Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Video yang beredar di media sosial ini menarik untuk menjadi bahan refleksi politik menjelang Pemilu 2029. Di dalamnya muncul pembicaraan mengenai besarnya peran generasi muda, rekam jejak kepemimpinan Joko Widodo, kritik dan penilaian terhadap kekuasaan, hingga bagaimana partai politik harus mempersiapkan diri menghadapi perubahan karakter pemilih. Menurut saya, ada satu pesan penting yang perlu kita tangkap: Pemilu 2029 tidak cukup dimenangkan hanya dengan mengandalkan nama besar, popularitas, atau kekuatan media sosial. Generasi muda akan semakin menentukan, dan mereka harus diberikan gagasan, rekam jejak, serta alasan yang rasional mengapa seseorang atau sebuah partai layak dipercaya.
Generasi Muda Bukan Sekadar Pasar Politik
Komposisi pemilih Indonesia semakin didominasi generasi muda. Ini berarti anak muda bukan lagi kelompok tambahan dalam politik. Mereka merupakan salah satu kekuatan utama yang akan menentukan arah demokrasi Indonesia. Namun generasi muda jangan hanya dipandang sebagai pasar untuk mendapatkan suara. Partai politik juga mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pendidikan politik, membuka ruang bagi kader muda, mendengarkan aspirasi mereka, serta membicarakan persoalan yang benar-benar berhubungan dengan kehidupan generasi sekarang. Lapangan pekerjaan, biaya pendidikan, harga rumah, kesempatan berusaha, teknologi, ekonomi digital, lingkungan hidup, pelayanan publik, penegakan hukum, hingga masa depan jaminan sosial adalah persoalan nyata yang akan menentukan pilihan politik mereka. Menurut saya, anak muda tidak membutuhkan politik yang hanya ramai di media sosial. Mereka membutuhkan politik yang memberikan harapan sekaligus solusi.
Gagasan Harus Berada di Depan
Ada bagian menarik dalam video tersebut yang menekankan bahwa yang seharusnya berada di depan adalah gagasan. Saya sependapat dengan prinsip tersebut. Politik Indonesia harus semakin bergerak dari sekadar pertarungan figur menuju pertarungan gagasan. Kita boleh mengagumi seorang tokoh, tetapi masyarakat tetap harus bertanya: apa gagasannya? Apa yang pernah dikerjakannya? Apa solusi yang ditawarkan? Bagaimana keberpihakannya kepada masyarakat? Popularitas memang penting dalam politik, tetapi popularitas tanpa kemampuan dan gagasan tidak cukup untuk mengelola negara sebesar Indonesia. Begitu juga pengalaman. Pengalaman merupakan modal penting, tetapi pengalaman juga harus diterjemahkan menjadi program yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Karena itu, menurut saya, Pemilu 2029 seharusnya menjadi momentum bagi partai politik untuk berlomba menawarkan gagasan terbaik, bukan hanya berlomba menghadirkan figur paling populer.
Jokowi Akan Tetap Menjadi Bagian dari Diskusi Politik
Video tersebut juga memperlihatkan berbagai pandangan mengenai Joko Widodo. Ada yang memberikan penilaian positif terhadap kepemimpinannya, ada pula yang menyampaikan kritik. Hal seperti ini merupakan sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Seorang pemimpin yang pernah memegang jabatan presiden selama dua periode tentu akan meninggalkan rekam jejak yang panjang. Masyarakat mempunyai hak untuk menilai keberhasilan maupun kekurangannya. Menurut saya, Jokowi akan tetap menjadi bagian dari percakapan politik Indonesia karena pengalaman kepemimpinannya, jaringan politiknya, serta pengaruh yang masih dimilikinya. Tetapi masa depan demokrasi Indonesia tidak boleh hanya bergantung kepada satu tokoh. Kita membutuhkan lahirnya banyak pemimpin baru. Tokoh lama dapat memberikan pengalaman. Generasi baru dapat membawa energi, kreativitas, dan cara berpikir baru. Keduanya seharusnya dapat bertemu untuk membangun Indonesia yang lebih baik.
