Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk | Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor (S3) Hukum – Konsentrasi Hukum Bisnis, Universitas Kristen Indonesia
Banyak pelaku usaha beranggapan bahwa kendala terbesar dalam mengembangkan usaha adalah modal. Semakin besar modal, dianggap semakin besar pula peluang untuk berhasil. Menurut saya, modal memang penting. Tetapi modal bukan satu-satunya kunci kesuksesan usaha. Modal sebesar apa pun bisa habis apabila tidak dikelola dengan baik. Sebaliknya, usaha dengan modal terbatas dapat berkembang apabila pemiliknya disiplin mengatur uang, menjaga arus kas, dan menggunakan keuntungan secara produktif.
Modal besar belum tentu membuat usaha berkembang
Tidak sedikit usaha memperoleh tambahan modal, tetapi beberapa waktu kemudian kembali mengalami kesulitan keuangan. Persoalannya sering kali bukan sekadar kekurangan uang, melainkan cara mengelola uang yang belum tertib. Jika pengeluaran tidak dicatat, keuntungan langsung digunakan untuk kebutuhan pribadi, dan pembelian dilakukan tanpa perhitungan, maka tambahan modal hanya akan cepat habis. Karena itu, sebelum mencari modal tambahan, pelaku usaha perlu bertanya: Apakah uang yang sekarang sudah dikelola dengan benar?
Pisahkan uang usaha dan kebutuhan pribadi
Salah satu disiplin paling penting adalah memisahkan uang usaha dengan uang rumah tangga. Uang hasil penjualan bukan seluruhnya keuntungan. Di dalamnya masih ada modal untuk membeli barang kembali, membayar listrik, sewa, gaji, transportasi, cicilan, dan kebutuhan operasional lainnya. Jika uang usaha terus digunakan untuk kebutuhan pribadi tanpa pencatatan, perlahan modal usaha akan berkurang. Karena itu, meskipun usaha masih kecil, biasakan memiliki catatan dan tempat penyimpanan uang yang terpisah untuk usaha.
Jangan hanya melihat omzet
Usaha ramai belum tentu berarti keuntungan besar. Pelaku usaha harus mengetahui setidaknya berapa penjualan, biaya, keuntungan bersih, dan uang yang tersedia. Misalnya omzet mencapai Rp30 juta dalam satu bulan. Angka tersebut terlihat besar. Tetapi setelah dikurangi harga barang, gaji, sewa, listrik, transportasi, cicilan, dan biaya lainnya, keuntungan bersihnya mungkin jauh lebih kecil. Karena itu, jangan hanya bangga dengan omzet. Yang lebih penting adalah berapa keuntungan yang benar-benar tersisa.
Keuntungan jangan langsung dihabiskan
Ketika usaha mulai menghasilkan, sebagian keuntungan sebaiknya dikembalikan menjadi modal. Bisa digunakan untuk menambah stok, membeli peralatan, meningkatkan produksi, memperluas pemasaran, atau membangun dana cadangan. Menurut saya, usaha yang sehat harus mampu menciptakan modal dari keuntungannya sendiri. Tidak salah menikmati hasil usaha. Tetapi jangan sampai seluruh keuntungan habis untuk konsumsi sehingga usaha tidak pernah menjadi lebih kuat.
Arus kas harus dijaga
Dalam usaha, keuntungan saja tidak cukup. Ketersediaan uang tunai juga sangat penting. Usaha dapat terlihat untung, tetapi mengalami kesulitan ketika banyak uang masih berada dalam bentuk piutang sementara berbagai kewajiban sudah harus dibayar. Karena itu, pelaku usaha perlu mengetahui kapan uang masuk dan kapan uang harus keluar. Arus kas adalah napas usaha. Jika arus kas terganggu, operasional juga dapat ikut terganggu.
Utang dan pembiayaan harus diperhitungkan
Pinjaman dapat membantu memperbesar usaha apabila digunakan untuk kegiatan produktif. Namun jangan hanya melihat berapa besar pinjaman yang bisa diperoleh. Lihat juga kemampuan usaha membayar cicilan. Menurut pengalaman saya di dunia perbankan, kemampuan mengelola pinjaman jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan mendapatkan pinjaman. Setiap tambahan modal seharusnya membuat kemampuan usaha semakin besar, bukan justru menambah tekanan keuangan.
Biasakan mencatat
Tidak semua UMKM membutuhkan sistem akuntansi yang rumit. Mulailah dari hal sederhana: catat uang masuk, uang keluar, utang, piutang, stok, serta keuntungan setiap bulan. Dengan pencatatan, pemilik usaha dapat mengetahui lebih cepat apabila biaya mulai terlalu besar, penjualan menurun, atau keuntungan semakin kecil. Usaha yang ingin berkembang harus mulai dikelola dengan angka, bukan hanya berdasarkan perasaan.
Dari keuntungan menjadi aset
Tujuan usaha sebaiknya bukan hanya mendapatkan penghasilan untuk hari ini. Secara perlahan, keuntungan perlu diubah menjadi kekuatan ekonomi yang lebih permanen. Hari ini mungkin menambah stok. Besok membeli mesin. Kemudian memiliki kendaraan operasional. Jika kemampuan semakin besar, bisa mulai memikirkan tempat usaha, gudang, atau aset produktif lainnya. Inilah yang membuat usaha semakin kuat dari tahun ke tahun.
Modal bisa dicari, disiplin harus dibangun
Akses modal dapat datang dari tabungan, perbankan, program pemerintah, maupun lembaga pembiayaan. Tetapi disiplin tidak bisa dipinjam dari siapa pun. Disiplin harus dibangun melalui kebiasaan mencatat, mengendalikan pengeluaran, menyimpan sebagian keuntungan, dan mengambil keputusan berdasarkan kemampuan usaha. Menurut saya, modal dapat membantu usaha tumbuh, tetapi disiplinlah yang membuat pertumbuhan itu bertahan. Karena itu, jangan hanya berpikir bagaimana mendapatkan modal yang lebih besar. Belajarlah mengelola setiap rupiah yang sudah dimiliki.
Modal bukan satu-satunya kunci sukses. Disiplin mengelola uang adalah fondasi agar modal tidak habis, keuntungan terus bertambah, dan usaha berkembang secara sehat serta berkelanjutan.
