Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok Komisi A dan Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Pendidikan merupakan salah satu jalan penting untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kualitas kehidupan seseorang. Karena itu, setiap anak Indonesia harus memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk bersekolah dan melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Namun, kita juga harus memahami bahwa tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama. Ada orang yang terpaksa berhenti sekolah karena kondisi ekonomi, persoalan keluarga, keterbatasan fasilitas, atau keadaan kehidupan yang tidak memungkinkan. Ada pula yang pernah mengikuti pendidikan formal, tetapi tidak berhasil menyelesaikan jenjang sarjana. Keterbatasan tersebut tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan harapan. Sejarah Indonesia mencatat sejumlah tokoh yang tidak menyelesaikan pendidikan sarjana, magister, ataupun doktor melalui jalur akademik reguler, tetapi mampu menghasilkan karya besar. Mereka bahkan dipercaya menjadi pembicara, pengajar, diplomat, dan tokoh kebudayaan di tingkat internasional. Kehidupan mereka mengajarkan bahwa ruang kelas bukanlah satu-satunya tempat untuk belajar. Pengalaman, kebiasaan membaca, keberanian mencoba, ketekunan berkarya, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri juga dapat membentuk seseorang menjadi pribadi yang berpengetahuan.
Ajip Rosidi, Tanpa Ijazah tetapi Mengajar di Jepang
Ajip Rosidi merupakan salah satu contoh paling kuat. Sastrawan dan budayawan tersebut tidak menyelesaikan pendidikan SMA dan tidak mempunyai gelar sarjana melalui pendidikan reguler. Namun, keterbatasan ijazah tidak menghentikan semangatnya untuk membaca, menulis, dan mendalami bahasa serta kebudayaan. Ajip kemudian dipercaya mengajar bahasa dan sastra Indonesia di sejumlah universitas di Jepang. Ia menjadi pengajar tamu di Osaka University of Foreign Studies serta mengajar di Tenri University dan Kyoto Sangyo University pada periode sekitar 1981 hingga 1996. Ajip membuktikan bahwa seseorang yang tidak mempunyai ijazah sarjana sekalipun dapat berdiri sebagai pengajar di perguruan tinggi luar negeri apabila memiliki pengetahuan, karya, dan kompetensi yang diakui. Ia kemudian menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Padjadjaran. Gelar tersebut merupakan penghargaan kehormatan, bukan gelar doktor yang diperoleh melalui program perkuliahan reguler.
Buya Hamka, Belajar dari Kehidupan dan Diakui Al-Azhar
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka juga tidak menempuh pendidikan sarjana secara reguler. Pendidikan Hamka banyak diperoleh melalui sekolah agama, pergaulan dengan para ulama, perjalanan, membaca, menulis, berdakwah, dan pengalaman berorganisasi. Walaupun tidak memiliki gelar akademik reguler, Hamka berkembang menjadi ulama, sastrawan, pemikir, wartawan, dan pendidik yang berpengaruh. Pemikirannya dikenal hingga berbagai negara. Pada akhir dekade 1950-an, Hamka menyampaikan pemikirannya mengenai perkembangan Islam dan pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia ketika menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Pada 1974, Universitas Kebangsaan Malaysia juga menganugerahkan gelar kehormatan kepadanya. Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan dan karya seseorang dapat memperoleh pengakuan akademik internasional meskipun ia tidak menempuh pendidikan tinggi melalui jalur reguler.
Adam Malik, Pendidikan Terbatas tetapi Memimpin Sidang PBB
Adam Malik hanya menjalani pendidikan di sekolah dasar yang dikelola pemerintah kolonial dan sekolah agama. Ia tidak mempunyai gelar sarjana, tetapi sejak muda aktif dalam pergerakan, jurnalistik, politik, dan diplomasi. Melalui pengalaman panjang, Adam Malik kemudian menjadi Menteri Luar Negeri, Wakil Presiden Republik Indonesia, serta salah satu tokoh penting dalam pembentukan ASEAN. Karier internasionalnya mulai menonjol sejak menjadi Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet dan Polandia pada 1959. Pada 1964, ia memimpin delegasi Indonesia dalam Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perdagangan dan Pembangunan atau UNCTAD di Jenewa, Swiss. Puncaknya terjadi pada 1971 ketika Adam Malik terpilih sebagai Presiden Sidang ke-26 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat. Adam Malik membuktikan bahwa keterbatasan pendidikan formal tidak menghalangi seseorang untuk menguasai persoalan dunia dan memimpin forum diplomasi tertinggi di tingkat internasional.