PSI Juga Harus Membuktikan Diri melalui Kerja
Dalam video tersebut turut muncul pembicaraan mengenai PSI dan hubungan politiknya dengan Jokowi. Menurut saya, pembicaraan seperti itu harus dilihat secara lebih luas. Sebagai Ketua DPD PSI Kota Depok, saya melihat bahwa PSI tidak boleh merasa cukup hanya karena dikaitkan dengan tokoh nasional tertentu. PSI harus membangun kekuatannya sendiri melalui kaderisasi, kerja nyata, keberanian membawa gagasan, dan kedekatan dengan persoalan masyarakat. Partai harus hadir sampai ke akar rumput. Kader harus memahami persoalan masyarakat di kelurahan, kecamatan, kota, provinsi, sampai tingkat nasional. Jangan hanya hadir menjelang pemilu. Jika masyarakat membutuhkan bantuan mengenai pelayanan administrasi, UMKM, pendidikan, lapangan pekerjaan, perizinan, persoalan lingkungan, maupun pelayanan pemerintahan, kader politik seharusnya hadir dan ikut mencari solusi. Kepercayaan masyarakat tidak dapat dibangun dalam satu malam. Kepercayaan dibangun melalui kerja yang konsisten.
Anak Muda Harus Kritis terhadap Semua Tokoh
Generasi muda juga mempunyai tanggung jawab besar. Jangan mudah menganggap seseorang hebat hanya karena viral. Sebaliknya, jangan pula langsung menganggap seseorang buruk hanya karena potongan video atau narasi yang beredar di media sosial. Pelajari rekam jejaknya. Bandingkan gagasannya. Periksa informasi dari berbagai sumber. Dengarkan pihak yang mendukung sekaligus pihak yang mengkritik. Demokrasi akan menjadi lebih sehat apabila masyarakat, khususnya generasi muda, tidak mudah digiring oleh informasi yang hanya memainkan emosi. Menurut saya, pemilih yang kritis adalah kekuatan terbesar untuk memperbaiki kualitas pemimpin dan partai politik. Ketika masyarakat semakin kritis, partai juga akan dipaksa menghadirkan calon yang lebih berkualitas.
2029 Jangan Menjadi Pertarungan Popularitas
Pemilu 2029 masih beberapa tahun lagi. Banyak hal masih dapat berubah. Koalisi dapat berubah, tokoh baru dapat muncul, dan aspirasi masyarakat juga akan terus berkembang. Karena itu, terlalu dini apabila politik hanya dipenuhi spekulasi mengenai siapa calon presiden, siapa calon wakil presiden, atau siapa yang akan didukung tokoh tertentu. Yang jauh lebih penting adalah mempersiapkan kualitas demokrasi sejak sekarang. Partai membangun kader. Pejabat membuktikan pekerjaan. Generasi muda meningkatkan literasi politik. Masyarakat mengawasi pemerintahan. Dan para calon pemimpin mempersiapkan gagasan untuk menjawab persoalan Indonesia. Menurut saya, siapa pun yang ingin mendapatkan kepercayaan masyarakat pada 2029 harus mulai membuktikan dirinya melalui pekerjaan hari ini. Tidak cukup hanya terkenal. Tidak cukup hanya mempunyai jaringan. Tidak cukup pula hanya dekat dengan tokoh besar. Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki integritas, kemampuan, pengalaman, keberanian mengambil keputusan, sekaligus memahami kehidupan rakyat. Pemilih muda akan menjadi salah satu kekuatan penentu pada 2029. Karena itu, jangan hanya menawarkan mereka nama besar dan konten yang viral. Tawarkan gagasan, rekam jejak, kerja nyata, serta masa depan Indonesia yang benar-benar layak mereka perjuangkan.
