Depok – Anggota DPRD Kota Depok Komisi A sekaligus Ketua DPD PSI Kota Depok, Binton Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H., dan juga mahasiswa Doktor S3 Hukum Bisnis Universitas Kristen Indonesia mendukung komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat pemberantasan korupsi melalui pemanfaatan teknologi modern untuk menelusuri Bunker, aset hasil tindak pidana korupsi yang diduga disembunyikan, termasuk di bunker maupun lokasi tersembunyi lainnya, yang dijadikan safe house.
Menurut Binton, langkah tersebut merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam menyelamatkan keuangan negara sekaligus memberikan efek jera kepada pelaku korupsi. “Korupsi merupakan kejahatan luar biasa yang merampas hak rakyat. Karena itu, negara harus memanfaatkan seluruh kemampuan yang dimiliki, termasuk teknologi modern, untuk melacak aset hasil korupsi yang disembunyikan. Apabila memang ada kekayaan negara yang disimpan di bunker atau lokasi tersembunyi lainnya, maka harus dapat ditemukan melalui mekanisme hukum yang berlaku,” ujar Binton. Ia menegaskan bahwa pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dengan menghukum pelaku, tetapi juga harus memastikan seluruh aset hasil korupsi dapat dipulihkan dan dikembalikan kepada negara.
“Uang negara yang berhasil diselamatkan harus kembali dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, pelayanan kesehatan, ketahanan pangan, meningkatkan pertumbuhan UMKM dan insentif buat pelaku UMKM termasuk infrasruktur pembangunan pasar-pasar UMKM modern hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat. Itu yang menjadi tujuan utama pemberantasan korupsi,” katanya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk memberantas korupsi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi modern. Pernyataan tersebut disampaikan saat menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2027 dalam Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026. Dalam pidatonya, Presiden mengingatkan agar para pejabat tidak lagi mencoba melakukan korupsi maupun menyembunyikan kekayaan hasil kejahatan karena perkembangan teknologi saat ini mampu membantu aparat penegak hukum melakukan pelacakan. “Saya sedih kalau sekarang masih ada pejabat yang coba korupsi. Cepat ketahuan. Sekarang ada teknologi, ada radar, kita bisa lihat bawah tanah,” kata Presiden Prabowo.
Presiden kemudian menjelaskan bahwa pemerintah akan memanfaatkan teknologi yang selama ini digunakan dalam sistem pertahanan untuk mendukung penelusuran aset hasil korupsi. “Saya akan gunakan teknologi yang paling canggih. Teknologi pertahanan bisa mencari gudang senjata di bawah tanah, radar sekarang bisa mencari ranjau. Kita akan pakai untuk mencari bunker-bunker. Jadi jangan merasa aman kalau menyembunyikan kekayaan hasil korupsi,” tegas Prabowo. Prabowo juga menekankan bahwa perkembangan teknologi satelit membuat pengawasan menjadi semakin akurat. “Sekarang tiap pohon bisa difoto dari atas. Mau menyembunyikan apa pun, dengan teknologi sekarang bisa diketahui,” ujar Presiden yang disambut tepuk tangan peserta sidang. Menurut Presiden, kemajuan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat penegakan hukum, meningkatkan transparansi, dan memastikan aset negara yang hilang akibat korupsi dapat dipulihkan demi kepentingan rakyat.
Binton Nadapdap menilai komitmen Presiden tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius memperkuat pemberantasan korupsi melalui pendekatan yang lebih modern. “Teknologi merupakan instrumen pendukung yang sangat penting, namun yang lebih utama adalah komitmen moral seluruh penyelenggara negara untuk menjaga integritas, transparansi, dan akuntabilitas. Dengan sinergi antara teknologi, aparat penegak hukum, dan sistem pengawasan yang kuat, saya optimistis upaya pemberantasan korupsi di Indonesia akan semakin efektif, membuat jera dan ketakutan para koruptor, kita bisa lihat apa yang terjadi saat ini disalah satu cafe dan rumah mewah yang diduga milik pejabat tinggi aparat penegak hukum diantaranya 500 miliar lebih mata uang asing dan 57 kg emas batangan, semoga ini menjadi titik awal terkuaknya para koruptor kelas atas untuk mengungkap siapa saja yang terlibat” tutup Binton.
