Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Kehidupan modern memberikan ruang yang semakin luas bagi setiap orang untuk berbicara, berpendapat, bereaksi, dan membagikan kehidupannya kepada publik. Namun menurut saya, kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi harus diikuti dengan kematangan dalam bersikap.
Kedewasaan seseorang tidak hanya diukur dari usia, pendidikan, jabatan, ataupun status sosial. Kedewasaan justru terlihat dari bagaimana seseorang mampu mengendalikan ucapan, menjaga batas kehidupan pribadi, menghormati orang lain, dan mempertahankan integritas ketika menghadapi tekanan.
Kebebasan Berbicara Harus Disertai Tanggung Jawab
Setiap orang mempunyai hak untuk menyampaikan pendapat, tetapi kebebasan tersebut tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab moral dan sosial. Tidak setiap kritik harus dibalas, tidak setiap perbedaan harus berubah menjadi pertengkaran, dan tidak setiap persoalan harus diselesaikan dengan kemarahan. Kemampuan menahan diri bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari kecerdasan emosional dan kedewasaan. Ucapan yang disampaikan dalam beberapa detik dapat membawa dampak panjang bagi hubungan, reputasi, bahkan kehidupan orang lain. Karena itu, berpikir sebelum berbicara merupakan bentuk penghormatan kepada diri sendiri dan sesama.
Menjaga Privasi Adalah Bagian dari Menjaga Martabat
Media sosial telah mengubah batas antara ruang pribadi dan ruang publik. Persoalan keluarga, pekerjaan, pertemanan, keberhasilan, bahkan konflik pribadi dengan mudah menjadi konsumsi banyak orang. Menurut saya, tidak semua hal yang dapat dipublikasikan berarti harus dipublikasikan. Menjaga privasi bukan berarti menutupi kebenaran, tetapi memahami bahwa manusia membutuhkan batas dalam kehidupan sosialnya. Demikian pula ketika menghadapi persoalan orang lain, jangan terlalu cepat menilai atau mengambil kesimpulan terhadap sesuatu yang belum kita pahami secara utuh. Kebijaksanaan dimulai dari kemampuan mengetahui batas antara peduli dan mencampuri.
Integritas Harus Lebih Tinggi daripada Keinginan Mendapat Pengakuan
Dalam kehidupan, seseorang akan berhadapan dengan berbagai kepentingan, tekanan, pujian, dan kritik. Pada kondisi seperti itulah karakter diuji. Menurut saya, orang yang berintegritas tidak mudah mengubah prinsip hanya untuk memperoleh penerimaan atau keuntungan sesaat. Reputasi berbicara tentang bagaimana orang lain melihat kita, sedangkan integritas berbicara tentang siapa diri kita ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Semakin tinggi pendidikan, jabatan, dan kepercayaan yang diberikan kepada seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga sikap dan memberikan keteladanan.
Saran untuk Masyarakat
Masyarakat perlu terus membangun budaya komunikasi yang lebih sehat di tengah derasnya arus informasi. Biasakan memeriksa informasi sebelum mempercayainya, memahami persoalan sebelum menghakimi, serta berpikir sebelum berbicara dan membagikan sesuatu. Jangan mudah terpancing oleh potongan informasi, jangan menghukum seseorang berdasarkan cerita sepihak, dan jangan menjadikan media sosial sebagai ruang untuk mempermalukan atau menyerang kehidupan pribadi orang lain.
Masyarakat yang maju bukan hanya masyarakat yang menguasai teknologi, tetapi masyarakat yang mampu menggunakan kebebasan dengan tanggung jawab. Pada akhirnya, kualitas manusia tidak hanya dinilai dari seberapa tinggi pendidikannya, seberapa besar kekuasaannya, atau seberapa banyak harta yang dimilikinya, tetapi dari bagaimana ia menjaga ucapan, menghormati batas, dan mempertahankan integritas.
Menurut saya, semakin tinggi perjalanan intelektual dan kehidupan seseorang, seharusnya semakin rendah hati sikapnya, semakin hati-hati ucapannya, dan semakin besar tanggung jawabnya kepada masyarakat. Karena ilmu seharusnya tidak hanya membuat seseorang semakin pintar, tetapi juga semakin bijaksana.(BN)