Pramoedya Ananta Toer, Karyanya Dibaca Dunia
Pramoedya Ananta Toer tidak tercatat menyelesaikan pendidikan sarjana. Namun, ia tidak pernah berhenti membaca, menulis, melakukan penelitian, dan mempelajari perjalanan bangsa Indonesia. Karya-karyanya kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dibahas di banyak perguruan tinggi dunia. Pada April 1999, Pramoedya diundang oleh Southeast Asia Program di Cornell University, Amerika Serikat. Ia membacakan karya, bertemu dengan dosen dan mahasiswa pascasarjana, serta mengikuti berbagai kegiatan akademik. Dalam kunjungan yang sama, ia juga menghadiri konferensi akademik di Fordham University dan menerima gelar doktor kehormatan dari University of Michigan. Pramoedya tidak menjadi besar karena gelar akademik. Ia dikenal dunia karena konsistensinya menulis, kekuatan gagasannya, dan keberaniannya menyampaikan perjalanan sejarah manusia melalui karya sastra.
Emha Ainun Nadjib, dari Kampung Menuju Forum Kebudayaan Dunia
Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun sempat mengikuti perkuliahan di Universitas Gadjah Mada, tetapi tidak menyelesaikan pendidikan sarjana. Meskipun demikian, Emha terus menulis puisi, esai, naskah drama, serta membangun dialog kebudayaan dan kemanusiaan bersama masyarakat. Pada dekade 1980-an, Emha mengikuti sejumlah kegiatan internasional. Ia mengikuti lokakarya teater di Filipina, International Writing Program di University of Iowa, Amerika Serikat, Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda, dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman Barat. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa karya yang tumbuh dari kehidupan masyarakat Indonesia dapat diterima dan dibicarakan dalam ruang kebudayaan internasional.
Susi Pudjiastuti, Pengalaman Lapangan Membawanya ke Columbia University
Susi Pudjiastuti tidak menyelesaikan pendidikan SMA dan tidak mempunyai gelar sarjana reguler. Namun, ia membangun usaha di bidang perikanan dan penerbangan melalui keberanian, pengalaman, serta kerja keras. Ketika dipercaya menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi dikenal karena ketegasannya memberantas penangkapan ikan ilegal dan memperjuangkan keberlanjutan sumber daya laut Indonesia. Pada 26 September 2018, Susi memberikan kuliah umum mengenai ekonomi kelautan berkelanjutan di School of International and Public Affairs, Columbia University, New York, Amerika Serikat. Di hadapan lingkungan akademik internasional, ia menjelaskan pengalaman dan kebijakan Indonesia dalam menjaga laut serta memberantas praktik penangkapan ikan ilegal. Susi menunjukkan bahwa pengetahuan tidak hanya datang dari buku. Pengalaman lapangan yang dipelajari, dievaluasi, dan dikembangkan secara serius juga dapat menjadi sumber keahlian yang dihargai dunia.
Jangan Minder, Jangan Berhenti Belajar
Kisah para tokoh tersebut tidak boleh dipahami sebagai alasan untuk menganggap pendidikan formal tidak penting. Pendidikan tetap sangat penting. Sekolah dan perguruan tinggi memberikan dasar pengetahuan, metode berpikir, jaringan, disiplin, serta kesempatan yang lebih besar untuk berkembang. Anak-anak muda yang memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan harus memanfaatkannya dengan sungguh-sungguh. Namun, bagi masyarakat yang belum mempunyai kesempatan memperoleh gelar sarjana, jangan merasa rendah diri dan jangan menganggap masa depan telah berakhir. Tidak memiliki gelar sarjana bukan berarti tidak mempunyai kecerdasan. Tidak pernah duduk di perguruan tinggi bukan berarti tidak dapat menguasai suatu bidang. Tidak memiliki ijazah tinggi juga bukan berarti tidak mampu memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Yang tidak boleh berhenti adalah proses belajarnya.
Belajarlah melalui buku, pelatihan, pengalaman kerja, organisasi, teknologi, pergaulan, dan kehidupan sehari-hari. Bangun kemampuan yang nyata. Perbanyak membaca. Berlatih berbicara dan menulis. Kuasai teknologi. Pelajari bahasa asing. Jaga kejujuran dan disiplin. Jangan takut memulai dari pekerjaan yang kecil. Menurut saya, gelar merupakan sebuah kehormatan dan pencapaian yang patut dihargai. Namun, gelar bukanlah satu-satunya ukuran kecerdasan dan keberhasilan seseorang. Masyarakat pada akhirnya tidak hanya bertanya mengenai ijazah yang kita miliki. Masyarakat juga akan melihat apa yang kita kerjakan, masalah apa yang dapat kita selesaikan, dan manfaat apa yang kita berikan kepada lingkungan sekitar. Ajip Rosidi, Buya Hamka, Adam Malik, Pramoedya Ananta Toer, Emha Ainun Nadjib, dan Susi Pudjiastuti berasal dari bidang yang berbeda. Namun, mereka memiliki kesamaan: tidak membiarkan keterbatasan pendidikan formal menghentikan proses belajar dan perjuangan hidup. Karena itu, kepada siapa pun yang belum memiliki kesempatan memperoleh gelar sarjana, jangan menyerah.
