Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Video ini menyampaikan sebuah renungan yang sangat dalam tentang kehidupan, usia, pencapaian, dan jejak yang kita tinggalkan. Kabar kepergian seseorang bernama Pak Nasirun dalam video tersebut menjadi pengingat bahwa ketika melihat perjalanan hidup orang lain, kita sering tanpa sadar membandingkannya dengan perjalanan hidup kita sendiri. Terlebih ketika berada pada usia yang hampir sama, terkadang muncul pertanyaan dalam hati: apa yang sudah saya lakukan? Apa yang sudah saya bangun? Dan jejak seperti apa yang kelak akan saya tinggalkan?

Video facebook dari Ali Aspandi
Menurut saya, pertanyaan seperti itu sangat manusiawi. Namun kita juga perlu memahami bahwa nilai kehidupan seseorang tidak dapat diukur hanya dari seberapa besar namanya, seberapa tinggi pencapaiannya, atau seberapa banyak karya yang terlihat oleh orang lain.
Jangan Hanya Melihat Hasil, Lihat Juga Perjalanannya
Ketika melihat seseorang berhasil, kita biasanya melihat apa yang tampak di permukaan. Kita melihat nama besar, karya, jabatan, penghargaan, kekayaan, atau pencapaiannya. Tetapi kita sering tidak melihat perjalanan panjang di balik semuanya. Kita tidak mengetahui berapa kali ia jatuh, berapa banyak kegagalan yang pernah dilewati, pengorbanan yang dilakukan, maupun berbagai persoalan yang harus dihadapi sebelum akhirnya sampai pada suatu titik dalam kehidupannya. Karena itu, menurut saya, jangan terlalu cepat membandingkan perjalanan hidup kita dengan perjalanan orang lain. Setiap manusia mempunyai waktu, jalan, tantangan, dan panggilannya masing-masing.
Usia yang Sama Tidak Berarti Perjalanan Harus Sama
Dua orang dapat mempunyai usia yang sama, tetapi kehidupan keduanya bisa sangat berbeda. Ada yang pada usia tertentu telah mempunyai banyak pencapaian. Ada yang masih berjuang membangun kehidupan. Ada yang sedang menikmati hasil kerja kerasnya, sementara yang lain mungkin sedang memulai kembali dari awal. Semua itu bukan berarti salah satu kehidupan lebih berharga daripada yang lainnya. Menurut saya, kita tidak harus menjadi seperti orang lain untuk mempunyai kehidupan yang berarti. Yang lebih penting adalah apakah hari demi hari kita terus bertumbuh, memperbaiki diri, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan memberikan manfaat kepada orang-orang di sekitar kita.
Nama Besar Bukan Satu-satunya Ukuran
Kita sering mengukur keberhasilan seseorang dengan sesuatu yang mudah dilihat: jabatan, kekayaan, popularitas, karya besar, atau pengakuan masyarakat. Padahal ada sesuatu yang mungkin jauh lebih penting, yaitu bagaimana seseorang menjalani kehidupannya dan bagaimana ia memperlakukan manusia lain. Apakah kehadirannya membuat orang lain merasa dihargai? Apakah ia membantu ketika mempunyai kesempatan? Apakah ia tetap rendah hati ketika berhasil? Apakah ia meninggalkan kebaikan dalam kehidupan keluarga, sahabat, maupun masyarakat? Menurut saya, karakter seseorang sering kali meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada jabatan yang pernah dimilikinya.
Jangan Mengukur Hidup Hanya dengan Angka
Dalam kehidupan modern, hampir semuanya diukur dengan angka. Berapa penghasilan kita, berapa aset yang dimiliki, berapa jabatan yang pernah diperoleh, berapa penghargaan yang diterima, bahkan berapa banyak orang yang mengenal kita. Angka memang dapat menjadi ukuran pencapaian. Namun angka tidak dapat menjelaskan seluruh nilai kehidupan manusia. Ada orang yang mungkin tidak dikenal banyak orang, tetapi sangat berarti bagi keluarganya. Ada orang yang tidak mempunyai jabatan tinggi, tetapi selalu hadir membantu sesamanya. Ada pula orang yang hidup sederhana, tetapi meninggalkan kenangan baik yang tidak pernah dilupakan oleh orang-orang di sekitarnya. Karena itu, jangan sampai kita merasa kehidupan kita kurang berarti hanya karena pencapaian kita tidak sama dengan orang lain.
Pertanyaan Terpenting: Nilai Apa yang Sedang Kita Bangun?
Pada akhirnya, menurut saya, pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri bukanlah, “Mengapa saya belum seperti dia?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: “Nilai apa yang sedang saya bangun melalui kehidupan saya hari ini?” Apakah kita sedang membangun integritas? Apakah kita sedang membangun keluarga yang penuh kasih? Apakah kita memberikan manfaat kepada masyarakat? Apakah pekerjaan yang kita lakukan mempunyai dampak bagi orang lain? Dan apakah ketika suatu hari perjalanan kita selesai, ada kebaikan yang tetap hidup dalam ingatan mereka yang pernah mengenal kita? Kita tidak harus meninggalkan nama besar agar kehidupan mempunyai arti. Kita hanya perlu meninggalkan sesuatu yang baik. Semakin bertambah usia, kita seharusnya semakin memahami bahwa hidup bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling berhasil. Hidup adalah perjalanan untuk menemukan makna, menjalankan tanggung jawab, mencintai keluarga, menghargai sesama, dan menggunakan waktu yang Tuhan berikan dengan sebaik-baiknya.
Menurut saya, jangan terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita capai sampai lupa mensyukuri dan membangun apa yang masih dapat kita lakukan hari ini. Sebab pada akhirnya, ketika seseorang telah menyelesaikan perjalanan hidupnya, mungkin bukan hanya pencapaiannya yang akan dikenang. Cara ia hidup, cara ia memperlakukan manusia, kebaikan yang ia lakukan, dan manfaat yang ia tinggalkan—itulah jejak yang sesungguhnya mempunyai nilai.
