Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Pandangan mantan Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk periode 2017–2024, Vidjongtius, mengenai pentingnya objektivitas seorang pemimpin dalam memimpin rapat menurut saya memberikan pelajaran manajemen yang sangat relevan, bukan hanya untuk perusahaan, tetapi juga untuk pemerintahan, organisasi, dunia usaha, bahkan kehidupan sehari-hari. Seorang pemimpin memang mempunyai kewenangan mengambil keputusan. Namun menurut saya, kewenangan bukan berarti setiap pembahasan harus selalu diakhiri dengan keputusan pada saat itu juga. Ada kalanya keberanian seorang pemimpin justru terlihat ketika ia mampu mengatakan: keputusan ini belum waktunya diambil. Vidjongtius mengingatkan bahwa objektivitas seorang pemimpin tercermin dari kemampuannya menempatkan kepentingan perusahaan sebagai pertimbangan utama. Artinya, keputusan jangan dibuat berdasarkan ego, kedekatan pribadi, tekanan kelompok, atau sekadar keinginan menunjukkan siapa yang paling berkuasa di dalam ruangan.
Pemimpin Bukan Orang yang Harus Selalu Menang dalam Rapat
Menurut saya, salah satu kesalahan yang kadang terjadi dalam sebuah organisasi adalah ketika rapat berubah menjadi arena untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Padahal tujuan rapat seharusnya bukan memenangkan pendapat seseorang, tetapi mencari keputusan terbaik bagi organisasi. Seorang direktur, ketua, kepala instansi atau pemimpin organisasi memang memiliki kewenangan lebih besar. Namun kewenangan tersebut seharusnya digunakan untuk menjaga arah pembahasan, memastikan semua fakta diperiksa, mendengarkan pendapat yang berbeda, dan pada akhirnya mengambil keputusan berdasarkan kepentingan organisasi. Pemimpin yang baik tidak harus menjadi orang yang paling banyak berbicara. Ia harus menjadi orang yang paling mampu mendengar, menimbang, dan melihat persoalan secara utuh.
Kalau Deadlock, Jangan Dipaksakan
Saya tertarik dengan pandangan bahwa ketika rapat mengalami deadlock, seorang pemimpin tidak harus langsung mengetok palu. Menurut saya, ini merupakan prinsip yang sangat penting. Ada kalanya sebuah persoalan memang belum mempunyai informasi yang cukup. Ada data yang belum lengkap, risiko yang belum dihitung, alternatif yang belum dipertimbangkan, bahkan mungkin peserta rapat sedang berada dalam kondisi emosional sehingga pembahasan menjadi tidak objektif. Dalam keadaan seperti itu, menunda keputusan bukan berarti pemimpin lemah. Justru menunda keputusan dapat menjadi bentuk tanggung jawab apabila keputusan yang terburu-buru mempunyai risiko lebih besar terhadap organisasi. Lebih baik memberikan waktu untuk memeriksa kembali data daripada mengambil keputusan dalam beberapa menit tetapi kemudian menimbulkan kerugian dalam jangka panjang.
Objektivitas Harus Mengalahkan Ego
Seorang pemimpin pasti mempunyai pandangan pribadi. Itu wajar. Tetapi ketika memimpin organisasi, keputusan tidak boleh hanya didasarkan pada apa yang ia sukai. Menurut saya, seorang pemimpin harus mampu membedakan antara “apa yang saya inginkan” dengan “apa yang terbaik bagi organisasi.” Dua hal tersebut tidak selalu sama. Kadang seorang pemimpin mempunyai gagasan yang menurut dirinya sangat baik, tetapi setelah diperiksa dari sisi keuangan ternyata terlalu berisiko. Ada keputusan yang terlihat cepat menghasilkan keuntungan, tetapi berpotensi merusak reputasi perusahaan. Ada pula kebijakan yang populer di internal organisasi tetapi sebenarnya tidak memberikan manfaat jangka panjang. Di sinilah objektivitas dibutuhkan. Data harus berbicara, risiko harus dihitung, pendapat ahli harus didengar, dan dampak kepada pelanggan, pegawai, pemegang saham, masyarakat maupun pihak terkait lainnya harus dipertimbangkan.
Pengalaman di Dunia Perbankan Mengajarkan Pentingnya Kehati-hatian
Selama lebih dari 31 tahun bekerja di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, saya melihat bahwa pengambilan keputusan tidak boleh hanya mengandalkan keberanian. Dunia perbankan mengajarkan pentingnya kehati-hatian, analisis risiko, kelengkapan data, dan proses verifikasi. Misalnya dalam pemberian kredit, seseorang tidak cukup hanya mengatakan bahwa calon debitur terlihat meyakinkan. Harus diperiksa kemampuan membayar, kondisi usaha, arus kas, jaminan, rekam jejak, dan berbagai faktor lainnya. Kalau keputusan kredit dibuat hanya berdasarkan perasaan, kedekatan atau tekanan, risikonya bisa sangat besar. Menurut saya, prinsip yang sama berlaku dalam kepemimpinan. Keputusan yang baik bukan keputusan yang paling cepat, tetapi keputusan yang mempunyai dasar paling kuat.
