Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Dalam dunia usaha, kesibukan sering dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin banyak pekerjaan yang harus ditangani sendiri, semakin terasa bahwa usaha sedang berkembang. Namun menurut saya, kesibukan yang terus bertambah belum tentu menunjukkan bisnis semakin sehat. Bisa jadi justru menunjukkan bahwa bisnis terlalu bergantung kepada pemiliknya. Seorang pelaku usaha dapat bekerja sejak pagi hingga malam, mengurus pelanggan, membeli bahan, mengecek produksi, membalas pesan, mengatur pegawai, hingga menangani keuangan sendiri. Dalam jangka pendek hal itu mungkin masih dapat dilakukan, tetapi ketika usaha semakin besar, pola seperti ini justru dapat menjadi hambatan.
Bisnis Tidak Boleh Bergantung pada Satu Orang
Menurut saya, salah satu tanda usaha mulai naik kelas adalah ketika kegiatan operasional tetap dapat berjalan meskipun pemilik tidak mengawasi setiap pekerjaan secara langsung. Artinya, usaha sudah memiliki pembagian tugas, prosedur kerja, target, pencatatan, serta orang-orang yang memahami tanggung jawabnya. Jika setiap keputusan kecil harus menunggu pemilik, maka pertumbuhan usaha akan terbatas oleh waktu dan kemampuan satu orang. Tujuan membangun bisnis bukan membuat pemilik semakin sibuk, tetapi membangun sistem yang membuat organisasi semakin kuat.
Kerja Keras Harus Diikuti Sistem
Kerja keras tetap penting. Tidak ada usaha yang bertumbuh tanpa disiplin dan pengorbanan. Namun kerja keras harus berkembang menjadi cara kerja yang lebih terstruktur. Pelaku usaha perlu mulai mencatat proses yang selama ini hanya ada di kepala, mulai dari menerima pesanan, melayani pelanggan, mengontrol persediaan, mengatur uang masuk dan keluar, hingga menjaga kualitas produk. Hal-hal sederhana tersebut dapat dikembangkan menjadi standar operasional atau SOP. Dengan sistem yang jelas, pekerjaan menjadi lebih mudah dipelajari, diukur, dan dievaluasi.
Delegasi Bukan Kehilangan Kendali
Banyak pemilik usaha sulit menyerahkan pekerjaan kepada orang lain karena merasa hasilnya tidak akan sebaik jika dikerjakan sendiri. Menurut saya, perasaan seperti itu dapat dimengerti. Namun apabila semuanya terus dikerjakan sendiri, pemilik justru kehilangan kesempatan untuk memikirkan hal-hal yang lebih strategis. Delegasi bukan berarti melepas tanggung jawab. Delegasi berarti memberikan tanggung jawab yang jelas kepada orang yang tepat, disertai standar kerja dan evaluasi. Pemilik usaha seharusnya semakin banyak menggunakan waktunya untuk melihat arah bisnis: meningkatkan kualitas, memperluas pasar, memperkuat pelayanan, mengendalikan biaya, membangun jaringan, dan menemukan peluang baru.
UMKM Harus Mulai Membangun Organisasi
Bagi pelaku UMKM, membangun sistem tidak harus menunggu usaha menjadi besar. Justru sistem sederhana sebaiknya dimulai sejak usaha masih kecil. Pisahkan uang pribadi dan uang usaha. Catat pemasukan dan pengeluaran. Buat pembagian pekerjaan. Simpan data pelanggan. Tentukan standar pelayanan. Susun target penjualan dan lakukan evaluasi secara berkala. Menurut saya, usaha yang tertib sejak kecil akan lebih siap ketika mendapatkan kesempatan untuk berkembang. Sebaliknya, usaha yang tumbuh cepat tanpa sistem dapat menghadapi persoalan ketika jumlah pelanggan, pegawai, transaksi, dan tanggung jawab semakin besar.
Jangan Hanya Mengejar Omzet
Pertumbuhan bisnis tidak cukup diukur hanya dari omzet. Kita juga perlu melihat keuntungan, arus kas, produktivitas, kepuasan pelanggan, kemampuan tim, serta apakah bisnis dapat berjalan secara konsisten. Omzet yang meningkat tetapi seluruh operasional masih bergantung kepada satu orang bukanlah kondisi ideal. Bisnis yang sehat adalah bisnis yang mempunyai sistem, tim, kontrol, dan arah yang jelas.
Saran Saya untuk Pelaku Usaha
Saran saya, mulailah mengevaluasi pekerjaan yang dilakukan setiap hari. Tanyakan: pekerjaan apa yang benar-benar harus saya kerjakan sendiri, pekerjaan apa yang dapat didelegasikan, dan pekerjaan apa yang sebenarnya dapat dibuat menjadi sistem? Tuliskan proses kerja yang paling sering dilakukan. Buat standar sederhana. Ajarkan kepada tim. Tentukan siapa yang bertanggung jawab. Kemudian lakukan evaluasi secara konsisten. Jangan takut memberikan kepercayaan kepada orang lain, tetapi tetap bangun mekanisme pengawasan yang baik.
Jika seluruh usaha hanya dapat berjalan ketika kita hadir, berarti kita masih mempunyai pekerjaan besar untuk membangun sistem. Menurut saya, pelaku usaha tidak seharusnya bangga hanya karena selalu sibuk. Kesibukan harus menghasilkan kemajuan. Kerja keras harus melahirkan sistem. Dan sistem harus membuat usaha mampu tumbuh lebih besar tanpa seluruh bebannya terus berada di pundak pemilik.
Saran saya sederhana: jangan hanya membangun pekerjaan untuk diri sendiri. Bangunlah usaha yang mempunyai sistem, tim, disiplin, dan budaya kerja. Karena bisnis yang mampu berkembang adalah bisnis yang tetap berjalan dengan baik, bahkan ketika pemiliknya tidak harus mengurus setiap hal sendiri.(BN)
