Depok – Keberadaan Koperasi Desa Merah Putih di lereng Gunung Prau, Jawa Tengah, menjadi perhatian publik setelah berdiri di kawasan dengan ketinggian sekitar 1.385 meter di atas permukaan laut. Berada di wilayah pegunungan yang memiliki panorama alam menawan, koperasi tersebut dijuluki sebagai “koperasi di atas awan” dan diusulkan untuk dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata berbasis ekonomi kerakyatan. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Eddy Sulistiyo Bramianto, menilai bahwa kondisi geografis yang berada jauh dari pusat perkotaan tidak seharusnya menjadi hambatan bagi pertumbuhan koperasi. Sebaliknya, karakteristik wilayah tersebut dapat dioptimalkan melalui inovasi usaha yang sesuai dengan potensi lokal, termasuk pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Selain mendorong pengembangan wisata, pemerintah daerah juga mendorong Koperasi Desa Merah Putih untuk membangun kemitraan dengan perusahaan swasta maupun badan usaha milik negara dan daerah. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperluas akses pasar, meningkatkan kapasitas usaha, serta memperkuat keberlanjutan koperasi di wilayah terpencil.

Foto dari sumber Faktaindo/instagram.com
Menanggapi hal tersebut, Binton Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H., selaku Anggota DPRD Kota Depok Komisi A sekaligus Ketua DPD PSI Kota Depok, mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang melihat keterbatasan geografis sebagai peluang untuk menciptakan nilai ekonomi baru. “Konsep Koperasi Desa Merah Putih di lereng Gunung Prau menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang. Justru dengan inovasi dan pengelolaan yang tepat, sebuah koperasi dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sekaligus destinasi wisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Binton. Menurutnya, pengembangan koperasi berbasis potensi lokal merupakan strategi yang relevan dalam memperkuat ekonomi kerakyatan sekaligus membuka lapangan kerja di daerah. “Indonesia memiliki banyak desa dengan karakteristik yang unik. Potensi alam, budaya, hingga produk lokal harus dikemas secara kreatif sehingga mampu menarik wisatawan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Koperasi bisa menjadi motor penggerak ekonomi desa apabila dikelola secara profesional dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” katanya.

Foto dari sumber Faktaindo/instagram.com
Binton juga menilai bahwa kemitraan dengan dunia usaha merupakan langkah penting untuk meningkatkan daya saing koperasi. “Koperasi tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan BUMN, BUMD, sektor swasta, maupun pelaku UMKM akan memperluas akses permodalan, pemasaran, serta meningkatkan kualitas produk dan layanan. Dengan demikian, koperasi tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu tumbuh menjadi lembaga ekonomi yang kuat,” jelasnya. Ia berharap keberhasilan model pengembangan Koperasi Desa Merah Putih dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia dalam membangun ekonomi berbasis potensi lokal. “Semangat gotong royong yang menjadi ruh koperasi harus terus diperkuat melalui inovasi. Ketika koperasi mampu memanfaatkan keunggulan daerahnya, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh anggota, tetapi juga oleh masyarakat luas melalui peningkatan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi daerah,” tutup Binton. Pengembangan Koperasi Desa Merah Putih di kawasan lereng Gunung Prau menunjukkan bahwa inovasi, kolaborasi, dan pemanfaatan potensi lokal dapat menjadi fondasi bagi lahirnya pusat-pusat ekonomi baru di berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan yang selama ini dianggap memiliki keterbatasan akses maupun letak geografis.
