Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Sebuah video yang beredar di media sosial menarik perhatian karena memunculkan narasi “Jangan kaget kalau 2029 muncul pasangan fenomenal” dan “Kode Keras Jokowi!”. Video tersebut menampilkan percakapan Joko Widodo mengenai politik dan kekuasaan yang kemudian dikaitkan oleh pembuat video dengan kemungkinan konfigurasi politik menjelang Pemilu 2029. Menurut saya, pembicaraan mengenai 2029 memang menarik, tetapi kita tidak boleh terlalu cepat menyimpulkan siapa akan berpasangan dengan siapa. Politik sangat dinamis. Empat tahun dalam politik adalah waktu yang panjang, dan banyak hal dapat berubah. Hari ini seseorang bisa berada dalam satu barisan politik, besok bisa muncul konfigurasi baru. Partai politik dapat membangun koalisi yang berbeda, tokoh-tokoh baru dapat muncul, dan aspirasi masyarakat juga dapat berubah.
2029 Jangan Hanya Bicara Nama
Menjelang pemilu, publik biasanya mulai tertarik membicarakan nama calon presiden, calon wakil presiden, pasangan politik, koalisi, hingga siapa yang akan mendapatkan dukungan dari tokoh-tokoh besar. Hal tersebut wajar dalam demokrasi. Namun menurut saya, Pemilu 2029 jangan hanya menjadi perlombaan mencari pasangan yang paling fenomenal. Yang lebih penting adalah mencari pemimpin yang benar-benar mampu memahami realitas kehidupan rakyat. Masyarakat membutuhkan pekerjaan. UMKM membutuhkan ruang untuk berkembang. Anak muda membutuhkan kesempatan. Pendidikan harus semakin baik. Pelayanan kesehatan harus mudah dijangkau. Harga kebutuhan pokok harus terkontrol. Hukum harus memberikan rasa keadilan, dan pelayanan publik harus semakin cepat serta sederhana. Karena itu, siapa pun yang nantinya maju pada 2029 harus datang bukan hanya membawa popularitas, tetapi juga gagasan, pengalaman, kemampuan bekerja, dan solusi nyata.
Pengaruh Tokoh Besar Tetap Ada, Tetapi Rakyat yang Memilih
Tidak dapat dimungkiri bahwa mantan presiden maupun tokoh nasional dapat tetap mempunyai pengaruh politik meskipun tidak lagi memegang kekuasaan formal. Pengalaman, jaringan, dan hubungan dengan masyarakat membuat pandangan mereka tetap diperhatikan. Namun demokrasi Indonesia tidak boleh bergantung hanya pada satu atau dua tokoh. Menurut saya, dukungan tokoh politik dapat membantu seorang calon, tetapi dukungan rakyatlah yang akhirnya menentukan kemenangan. Tidak ada seorang pun yang boleh merasa bahwa jalan menuju kekuasaan sudah pasti hanya karena mempunyai dukungan elite, jaringan kuat, atau hubungan dengan tokoh tertentu. Setiap calon tetap harus turun menemui masyarakat, mendengar persoalan rakyat, menyampaikan gagasan, dan membuktikan bahwa dirinya layak mendapatkan kepercayaan.
Jangan Mendahului Keputusan Rakyat
Narasi mengenai kemungkinan hadirnya “pasangan fenomenal” pada 2029 tentu menarik untuk menjadi bahan diskusi politik. Bisa saja nantinya muncul pasangan yang hari ini belum pernah diperkirakan. Bisa juga peta politik berubah sama sekali, Itulah dinamika demokrasi. Tetapi menurut saya, kita jangan mendahului keputusan rakyat. Pemilu bukan hanya persoalan siapa berpasangan dengan siapa, tetapi tentang siapa yang dipercaya rakyat untuk membawa Indonesia menuju keadaan yang lebih baik. Partai politik juga mempunyai tanggung jawab untuk mempersiapkan kader terbaiknya. Jangan hanya mencari figur populer menjelang pemilu. Kaderisasi harus dilakukan jauh sebelumnya agar masyarakat memiliki banyak pilihan pemimpin berkualitas. Indonesia memiliki lebih dari 280 juta penduduk dan begitu banyak anak bangsa yang mempunyai kemampuan. Demokrasi harus mampu membuka pintu bagi munculnya pemimpin-pemimpin baru dari berbagai daerah, profesi, kelompok sosial, dan generasi.
2029 Masih Panjang, Kerja untuk Rakyat Harus Dimulai Sekarang
Menurut saya, siapa pun yang mempunyai cita-cita memimpin Indonesia pada 2029 seharusnya tidak terlalu sibuk membicarakan pencalonan sejak sekarang. Buktikan dahulu melalui kerja nyata. Jika sedang menjadi pejabat, bekerjalah sebaik-baiknya. Jika berada di partai politik, bangun kader dan dengarkan rakyat. Jika menjadi anggota legislatif, perjuangkan aspirasi masyarakat. Jika menjadi kepala daerah, selesaikan persoalan daerahnya. Pada waktunya masyarakat akan menilai. Pemimpin yang baik tidak hanya muncul ketika baliho mulai dipasang atau ketika masa kampanye tiba. Pemimpin yang baik dibentuk melalui perjalanan panjang, pengalaman, integritas, keberanian mengambil keputusan, dan konsistensi melayani masyarakat. Karena itu, pesan yang saya tangkap dari ramainya video mengenai politik 2029 ini sederhana: boleh saja publik berspekulasi mengenai pasangan fenomenal, boleh saja tokoh-tokoh besar memberikan dukungan, tetapi jangan pernah melupakan bahwa pemegang kekuasaan tertinggi dalam demokrasi adalah rakyat.
2029 masih beberapa tahun lagi. Nama dan pasangan bisa berubah, koalisi bisa berganti, tetapi satu hal tidak boleh berubah: politik harus tetap digunakan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dan masa depan Indonesia.
