Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 Tahun Pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Setiap orang tua tentu menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik, sopan, percaya diri, mandiri, dan memiliki masa depan yang berhasil. Namun, terkadang kita terlalu fokus memikirkan keberhasilan anak di masa depan, sementara melupakan bahwa karakter dan kepribadian anak mulai dibentuk melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat yang diberikan, tetapi juga dari cara orang tua berbicara, bersikap, menyelesaikan persoalan, dan memperlakukan orang lain. Pendidikan karakter yang paling awal dan paling dekat dengan kehidupan anak sesungguhnya dimulai dari rumah.
Ada lima prinsip sederhana yang perlu diperhatikan orang tua dalam membentuk karakter anak sejak dini.
Pertama, ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang lembut? Didiklah dengan kasih sayang, bukan kemarahan.
Anak yang melakukan kesalahan membutuhkan arahan dan pemahaman, bukan selalu bentakan atau hukuman yang membuatnya ketakutan. Tegas dalam mendidik tetap diperlukan, tetapi ketegasan harus disertai kasih sayang. Pelukan, komunikasi yang baik, dan nasihat yang tepat dapat membantu anak memahami kesalahannya tanpa merasa kehilangan kasih orang tua.
Kedua, ingin anak percaya diri? Hargai usaha dan proses belajarnya.
Jangan hanya memberikan pujian ketika anak mendapatkan nilai tinggi atau memenangkan perlombaan. Hargailah keberanian mereka mencoba, ketekunan dalam belajar, dan usaha memperbaiki kesalahan. Anak perlu memahami bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan.
Ketiga, ingin anak terbuka kepada orang tua? Jadilah pendengar yang baik.
Sering kali orang tua ingin anak bercerita dengan jujur, tetapi ketika anak mulai berbicara, justru langsung dimarahi atau dihakimi. Akibatnya, anak menjadi takut menyampaikan persoalan yang dihadapinya. Berikan ruang bagi anak untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya. Kedekatan antara orang tua dan anak tidak hanya dibangun melalui nasihat, tetapi juga melalui kesediaan untuk mendengarkan.
Keempat, ingin anak mandiri? Berikan tanggung jawab sejak kecil.
Kemandirian tidak muncul secara tiba-tiba ketika anak beranjak dewasa. Biasakan mereka melakukan kegiatan sederhana sesuai usianya, seperti merapikan mainan, membereskan tempat tidur, atau membantu pekerjaan rumah yang aman. Dengan demikian, anak belajar bertanggung jawab, menghargai pekerjaan, dan memahami bahwa setiap anggota keluarga memiliki peran.
Kelima, ingin anak sopan dan menghargai orang lain? Mulailah dari keteladanan orang tua.
Biasakan mengucapkan kata tolong, maaf, dan terima kasih dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya menuntut anak menghormati orang tua, sementara orang tua sendiri kurang menunjukkan penghargaan kepada anak maupun orang lain. Anak lebih mudah memahami nilai kesopanan ketika melihat contoh nyata dari lingkungan terdekatnya.
Menurut saya, keberhasilan orang tua dalam mendidik anak tidak cukup diukur dari prestasi akademik, kekayaan, atau jabatan yang kelak dimiliki anak, tetapi juga dari karakter, integritas, kemandirian, serta kemampuannya menghargai sesama. Kita perlu menyadari bahwa anak-anak mungkin tidak selalu mengingat setiap nasihat yang pernah disampaikan. Namun, cara orang tua memperlakukan mereka dapat meninggalkan kesan yang mendalam hingga dewasa.
Karena itu, jangan menunggu anak tumbuh besar untuk mulai mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Mulailah dari kebiasaan kecil, komunikasi yang baik, kasih sayang, kedisiplinan, dan keteladanan dalam keluarga. Pada akhirnya, anak yang baik tidak hanya dibentuk melalui banyaknya nasihat, tetapi melalui contoh kehidupan yang mereka saksikan setiap hari.
Jika kita ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang lembut, percaya diri, terbuka, mandiri, dan sopan, mulailah dengan menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam sikap kita sebagai orang tua. Sebab, warisan terbaik yang dapat diberikan orang tua bukan hanya pendidikan dan harta benda, tetapi juga karakter, kasih sayang, dan nilai kehidupan yang akan menjadi bekal anak sepanjang hidupnya.(BN)
