Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A dan Badan Pembentukan Peraturan Daerah | Ketua DPD PSI Kota Depok | Mahasiswa Program Doktor (S3) Hukum – Konsentrasi Hukum Bisnis, Universitas Kristen Indonesia
Rakyat Memilih, Rakyat Pula yang Menilai
Dalam sistem demokrasi, kepala daerah beserta wakilnya, anggota DPR RI, DPD RI, DPRD provinsi, serta DPRD kabupaten/kota memperoleh mandat melalui pilihan rakyat. Karena itu, rakyat mempunyai hak untuk melihat rekam jejak, menilai kinerja, sekaligus mengawasi setiap pejabat yang mendapatkan kepercayaan melalui proses demokrasi. Pada era digital seperti sekarang, penilaian masyarakat berlangsung hampir setiap hari melalui pemberitaan maupun media sosial. Masyarakat dapat melihat apakah seorang pemimpin benar-benar hadir di lapangan, mendengarkan persoalan rakyat, mencari jalan keluar, dan bekerja secara nyata. Namun, media sosial tentu tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan seorang pemimpin. Popularitas tetap harus dibuktikan melalui kebijakan, keberpihakan kepada masyarakat, transparansi, integritas, serta hasil kerja yang benar-benar dapat dirasakan.
Sebagai Anggota DPRD Kota Depok, saya memahami bahwa DPRD memiliki tiga fungsi utama, yaitu pembentukan peraturan daerah, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. DPRD juga mempunyai tanggung jawab untuk menyerap, menghimpun, dan memperjuangkan aspirasi masyarakat. Sebagai Anggota Komisi A, perhatian saya terutama berkaitan dengan bidang pemerintahan, hukum, keamanan, kepegawaian, perizinan, pertanahan, serta pelayanan publik. Dari sudut pandang itulah saya mencoba melihat perjalanan dua kepala daerah yang belakangan cukup menarik perhatian masyarakat, yaitu Gubernur Jawa Barat H. Dedi Mulyadi, S.H., M.M., yang akrab dikenal sebagai Kang Dedi Mulyadi atau KDM, dan Wali Kota Depok Dr. Drs. H. Supian Suri, M.M., yang juga akrab dipanggil Supian Suri atau SS.
Kedekatan KDM dan Supian Suri yang Terlihat dalam Kerja
Menurut saya, hubungan antara KDM dan Supian Suri menarik untuk diperhatikan karena kedekatan mereka tidak hanya terlihat dalam pertemuan formal pemerintahan maupun hubungan politik. Keduanya beberapa kali terlihat bersama dalam berbagai kegiatan, mulai dari peninjauan pembangunan hingga kegiatan kemanusiaan di luar wilayah Jawa Barat. KDM saat ini memimpin Jawa Barat sebagai Gubernur periode 2025–2030. Gaya kepemimpinannya dikenal cukup dekat dengan masyarakat, tegas, aktif turun ke lapangan, dan banyak memberikan perhatian terhadap persoalan sosial, pendidikan, budaya, lingkungan, serta pelayanan publik. Sementara itu, Supian Suri memiliki perjalanan panjang sebagai birokrat. Ia bertumbuh dari lingkungan pemerintahan Kota Depok hingga pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kota Depok sebelum akhirnya mendapatkan kepercayaan masyarakat menjadi Wali Kota Depok.
Supian Suri juga menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Institut Pemerintahan Dalam Negeri dengan kajian yang berkaitan dengan implementasi kebijakan percepatan penurunan stunting di Kota Depok. KDM dan Supian Suri juga memiliki hubungan dalam lingkungan politik yang sama, yaitu Partai Gerindra. Namun menurut saya, hubungan yang terlihat di antara keduanya tidak semata-mata dapat dibaca sebagai hubungan kepartaian. Kebersamaan dalam berbagai kegiatan lapangan dapat membentuk komunikasi, rasa saling percaya, persahabatan, dan pemahaman antarpemimpin.
