Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Ketua DPD PSI Kota Depok | Anggota Komisi A DPRD Kota Depok
Ada pesan pendidikan politik yang menarik dari Bestari Barus, Ketua Bidang Politik DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Pesan tersebut disampaikan pada acara pelantikan DPRt di DPC Kecamatan Sukmajaya dan DPRt Kecamatan Cimanggis, masing-masing enam DPRt dengan total 12 DPRt. Kegiatan tersebut dihadiri pengurus DPD, Ketua DPD PSI Kota Depok Binton Jhonson Nadapdap, serta pengurus DPD, DPC dan DPRt. Kegiatan berlangsung pada Sabtu, 19 September 2026, pukul 12:00 WIB, sekaligus makan siang di Dapur Ngacir milik Mandra, pemeran dalam Si Doel Anak Sekolahan. Pesan yang disampaikan menggunakan perumpamaan sederhana, tetapi mempunyai makna yang dalam tentang kecerdasan, strategi, keberuntungan, dan terutama totalitas dalam sebuah perjuangan politik. Bestari menggambarkannya dengan sebuah urutan:
Orang bodoh dikalahkan orang pintar. Orang pintar dikalahkan orang cerdas. Orang cerdas dapat dikalahkan orang lihai. Orang lihai dapat dikalahkan orang hoki. Orang hoki dapat dikalahkan orang beruntung. Namun, orang beruntung pun dapat dikalahkan oleh “orang gila”.
Pertanyaannya, siapakah “orang gila” yang dimaksud?
Tentu bukan orang dengan gangguan kejiwaan ataupun kehilangan akal sehat. “Orang Gila PSI” merupakan metafora untuk menggambarkan seseorang yang mempunyai kesungguhan, disiplin, konsistensi, dan totalitas luar biasa terhadap apa yang diperjuangkannya.
Dalam konteks PSI, “gila” berarti ketika seseorang bangun tidur sudah memikirkan apa yang dapat diperbuat, bekerja sepanjang hari dengan kesungguhan, bergaul dengan masyarakat, mendengarkan persoalan mereka, dan sebelum tidur kembali mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan. Dengan demikian, ada tiga kata penting dalam makna “Orang Gila PSI”, yaitu berpikir, bekerja, dan berbuat.
Berpikir untuk PSI
Berpikir berarti tidak menjalankan politik sekadar mengikuti rutinitas. Seorang kader perlu memahami persoalan masyarakat, mempelajari perubahan sosial, membaca kebutuhan rakyat, serta memahami apa yang sedang terjadi di lingkungan sekitarnya. Berpikir juga berarti berani melakukan evaluasi. Apa yang sudah baik dipertahankan, apa yang belum berjalan diperbaiki, dan apa yang tidak memberikan manfaat harus dikoreksi. Karena itu, totalitas tidak berarti berhenti berpikir kritis. Justru kecintaan terhadap organisasi harus membuat seseorang semakin berani mengatakan apa yang benar dan memperbaiki apa yang masih kurang.
Bekerja untuk PSI
Pikiran yang baik tidak akan mempunyai arti apabila tidak diterjemahkan menjadi pekerjaan nyata. Politik membutuhkan kerja yang konsisten. Bekerja bukan hanya pada saat ada kegiatan besar, menjelang pemilu, ataupun ketika masyarakat sedang memberikan perhatian. Kerja politik yang sehat dilakukan secara terus-menerus. Turun bertemu masyarakat, mendengarkan keluhan, mengawal aspirasi, menghadiri kegiatan warga, memahami persoalan lingkungan, membantu membuka komunikasi dengan pemerintah, dan menjalankan fungsi politik secara bertanggung jawab merupakan bagian dari pekerjaan tersebut. Di sinilah pesan Bestari menjadi relevan. Kecerdasan tanpa kerja dapat kehilangan makna. Kelihaian tanpa konsistensi dapat kehilangan momentum. Hoki tidak selalu datang dua kali dan keberuntungan tidak dapat dijadikan sandaran selamanya. Namun, kerja yang dilakukan secara konsisten dapat membangun pengalaman, jaringan, kepercayaan, dan kemampuan organisasi.
Berbuat untuk PSI Berarti Berbuat untuk Masyarakat
Menurut saya, bagian inilah yang harus menjadi ukuran paling penting. Jika seseorang mengatakan dirinya “gila PSI”, kegilaannya jangan hanya terlihat dari seberapa sering ia menyebut nama PSI, mengenakan atribut PSI, atau berbicara mengenai PSI. Ukuran sebenarnya adalah apa yang diperbuatnya untuk masyarakat. Jika ada masyarakat mengalami persoalan administrasi, apakah kita membantu? Jika UMKM membutuhkan pendampingan, apakah kita hadir? Jika lingkungan menghadapi persoalan sampah, jalan, drainase, pendidikan, kesehatan, atau pelayanan publik, apakah kita ikut mencari jalan keluar? Dengan demikian, “gila PSI” harus berarti gila bekerja dan berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena partai politik pada akhirnya bukan tujuan akhir. Partai merupakan salah satu instrumen demokrasi untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui mekanisme yang sah dan konstitusional.