Pandangan dan Saran Binton Nadapdap
Menurut saya, orang yang tidak memiliki gelar akademik tidak boleh merasa hidupnya telah gagal atau masa depannya telah tertutup. Gelar memang penting, tetapi bukan satu-satunya jalan untuk menjadi orang yang berhasil, berpengaruh, dan bermanfaat bagi masyarakat. Banyak tokoh besar lahir bukan karena memiliki deretan gelar, melainkan karena mereka mempunyai kemauan belajar, keberanian menghadapi kesulitan, ketekunan membangun kemampuan, dan konsistensi menghasilkan karya. Karena itu, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh siapa pun yang belum memiliki kesempatan menempuh pendidikan tinggi.
Pertama, jangan pernah berhenti belajar. Belajar tidak selalu harus dilakukan di ruang kuliah. Pengetahuan dapat diperoleh melalui buku, pelatihan, seminar, pengalaman kerja, organisasi, pergaulan, teknologi, dan persoalan kehidupan sehari-hari. Seseorang yang rajin belajar secara mandiri dapat memiliki pengetahuan yang lebih luas daripada orang yang berhenti belajar setelah memperoleh ijazah.
Kedua, pilih satu bidang yang benar-benar ingin dikuasai. Jangan hanya ingin dikenal, tetapi tidak memiliki keahlian. Kuasailah bidang usaha, seni, kebudayaan, agama, politik, teknologi, pertanian, olahraga, komunikasi, atau bidang lainnya secara serius. Dunia akan menghargai seseorang yang mempunyai kemampuan nyata dan dapat memberikan jalan keluar.
Ketiga, perbanyak membaca dan menulis. Membaca memperluas cara berpikir, sedangkan menulis melatih seseorang menyampaikan gagasan secara teratur. Banyak tokoh besar dikenal karena pemikirannya dapat dipahami, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Keempat, bangun keberanian berbicara. Orang yang memiliki pengalaman dan pengetahuan harus mampu menyampaikannya dengan bahasa yang baik. Latihlah kemampuan berbicara di lingkungan kecil, organisasi, komunitas, seminar, media sosial, maupun forum masyarakat. Seorang pembicara besar biasanya memulai dari ruang yang sederhana.
Kelima, kuasai teknologi dan bahasa asing. Perkembangan teknologi telah membuka kesempatan bagi siapa saja untuk belajar dari berbagai negara, memperkenalkan karya, membangun jaringan, dan berbicara kepada masyarakat dunia. Bahasa asing, terutama bahasa Inggris, dapat menjadi jembatan untuk membawa gagasan Indonesia ke tingkat internasional.
Keenam, bangun karya, bukan hanya citra. Jangan mengejar popularitas tanpa kemampuan dan manfaat. Karya dapat berbentuk buku, usaha, inovasi, kegiatan sosial, penelitian mandiri, seni, pelayanan masyarakat, atau keberhasilan menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar. Karya yang nyata akan berbicara lebih kuat daripada gelar yang hanya ditulis di belakang nama.
Ketujuh, jaga integritas. Kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kesetiaan pada pekerjaan, dan keberanian mempertahankan kebenaran merupakan modal besar untuk memperoleh kepercayaan. Banyak orang cerdas kehilangan masa depan karena tidak mampu menjaga kepercayaan.
Kedelapan, jangan takut memulai dari bawah. Tidak ada tokoh besar yang langsung berada di puncak. Mereka pernah mengalami penolakan, kegagalan, keterbatasan ekonomi, dan pandangan meremehkan dari orang lain. Perbedaan antara orang yang berhasil dan yang berhenti sering kali terletak pada keberanian untuk bangkit kembali.
Kesembilan, bangun jaringan pergaulan yang sehat. Bergaullah dengan orang-orang yang rajin bekerja, suka belajar, berani bermimpi, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Lingkungan yang baik akan membantu seseorang bertumbuh, sedangkan lingkungan yang buruk dapat menghabiskan waktu dan masa depan.
Kesepuluh, tetaplah rendah hati ketika mulai berhasil. Pengetahuan dan pengalaman tidak boleh membuat seseorang merasa paling hebat. Tokoh yang besar adalah orang yang bersedia mendengar, menerima kritik, memperbaiki kesalahan, dan terus belajar dari siapa pun.
Menurut saya, orang yang tidak memiliki gelar akademik tetap dapat menjadi tokoh nasional bahkan tokoh dunia apabila mempunyai kemampuan yang diakui, karya yang bermanfaat, pemikiran yang kuat, dan integritas yang terjaga. Namun, perjuangan tersebut membutuhkan disiplin yang lebih besar. Ketika seseorang tidak memiliki ijazah tinggi, ia harus membuktikan dirinya melalui kualitas kerja, kedalaman pengetahuan, dan hasil nyata. Jangan habiskan waktu untuk menyesali kesempatan pendidikan yang belum diperoleh. Gunakan waktu untuk membangun kemampuan yang dapat dibuktikan.
Tidak memiliki gelar bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Selama seseorang terus belajar, bekerja keras, menjaga kejujuran, dan menghasilkan karya, pintu untuk menjadi tokoh besar tetap terbuka.
Gelar dapat memperkuat perjalanan seseorang, tetapi karya, ketekunan, keberanian, dan manfaat bagi masyarakatlah yang membuat namanya dikenang dunia.