Dari Aceh, Jawa Barat, Yogyakarta, hingga Nusa Tenggara Timur
Kebersamaan KDM dan Supian Suri dapat dilihat dalam sejumlah kegiatan. Pertama, misi kemanusiaan ke Aceh pada Desember 2025. Supian Suri mendampingi KDM menemui masyarakat yang terdampak banjir dan longsor di Aceh. Dalam perjalanan kemanusiaan tersebut, Kota Depok turut membawa bantuan sekitar Rp1 miliar untuk membantu masyarakat yang sedang mengalami musibah. Menurut saya, kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa solidaritas kemanusiaan tidak seharusnya dibatasi oleh wilayah administratif. Ketika saudara-saudara kita di daerah lain mengalami bencana, pemerintah daerah dan masyarakat dari wilayah lain juga dapat hadir memberikan dukungan.
Kedua, peninjauan pembangunan di sejumlah wilayah Jawa Barat pada Februari 2026. KDM mengajak Supian Suri melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor melewati sejumlah wilayah di Jawa Barat, antara lain Majalengka, Pangandaran, dan Cianjur. Dalam perjalanan tersebut, mereka dapat melihat secara langsung berbagai kondisi pembangunan, mulai dari kualitas jalan, penerangan jalan umum, kondisi lingkungan, hingga sejumlah infrastruktur lainnya.
Menurut saya, kegiatan turun langsung seperti ini sangat penting bagi seorang kepala daerah. Pemimpin tidak cukup hanya menerima laporan dari meja kerja. Dengan turun langsung ke lapangan, seorang pemimpin dapat melihat kondisi sebenarnya, merasakan perjalanan yang dilalui masyarakat, sekaligus membandingkan praktik tata kelola antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Pengalaman seperti ini tentunya dapat menjadi bahan pembelajaran yang baik untuk pembangunan Kota Depok.
Ketiga, perjalanan bersama menuju Yogyakarta pada Juli 2026. KDM dan Supian Suri melakukan perjalanan bersama sejumlah kepala daerah lainnya, termasuk Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein serta Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian. Perjalanan tersebut bukan hanya menunjukkan kedekatan pribadi, tetapi juga menjadi ruang komunikasi antarkepala daerah. Dalam pemerintahan, komunikasi semacam ini menurut saya penting. Banyak persoalan pembangunan tidak selalu dapat diselesaikan secara sendiri-sendiri. Pertukaran pengalaman, gagasan, dan praktik terbaik antardaerah dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Keempat, misi kemanusiaan ke Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Agustus 2026. KDM didampingi Supian Suri menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak gempa. Bantuan yang disampaikan mencapai sekitar Rp4,5 miliar, yang berasal dari Jawa Barat serta dukungan masyarakat, ASN, dan PMI Kota Depok.
Rangkaian perjalanan tersebut menunjukkan bahwa hubungan politik dapat berkembang menjadi persahabatan kerja. Mereka tidak hanya bertemu dalam kegiatan seremonial, tetapi juga melakukan perjalanan panjang, melihat pembangunan secara langsung, bertukar pikiran, dan hadir di tengah masyarakat yang sedang membutuhkan bantuan.
Elektabilitas KDM dan Jalan Panjang Menuju 2029
Belakangan ini perhatian masyarakat terhadap KDM juga semakin besar. Sejumlah survei nasional mulai memasukkan namanya dalam simulasi calon pemimpin nasional menuju Pemilihan Presiden 2029. Salah satu survei pada Juli 2026 menempatkan Dedi Mulyadi pada posisi teratas dalam simulasi semi-terbuka calon presiden. Menurut saya, angka survei tentu dapat menjadi modal politik penting. Namun, kita harus melihatnya secara proporsional. Survei hanyalah potret pendapat masyarakat pada saat survei dilakukan, bukan kepastian mengenai siapa yang akan memenangkan Pemilihan Presiden 2029. Perjalanan politik menuju 2029 masih panjang. Situasi ekonomi, kondisi sosial, dinamika politik, kinerja pemerintahan, keputusan partai politik, serta penilaian masyarakat masih dapat mengalami banyak perubahan. Pada akhirnya, rakyatlah yang menentukan. Namun apabila suatu saat masyarakat benar-benar memberikan kepercayaan kepada KDM untuk memimpin Indonesia pada tingkat nasional, tentu ia membutuhkan orang-orang yang memiliki integritas, kemampuan, pengalaman pemerintahan, keberanian mengambil keputusan, serta pengalaman bekerja langsung bersama masyarakat.