Mengapa “Orang Gila” Dapat Mengalahkan Orang Beruntung?
Inilah inti perumpamaan tersebut. Orang pintar mempunyai pengetahuan. Orang cerdas mempunyai kemampuan membaca keadaan. Orang lihai mempunyai strategi. Orang hoki mendapatkan momentum. Orang beruntung mendapatkan kesempatan. Tetapi semua itu dapat berubah. Sedangkan orang yang mempunyai kesungguhan dan disiplin luar biasa tidak hanya menunggu kesempatan. Ia mempersiapkan dirinya ketika kesempatan belum datang. Ia bekerja ketika orang lain berhenti. Ia belajar ketika orang lain merasa sudah tahu. Ia hadir ketika orang lain tidak hadir. Ia mendengar ketika orang lain hanya berbicara. Ia mengevaluasi ketika orang lain sudah merasa puas. Itulah makna “kegilaan” yang sebenarnya dalam perumpamaan ini.
Jangan Salah Memahami “Gila PSI”
Namun, ada batas yang tidak boleh dilupakan. Totalitas bukan fanatisme buta. Mencintai PSI bukan berarti harus membenci partai lain. Mendukung perjuangan organisasi sendiri bukan berarti merendahkan orang yang mempunyai pilihan politik berbeda. Indonesia adalah negara demokrasi. Kompetisi politik harus dilakukan melalui gagasan, kerja, pelayanan, serta penghormatan terhadap pilihan rakyat. Karena itu, ketika dikatakan bahwa “Orang Gila PSI” suatu hari dapat mengalahkan mereka yang saat ini mempunyai kekuasaan atau suara lebih besar, maknanya harus ditempatkan dalam kerangka demokrasi. Yang dipertandingkan adalah gagasan, kerja, rekam jejak, dan kepercayaan masyarakat. Rakyatlah yang akhirnya menentukan pilihan melalui pemilu.
Enam Intisari Pendidikan Politik
Dari pesan Bestari Barus tersebut, saya menarik enam pelajaran penting.
Pertama, jangan merasa hebat hanya karena pintar. Pengetahuan harus diwujudkan menjadi tindakan yang bermanfaat.
Kedua, jangan merasa aman hanya karena cerdas dan lihai. Kecerdasan harus disertai kerendahan hati untuk terus belajar dan mendengarkan masyarakat.
Ketiga, jangan menggantungkan perjuangan pada hoki dan keberuntungan. Momentum dapat datang dan pergi, sedangkan organisasi membutuhkan kerja yang sistematis dan berkelanjutan.
Keempat, totalitas harus terlihat dalam perbuatan. Berpikir baik harus menghasilkan kerja, dan kerja harus menghasilkan manfaat.
Kelima, militansi harus berjalan bersama etika politik. Kesetiaan kepada partai tidak boleh menghilangkan penghormatan kepada hukum, demokrasi, dan mereka yang berbeda pilihan.
Keenam, ukuran akhirnya adalah masyarakat. Sebuah organisasi politik mempunyai arti apabila keberadaannya dapat dirasakan melalui gagasan, pelayanan, pengawasan, dan perjuangan aspirasi publik.
Penutup
Bagi saya, pesan Bestari Barus bukan sekadar permainan kata mengenai siapa yang paling hebat. Ada pendidikan politik di dalamnya. Orang bodoh dapat dikalahkan orang pintar. Orang pintar dapat dikalahkan orang cerdas. Orang cerdas dapat dikalahkan orang lihai. Orang lihai dapat dikalahkan orang hoki. Orang hoki dapat dikalahkan orang beruntung. Dan orang beruntung dapat dikalahkan oleh “orang gila”. Tetapi “Orang Gila PSI” yang dimaksud harus dipahami secara benar. Ia adalah orang yang totalitas berpikir, totalitas bekerja, dan totalitas berbuat. Bukan bekerja hanya ketika dilihat, bukan hadir hanya ketika dibutuhkan untuk kepentingan politik, dan bukan bergerak hanya menjelang pemilu. Ia berpikir bagaimana organisasi dapat menjadi lebih baik. Ia bekerja dengan disiplin dan tanggung jawab. Ia berbuat sesuatu yang nyata bagi masyarakat.
Karena pada akhirnya, kepintaran dapat dikalahkan kecerdasan, kecerdasan dapat dikalahkan kelihaian, kelihaian dapat dikalahkan hoki, dan hoki dapat dikalahkan keberuntungan. Namun, keberuntungan pun mempunyai batas. Yang tidak boleh berhenti adalah kemauan untuk berpikir, bekerja, dan berbuat. Itulah makna “Orang Gila PSI”: bukan kehilangan akal sehat, melainkan totalitas dalam berpikir, bekerja, dan berbuat dengan tetap menjunjung etika, hukum, demokrasi, dan kepentingan masyarakat. Orang yang betul-betul “gila” berjuang untuk PSI adalah mereka yang bekerja dengan totalitas untuk membesarkan PSI melalui kerja nyata dan kepercayaan masyarakat. (BN)
