Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok, Komisi A Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk PelakuUMKM, Mahasiswa Program Doktor (S3) Hukum, Konsentrasi Hukum Bisnis, Universitas Kristen Indonesia
Fenomena banyaknya lulusan perguruan tinggi yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan harus menjadi perhatian bersama. Persoalannya bukan berarti pendidikan tinggi tidak penting. Justru pendidikan sangat penting untuk meningkatkan kualitas manusia. Tetapi kita juga harus berani mengevaluasi: apakah pendidikan yang diterima mahasiswa sudah cukup mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan setelah wisuda? Menurut saya, tujuan kuliah tidak boleh berhenti pada memperoleh gelar dan ijazah. Seorang mahasiswa perlu dibekali pengetahuan, keterampilan, kemampuan beradaptasi, jaringan, pengalaman kerja, literasi digital, serta keberanian membangun usaha.
Jangan Hanya Mendidik Pencari Kerja
Selama ini orientasi setelah lulus sering kali masih sederhana: selesai kuliah, membuat CV, kemudian mencari lowongan pekerjaan. Tidak ada yang salah dengan menjadi pekerja. Tetapi ketika jumlah lulusan terus bertambah sementara kesempatan kerja terbatas, kita membutuhkan pola pikir yang lebih luas.
Kampus juga harus melahirkan pencipta lapangan kerja.
Mahasiswa perlu diperkenalkan sejak dini kepada kewirausahaan, UMKM, pemasaran digital, pengelolaan keuangan, teknologi, hingga bagaimana memulai usaha dengan skala kecil. Tidak semua lulusan harus menjadi pengusaha. Namun setiap lulusan sebaiknya mempunyai kemampuan untuk menciptakan nilai dan menghasilkan pendapatan, bahkan ketika pekerjaan formal belum tersedia.
Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja Harus Bertemu
Salah satu persoalan yang perlu diperbaiki adalah jarak antara apa yang dipelajari di kampus dengan apa yang dibutuhkan dunia kerja. Karena itu, kolaborasi perguruan tinggi dengan dunia usaha dan industri harus semakin kuat. Program magang jangan sekadar menjadi formalitas. Mahasiswa harus memperoleh pengalaman nyata, memahami budaya kerja, menyelesaikan persoalan riil, dan membangun jaringan sebelum lulus. Kurikulum juga harus terus menyesuaikan perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan ekonomi. Karena dunia berubah dengan cepat. Keahlian yang dibutuhkan lima tahun lalu belum tentu sama dengan keahlian yang dibutuhkan hari ini.
Jangan Menyalahkan Sarjana
Menurut saya, kurang tepat apabila fenomena pengangguran terdidik hanya dibebankan kepada para lulusan. Pemerintah juga mempunyai kewajiban menciptakan iklim investasi yang mampu membuka lapangan kerja. Dunia usaha harus diberikan ruang berkembang. UMKM harus memperoleh pembiayaan dan akses pasar. Kampus harus memperkuat relevansi pendidikan. Semua harus bergerak bersama. Sarjana telah menginvestasikan waktu, biaya, tenaga, dan harapan selama bertahun-tahun. Setelah mereka lulus, negara harus memastikan tersedia ekosistem yang memungkinkan kemampuan tersebut berkembang.
Gelar Harus Menjadi Modal untuk Berkarya
Saya tetap percaya pendidikan tinggi adalah investasi penting. Namun ukuran keberhasilan pendidikan jangan hanya dilihat dari berapa banyak mahasiswa yang diwisuda setiap tahun. Kita juga harus bertanya Berapa banyak yang bekerja? Berapa banyak yang membuka usaha? Berapa banyak yang menciptakan lapangan kerja? Dan berapa banyak yang kehidupannya menjadi lebih baik setelah menempuh pendidikan? Ijazah jangan sampai hanya tersimpan di dalam lemari. Gelar harus menjadi modal untuk berkarya, menciptakan penghasilan, menyelesaikan persoalan masyarakat, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Karena pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya melahirkan orang bergelar, tetapi melahirkan manusia yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri dan ikut membangun kesejahteraan masyarakat.
St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok Komisi A, Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Pelaku UMKM, Mahasiswa Program Doktor (S3) Hukum – Konsentrasi Hukum Bisnis Universitas Kristen Indonesia
