKM harus mempunyai target
Pelaku usaha perlu mulai membuat target jangka panjang, Jangan hanya bertanya:
“Bagaimana caranya usaha saya tetap buka besok?”
Tetapi mulai bertanya:
“Tiga tahun lagi usaha saya ingin menjadi seperti apa?”
Apakah ingin mempunyai tempat usaha sendiri?
Apakah ingin mempunyai beberapa cabang?
Apakah ingin menambah karyawan?
Apakah ingin mempunyai merek sendiri?
Apakah ingin produknya masuk ke pasar yang lebih luas?
Pertanyaan seperti ini penting karena usaha membutuhkan arah.
Tanpa target, kita mudah merasa cukup hanya karena usaha masih berjalan.
Dari mencari nafkah menjadi membangun kekuatan ekonomi
UMKM memang sering dimulai dari kebutuhan sederhana mencari nafkah untuk keluarga, Itu adalah tujuan yang sangat penting dan terhormat, Tetapi setelah usaha mulai berjalan, kita perlu meningkatkan tujuan tersebut, Dari sekadar mencari penghasilan menjadi membangun modal, Dari membangun modal menjadi membangun aset, Dari membangun aset menjadi menciptakan lapangan kerja. Dan dari usaha kecil, secara perlahan tumbuh menjadi usaha yang lebih kuat dan mandiri. Menurut saya, inilah arti sebenarnya dari UMKM naik kelas. Bukan hanya omzet yang semakin besar, tetapi kemampuan usaha semakin kuat, pengelolaannya semakin profesional, pasarnya semakin luas, dan pemiliknya memiliki aset yang terus bertambah. Karena itu, UMKM jangan hanya bertahan hidup. Sudah saatnya UMKM berani bertumbuh, naik kelas, dan membangun aset untuk masa depan.
