Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Kesehatan bukan sesuatu yang dibangun secara instan. Ia merupakan hasil dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang. Tetap aktif bergerak, mengatur pola makan, tidak makan secara berlebihan, menjaga hubungan sosial, beristirahat dengan cukup, serta memiliki tujuan hidup merupakan bagian dari disiplin kehidupan. Dalam masyarakat Jepang dikenal konsep Hara Hachi Bu, yaitu kebiasaan berhenti makan sebelum benar-benar kenyang. Ada pula konsep ikigai, yang secara sederhana dapat dipahami sebagai alasan atau tujuan yang membuat seseorang mempunyai semangat untuk menjalani kehidupannya. Bagi saya, dua konsep tersebut mengajarkan sesuatu yang lebih luas daripada sekadar persoalan kesehatan. Di dalamnya terdapat nilai tentang pengendalian diri, keseimbangan, disiplin, serta kemampuan manusia memberi makna terhadap kehidupannya.
Kesehatan Adalah Investasi Jangka Panjang
Sering kali manusia baru menyadari pentingnya kesehatan ketika tubuh mulai memberikan tanda-tanda masalah. Padahal menjaga kesehatan seharusnya dimulai sebelum penyakit datang. Kita terbiasa berbicara tentang investasi dalam bentuk uang, rumah, pendidikan, atau usaha. Tetapi ada investasi yang jauh lebih mendasar, yaitu investasi terhadap kesehatan tubuh dan pikiran kita sendiri.
Tanpa kesehatan yang baik, berbagai pencapaian dalam kehidupan juga akan sulit dinikmati secara maksimal. Karena itu, pembangunan kualitas manusia tidak cukup hanya berbicara tentang pendidikan dan ekonomi. Kesadaran masyarakat mengenai pola hidup sehat juga merupakan bagian penting dalam membangun bangsa yang produktif.
Hidup Harus Memiliki Tujuan
Ada satu hal menarik lainnya, yaitu pentingnya memiliki tujuan hidup. Seseorang yang mempunyai alasan untuk terus berkarya, belajar, bekerja, melayani keluarga, membantu masyarakat, atau memberikan manfaat kepada orang lain akan mempunyai energi kehidupan yang berbeda.
Usia seharusnya tidak selalu menjadi batas untuk tetap produktif. Menurut saya, selama seseorang masih memiliki kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan kesempatan untuk memberikan manfaat, maka kehidupan itu masih mempunyai ruang untuk terus berkarya.
Saya sendiri percaya bahwa belajar tidak mengenal batas usia. Pendidikan, pengalaman, dan perjalanan kehidupan seharusnya membuat seseorang semakin matang dalam berpikir dan semakin besar keinginannya untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
Saran untuk Masyarakat
Saya mengajak masyarakat untuk mulai membangun pola hidup sehat dari sesuatu yang sederhana. Tidak harus menunggu memiliki fasilitas olahraga yang mahal. Mulailah dengan lebih banyak berjalan dan bergerak dalam aktivitas sehari-hari. Tidak perlu selalu mengikuti pola makan yang rumit. Mulailah dengan mengendalikan porsi makanan, memperbanyak makanan bergizi, serta mengurangi kebiasaan makan secara berlebihan. Jaga pula hubungan dengan keluarga, sahabat, tetangga, dan lingkungan sosial.
Manusia bukan hanya membutuhkan kesehatan fisik, tetapi juga membutuhkan kehidupan sosial yang sehat. Dan yang tidak kalah penting, miliki tujuan hidup. Bangunlah setiap pagi dengan alasan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk keluarga, pekerjaan, lingkungan, maupun masyarakat.
Pada akhirnya, umur panjang bukan hanya persoalan menambah jumlah tahun dalam kehidupan. Yang lebih penting adalah menambah kehidupan yang berkualitas di dalam setiap tahun yang kita miliki. Karena hidup yang baik bukan hanya tentang berapa lama kita berada di dunia, tetapi seberapa sehat, bermakna, produktif, dan bermanfaat kehidupan yang kita jalani.
Mari menjaga kesehatan sebelum sakit, terus belajar sebelum merasa cukup, dan terus memberi manfaat selama Tuhan masih memberikan kesempatan.(BN)
