Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk | Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor (S3) Hukum – Konsentrasi Hukum Bisnis, Universitas Kristen Indonesia
Banyak pelaku usaha merasa takut ketika mendengar kata utang. Utang sering dianggap sebagai sesuatu yang selalu buruk dan harus dihindari. Padahal menurut saya, dalam dunia usaha, utang tidak selalu menjadi musuh. Utang dapat menjadi alat untuk membantu usaha berkembang apabila digunakan dengan tujuan yang jelas, jumlah yang sesuai kemampuan, dan perhitungan yang matang. Yang berbahaya bukan semata-mata memiliki utang, tetapi berutang tanpa mengetahui bagaimana cara membayarnya.
Utang harus menghasilkan
Sebelum mengambil pinjaman, pelaku usaha perlu bertanya: uang ini akan digunakan untuk apa? Jika pinjaman digunakan untuk membeli peralatan yang meningkatkan produksi, menambah stok barang yang memang laku, memperluas usaha yang sudah memiliki pasar, atau memenuhi kebutuhan modal kerja yang produktif, maka utang dapat membantu usaha bertumbuh. Sebaliknya, jika uang pinjaman digunakan untuk kebutuhan konsumtif, membeli sesuatu yang tidak berhubungan dengan usaha, atau menutup pengeluaran pribadi, risiko keuangan akan semakin besar. Prinsipnya sederhana: utang usaha sebaiknya digunakan untuk kegiatan yang dapat menghasilkan pendapatan.
Jangan melihat besar pinjaman, lihat kemampuan membayar
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah merasa senang ketika mendapatkan fasilitas pinjaman dalam jumlah besar. Padahal semakin besar pinjaman, semakin besar pula kewajiban yang harus dibayar. Menurut saya, pelaku usaha jangan bertanya hanya, “Berapa besar pinjaman yang bisa saya dapatkan?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Berapa besar cicilan yang mampu dibayar oleh usaha saya setiap bulan tanpa mengganggu operasional?” Pengalaman saya selama bertahun-tahun di dunia perbankan mengajarkan bahwa kemampuan membayar jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan mendapatkan pinjaman.
Cicilan harus dihitung dari arus kas usaha
Misalnya, sebuah usaha memperoleh keuntungan bersih Rp5 juta setiap bulan. Jangan kemudian mengambil cicilan yang menghabiskan hampir seluruh keuntungan tersebut. Usaha tetap membutuhkan uang untuk membeli barang kembali, membayar listrik, transportasi, gaji, sewa tempat, dan kebutuhan operasional lainnya. Jika cicilan terlalu besar, usaha dapat terlihat tetap berjalan tetapi sebenarnya mengalami tekanan keuangan. Karena itu, sebelum berutang, hitung dahulu pendapatan, biaya, keuntungan bersih, dan arus kas usaha. Jangan mengandalkan perkiraan semata.
Jangan menutup utang dengan utang baru
Situasi yang perlu diwaspadai adalah ketika pelaku usaha mulai mengambil pinjaman baru hanya untuk membayar cicilan pinjaman sebelumnya. Jika hal tersebut terus dilakukan tanpa perbaikan pendapatan, usaha dapat masuk ke dalam lingkaran utang. Pinjaman baru mungkin memberikan kelonggaran sementara, tetapi persoalan sebenarnya belum selesai. Menurut saya, ketika usaha mulai kesulitan membayar kewajiban, pemilik usaha harus segera mengevaluasi kondisi keuangannya. Apakah penjualan menurun? Apakah biaya terlalu besar? Apakah keuntungan terlalu kecil? Atau apakah jumlah utangnya memang sudah melebihi kemampuan usaha? Semakin cepat masalah diketahui, semakin cepat pula langkah perbaikan dapat dilakukan.
Bedakan utang produktif dan konsumtif
Pelaku usaha juga harus mampu membedakan antara utang produktif dan utang konsumtif. Utang produktif digunakan untuk sesuatu yang dapat mendukung penghasilan atau meningkatkan kapasitas usaha. Sedangkan utang konsumtif digunakan untuk kebutuhan yang tidak menghasilkan pemasukan bagi usaha. Bukan berarti seluruh kebutuhan konsumtif selalu salah. Namun jangan sampai kebutuhan pribadi dibebankan kepada keuangan usaha tanpa perhitungan. Jika uang usaha dan uang rumah tangga bercampur, pemilik usaha akan semakin sulit mengetahui apakah pinjaman benar-benar digunakan untuk mengembangkan usaha atau justru habis untuk kebutuhan lain.
Jangan tergoda pinjaman yang mudah
Kemudahan mendapatkan pinjaman pada era digital memberikan peluang, tetapi juga membutuhkan kehati-hatian. Proses yang cepat bukan berarti keputusan juga harus dilakukan dengan cepat. Sebelum mengambil pinjaman, periksa bunga, biaya administrasi, tenor, jumlah cicilan, denda keterlambatan, dan seluruh kewajiban yang harus dibayar. Jangan hanya melihat jumlah uang yang diterima. Pelaku usaha harus mengetahui berapa total uang yang akhirnya harus dikembalikan.
Utang harus membantu usaha naik kelas
Utang yang sehat seharusnya membantu usaha menjadi lebih kuat. Setelah beberapa waktu, produktivitas meningkat, omzet bertambah, keuntungan membaik, aset bertambah, dan kemampuan usaha semakin besar. Jika sudah bertahun-tahun berutang tetapi kondisi usaha tidak pernah berkembang, maka perlu dilakukan evaluasi. Jangan sampai pinjaman hanya membuat usaha bekerja keras untuk membayar cicilan tanpa pernah membangun aset. Menurut saya, tujuan pembiayaan bukan membuat pelaku usaha terus bergantung pada utang, tetapi membantu usaha berkembang sampai mempunyai kekuatan modal yang semakin baik.
Berani berutang harus berani menghitung
Pelaku usaha tidak perlu takut terhadap utang selama memahami risiko dan kemampuannya. Namun jangan pula menganggap utang sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan seluruh persoalan usaha. Berani mengambil pinjaman harus disertai keberanian untuk menghitung, mencatat, mengendalikan pengeluaran, dan disiplin membayar kewajiban. Utang yang digunakan dengan benar dapat menjadi alat untuk memperbesar usaha. Tetapi utang tanpa perencanaan dapat menjadi beban yang perlahan menghabiskan keuntungan, modal, bahkan aset yang sudah dibangun bertahun-tahun. Karena itu, menurut saya, utang bukan musuh usaha. Yang berbahaya adalah utang tanpa tujuan, tanpa perhitungan, dan tanpa kemampuan membayar. Gunakan utang sebagai alat untuk bertumbuh, bukan sebagai jalan untuk menunda masalah.