Dalam konteks pemikiran tersebut, menurut saya Supian Suri mempunyai modal pengalaman yang patut diperhitungkan. Ia mempunyai pengalaman panjang sebagai birokrat, pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kota Depok, kemudian mendapatkan kepercayaan rakyat menjadi Wali Kota Depok, menyelesaikan pendidikan doktoral, serta mempunyai pengalaman membangun komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah provinsi maupun kepala daerah lainnya. Tetapi saya ingin menegaskan satu hal: kedekatan pribadi maupun hubungan emosional tidak boleh menjadi satu-satunya dasar bagi seseorang untuk memperoleh jabatan nasional. Kedekatan harus diikuti dengan kapasitas, integritas, rekam jejak, prestasi, kemampuan memimpin, serta kesamaan visi untuk kepentingan bangsa dan negara. Dalam sistem pemerintahan Indonesia, pengangkatan menteri merupakan hak prerogatif Presiden sebagaimana diatur dalam konstitusi.
Karena itu, tulisan ini bukanlah informasi mengenai adanya kesepakatan pembagian jabatan dan bukan pula sebuah ramalan politik. Ini merupakan pandangan pribadi, analisis, harapan, sekaligus doa agar setiap pemimpin yang mempunyai kemampuan terus mempersiapkan dirinya apabila suatu hari mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar.
Percakapan yang Masih Saya Ingat
Ada satu percakapan yang sampai sekarang masih saya ingat. Pada suatu kesempatan di ruang kerja Wali Kota Depok, saya pernah memperkenalkan kepada Supian Suri seorang teman yang merupakan pengusaha nasional. Sebelumnya, saya bersama teman tersebut juga pernah melakukan audiensi dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Dalam suasana perbincangan yang cukup santai, seingat saya Supian Suri kemudian berseloroh:
“Kalau saya melihat teman-temannya Pak Dewan, Pak Binton, saya belum sanggup. Saya harus menjadi menteri dulu.”
Saya langsung mengaminkan perkataan tersebut. Bagi saya, percakapan itu merupakan percakapan spontan yang lahir dalam suasana keakraban. Saya melihatnya sebagai gambaran kerendahan hati sekaligus cita-cita seseorang untuk terus berkembang dalam pengabdian. Dalam politik, relasi memang penting. Namun menurut saya, relasi terbaik bukan hanya hubungan yang dibangun ketika seseorang sedang mempunyai kekuasaan. Relasi terbaik adalah persahabatan yang dibangun atas dasar kepercayaan, ketulusan, kesetiaan, serta keberanian untuk saling mengingatkan. Seorang calon pemimpin harus mulai membangun sahabat sejati. Bukan hanya sahabat yang hadir ketika kekuasaan berada di tangan, melainkan sahabat yang berani mengingatkan ketika kita salah, mendukung ketika kita bekerja dengan benar, dan tetap hadir ketika keadaan berubah.
Waktu dan Karya yang Akan Membuktikan
Indonesia merupakan negara yang sangat besar dan luas. Negeri ini membutuhkan pemimpin yang tidak hanya berpikir mengenai daerahnya sendiri, kelompoknya sendiri, maupun partainya sendiri. Indonesia membutuhkan pemimpin yang mempunyai jiwa nasionalis, mampu melihat persoalan secara luas, dapat bekerja lintas wilayah, serta mempunyai keberanian untuk mengabdikan dirinya bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, teruslah berkarya, Pak KDM. Teruslah bekerja dan membangun Kota Depok, Pak Supian Suri. Biarlah rakyat menilai, sejarah mencatat, dan waktu yang memberikan jawabannya.
Setiap masa memiliki tantangannya dan setiap orang memiliki waktunya. Popularitas dapat mengangkat nama seseorang, tetapi hanya karya, integritas, dan keberpihakan kepada rakyat yang dapat membuat namanya bertahan dalam sejarah.
Semoga Tuhan memberikan yang terbaik bagi KDM, Supian Suri, kita semua, Kota Depok, Jawa Barat, serta bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai.