Berlaku Juga dalam Pemerintahan
Pandangan tersebut menurut saya juga sangat relevan dalam pemerintahan. Pemerintah setiap hari menghadapi berbagai keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat: perizinan, pembangunan, anggaran, pelayanan publik, pengadaan barang dan jasa, tata ruang, pertanahan hingga penyusunan regulasi. Dalam persoalan seperti itu, keputusan yang terburu-buru dapat memberikan dampak kepada banyak orang. Karena itu pemerintah tidak boleh membuat keputusan hanya karena mengejar target administrasi atau ingin menunjukkan bahwa sebuah persoalan sudah selesai. Lebih baik sebuah kebijakan dibahas sedikit lebih lama tetapi matang, daripada cepat diterbitkan kemudian berkali-kali diperbaiki karena tidak mempertimbangkan kondisi di lapangan. Sebagai anggota DPRD Kota Depok, saya melihat proses rapat, pembahasan dan pengawasan juga harus menjunjung objektivitas. Perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang biasa. Yang terpenting adalah bagaimana perbedaan tersebut akhirnya menghasilkan keputusan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Jangan Takut Mendengar Pendapat yang Berbeda
Pemimpin yang hanya mau mendengar orang yang selalu setuju dengannya sebenarnya sedang membatasi informasi yang masuk kepada dirinya sendiri. Menurut saya, orang yang berbeda pendapat belum tentu menjadi lawan. Bisa jadi justru dari pendapat yang berbeda itulah kita menemukan risiko yang sebelumnya tidak terlihat. Dalam rapat, jangan sampai bawahan takut berbicara karena merasa pendapatnya pasti ditolak. Kalau semua orang hanya mengatakan “setuju” untuk menyenangkan pimpinan, organisasi justru berada dalam bahaya. Pemimpin perlu menciptakan ruang agar orang dapat menyampaikan pandangan dengan argumentasi dan data. Setelah itu, keputusan tetap berada di tangan pemimpin sesuai kewenangannya. Namun setidaknya keputusan tersebut telah melalui proses pertimbangan yang lebih luas.
Kepentingan Organisasi Harus di Atas Kepentingan Pribadi
Ketika seseorang menerima jabatan, ia harus memahami bahwa jabatan tersebut bukan hanya memberikan kewenangan, tetapi juga tanggung jawab. Pemimpin perusahaan harus memikirkan keberlanjutan perusahaan. Pemimpin pemerintahan harus memikirkan kepentingan masyarakat. Pemimpin organisasi harus menjaga tujuan organisasi. Menurut saya, setiap kali hendak mengambil keputusan, seorang pemimpin perlu bertanya: apakah keputusan ini benar-benar baik bagi organisasi, atau hanya baik bagi saya dan kelompok saya? Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi alat untuk menjaga objektivitas.
Keputusan Besar Membutuhkan Kepala Dingin
Tidak semua masalah dapat diselesaikan dalam satu pertemuan. Ada persoalan yang membutuhkan kajian tambahan, konsultasi dengan ahli, pemeriksaan aspek hukum, simulasi keuangan, atau analisis dampak. Karena itu, ketika rapat menemui jalan buntu, pemimpin tidak perlu merasa kehilangan wibawa apabila mengatakan bahwa pembahasan akan dilanjutkan. Menurut saya, wibawa pemimpin tidak dibangun dari seberapa sering ia mengetok palu, tetapi dari seberapa berkualitas keputusan yang dihasilkannya. Orang mungkin lupa berapa kali rapat ditunda, tetapi organisasi akan mengingat akibat dari keputusan yang salah.
Pemimpin Harus Tegas, tetapi Tidak Tergesa-gesa
Ketegasan dan kehati-hatian bukan dua hal yang bertentangan. Seorang pemimpin tetap harus berani mengambil keputusan. Tidak boleh semua persoalan terus ditunda karena takut menanggung risiko. Tetapi sebelum keputusan diambil, harus ada proses berpikir yang cukup. Menurut saya, pemimpin yang baik adalah orang yang tahu kapan harus cepat, kapan harus menunggu, kapan harus mendengar, dan kapan harus mengambil keputusan. Kalau data sudah jelas dan situasi membutuhkan tindakan cepat, putuskan. Kalau faktanya belum lengkap dan risikonya besar, jangan malu menunda. Kalau ada pendapat berbeda, dengarkan. Kalau kepentingan pribadi mulai masuk ke dalam pertimbangan, kembali kepada tujuan organisasi.
Kepemimpinan Adalah Tanggung Jawab atas Akibat Keputusan
Pada akhirnya pemimpin tidak hanya bertanggung jawab ketika keputusan dibuat, tetapi juga terhadap akibat yang muncul setelah keputusan tersebut dijalankan. Karena itu menurut saya, pandangan Vidjongtius mengenai objektivitas patut menjadi pelajaran bagi siapa pun yang berada dalam posisi kepemimpinan. Jangan jadikan rapat sebagai tempat mempertontonkan kekuasaan. Jadikan rapat sebagai tempat mencari keputusan terbaik. Tidak semua rapat harus berakhir dengan ketok palu. Tidak semua perbedaan harus diselesaikan saat itu juga. Ada kalanya memberi waktu kepada semua pihak untuk berpikir kembali justru menghasilkan keputusan yang jauh lebih matang. Pemimpin yang hebat bukan pemimpin yang selalu memaksakan pendapatnya, tetapi pemimpin yang mampu menempatkan kepentingan organisasi di atas ego pribadi, mendengarkan berbagai pandangan, dan berani mengambil keputusan pada saat yang tepat. Menurut saya, itulah salah satu inti kepemimpinan yang sebenarnya: tegas tanpa tergesa-gesa, terbuka tanpa kehilangan arah, dan objektif ketika menentukan keputusan.
