Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 Tahun Pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Dalam kehidupan, setiap orang tentu ingin dihargai, dihormati, dan dianggap penting, baik oleh keluarga, pasangan, sahabat, maupun lingkungan sekitarnya. Namun, kita perlu memahami bahwa penghargaan yang tulus tidak cukup diperoleh hanya melalui kata-kata, jabatan, penampilan, atau kekayaan, melainkan melalui sikap, tanggung jawab, dan manfaat yang kita berikan.
Seseorang mungkin memiliki banyak uang dan kedudukan tinggi, tetapi apabila kehadirannya tidak membawa kebaikan bagi orang lain, belum tentu ia memperoleh penghormatan yang tulus.
Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana, tetapi dapat dipercaya, bertanggung jawab, mau membantu, dan memberikan solusi ketika dibutuhkan, sering kali memiliki tempat istimewa di hati orang-orang sekitarnya.
Menjadi Berarti bagi Pasangan dan Keluarga
Dalam hubungan rumah tangga, penghargaan tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan memberikan materi. Kehadiran, perhatian, kesetiaan, tanggung jawab, dan kesediaan menghadapi persoalan bersama juga merupakan bentuk kontribusi yang sangat berharga.
Pasangan tidak hanya membutuhkan seseorang yang mampu memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga seseorang yang dapat dipercaya, diandalkan, dan memberikan rasa aman.
Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang mampu menghadirkan manfaat, membantu menyelesaikan persoalan, dan menjaga kepercayaan akan lebih mudah membangun hubungan yang baik dengan lingkungannya.
Jangan Hanya Ingin Dihargai, Jadilah Pribadi yang Bernilai
Menurut saya, daripada terlalu sibuk menuntut penghargaan dari orang lain, lebih baik kita terus memperbaiki kualitas diri. Tingkatkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan ekonomi, kedewasaan berpikir, dan kepedulian sosial. Jadilah pribadi yang mampu memberikan kontribusi, sekecil apa pun bentuknya.
Namun, jangan sampai keinginan untuk menjadi bermanfaat membuat kita kehilangan harga diri. Setiap manusia tetap berharga, bahkan ketika sedang mengalami kesulitan atau belum mampu memberikan banyak hal. Hubungan yang sehat membutuhkan penghargaan timbal balik, bukan sekadar menilai seseorang dari kegunaannya.
Pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang seberapa besar keberhasilan yang kita raih, tetapi juga tentang seberapa banyak kebaikan yang dapat kita hadirkan. Jangan hanya mengejar agar dipandang orang lain. Bangunlah kualitas diri agar kehadiran kita benar-benar memiliki arti. Karena orang yang bernilai bukan hanya mereka yang memiliki sesuatu, tetapi juga mereka yang mampu memberikan sesuatu yang baik bagi kehidupan orang lain.
Ingatlah, jabatan bisa berakhir, kekayaan bisa berkurang, dan penampilan bisa berubah. Tetapi karakter, ketulusan, tanggung jawab, dan kebaikan akan selalu menjadi alasan seseorang dikenang dan dihargai.
Jadilah pribadi yang kehadirannya membawa manfaat, sikapnya menghadirkan ketenangan, dan tindakannya memberikan kebaikan bagi keluarga, pasangan, serta masyarakat.(BN)
