Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok Komisi A, Ketua DPD PSI Kota Depok, Purnabakti BRI, Pelaku UMKM, dan Mahasiswa Program Doktor Hukum UKI
Pelajaran pertama tentang melayani dan Disiplin tidak saya peroleh dari ruang rapat, kantor, mimbar gereja, ataupun gedung DPRD. Pelajaran itu justru saya temukan di rumah kami, melalui tangan seorang ayah yang setiap pagi bekerja dalam diam untuk keluarganya. Kisah ini terjadi ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar hingga beranjak remaja di Kota Pematangsiantar. Saya menuliskannya untuk mengenang masa lalu dan segala kebaikan ayah saya. Bukan berarti saya melupakan atau mengurangi peran ibu yang juga luar biasa baiknya. Kasih, doa, dan perjuangan ibu adalah bab besar tersendiri dalam perjalanan hidup saya. Namun, kali ini saya ingin melihat kehidupan dari sisi ayah, seorang laki-laki yang mengajarkan pelayanan bukan terutama melalui kata-kata, melainkan melalui perbuatan.
Hampir setiap pagi, ayah sudah bangun ketika kami masih terlelap. Dari dapur terdengar suara peralatan memasak dan tercium aroma makanan. Ayah memang pandai memasak. Masakannya luar biasa enak. Pengakuan itu bukan hanya datang dari kami, anak-anaknya, tetapi juga dari tetangga dan saudara yang pernah mencicipi masakannya. Sebelum kami membuka mata, ayah sebenarnya telah lebih dahulu melayani. Untuk membangunkan kami, terkadang ayah memercikkan sedikit air ke wajah saya. Saya tentu terkejut dan segera terbangun. Saat masih kecil, mungkin saya menganggapnya mengganggu. Namun, setelah dewasa, saya menyadari bahwa percikan air itu merupakan bagian dari caranya menanamkan kedisiplinan: pagi tidak boleh disia-siakan dan sekolah tidak boleh ditinggalkan.
Ketika kami bangun, makanan dan minuman sudah tersedia di meja. Setelah memastikan semuanya siap, ayah terkadang ikut duduk dan makan bersama kami. Ia tidak pernah lupa berdoa. Doanya sering singkat, berbeda dengan doa ibu yang biasanya lebih panjang. Meskipun singkat, doa itu mengajarkan bahwa setiap berkat yang tersedia di meja harus diterima dengan rasa syukur kepada Tuhan. Sebelum berangkat, ayah selalu mengingatkan saya untuk memeriksa buku, pensil, dan perlengkapan sekolah lainnya. Seragam harus bersih, rapi, dan sudah disetrika. Tidak boleh asal memakai pakaian. Bagi ayah, kerapian bukan sekadar urusan penampilan, melainkan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri, sekolah, guru, dan orang lain. Saya masih dapat merasakan tangannya menuntun saya berdiri di depan kaca. Ia menyisir rambut saya dengan rapi, kemudian mengoleskan sedikit minyak rambut. Mereknya mulai samar dalam ingatan saya, barangkali Tancho, salah satu minyak rambut yang telah beredar pada masa itu. Kejadian itu berlangsung sekitar tahun 1977.
Kini saya memahami bahwa di depan kaca tersebut ayah bukan sekadar merapikan rambut seorang anak. Sesungguhnya, ia sedang ikut menata masa depan saya. Pada masa itu, kami pergi ke sekolah dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih lima kilometer. Ayah paling tidak suka apabila saya terlambat, apalagi tidak masuk sekolah. Baginya, pendidikan adalah tanggung jawab yang tidak boleh dipermainkan. Beberapa kali, ketika waktu sudah hampir terlambat, ayah segera mengantarkan saya dengan sepeda motor Honda CB miliknya. Meskipun sedang bersemangat dan terburu-buru, ia tidak pernah lupa menghidupkan lampu sein ketika hendak berbelok. Dari tindakan kecil itu, saya belajar bahwa kedisiplinan dan keselamatan tidak boleh diabaikan hanya karena kita sedang tergesa-gesa.
Sesampainya di sekolah, sebelum saya turun dan melangkah pergi, ayah selalu mencium kepala saya. Ciuman itu sederhana, tetapi sekarang saya menyadari bahwa itulah doa seorang ayah yang disampaikan tanpa banyak kata. Ayah tidak pernah mengatakan, “Inilah cara melayani.” Namun, setiap pagi ia memperlihatkannya secara nyata. Memasak, membangunkan anak-anak, menyediakan makanan, memeriksa perlengkapan sekolah, merapikan pakaian, menyisir rambut, mengantarkan agar tidak terlambat, berdoa, lalu mencium kepala anaknya—semuanya adalah pelayanan. Dari ayah saya belajar bahwa melayani berarti bersedia bangun lebih dahulu agar orang lain dapat memulai hari dengan baik. Melayani berarti mempersiapkan sesuatu sebelum diminta. Melayani berarti memberikan perhatian kepada hal-hal kecil yang mungkin tidak akan pernah mendapat tepuk tangan.
Pelajaran itulah yang terus saya bawa dalam perjalanan hidup. Selama 31 tahun bekerja dan mengabdi di Bank BRI, saya beberapa kali memperoleh penilaian dengan hasil Istimewa dan Sangat Baik. Ketika memasuki dunia politik dan dipercaya menjadi Anggota DPRD Kota Depok, saya kembali menyadari bahwa jabatan bukanlah tempat untuk meminta dilayani. Jabatan adalah kesempatan untuk melayani masyarakat dengan disiplin, kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab. Ketika saya menerima penghargaan sebagai salah satu 21 Tokoh Kristiani Inspiratif Tahun 2024, Man of the Year 2025, serta memperoleh penghargaan sebagai Anggota DPRD Kota Depok Terbaik pada tahun 2025 dan 2026, saya meyakini bahwa pencapaian tersebut tidak tumbuh dalam satu malam. Di dalamnya ada benih kedisiplinan yang dahulu ditanamkan ayah setiap pagi di Pematangsiantar.
Ada masakan yang disediakannya, buku dan pensil yang diperiksanya, seragam yang dirapikannya, rambut yang disisirnya, perjalanan dengan Honda CB, lampu sein yang tidak pernah dilupakannya, serta ciuman hangat di kepala sebelum saya memasuki sekolah. Nilai-nilai yang sama kemudian saya berusaha terapkan dalam kehidupan anak-anak saya; Agnes, Debora, dan Davinci. Saya ingin mereka memahami bahwa keberhasilan bukan hanya tentang gelar, jabatan, penghargaan, atau seberapa tinggi seseorang berdiri. Keberhasilan juga ditentukan oleh seberapa besar kesediaan kita untuk merendahkan hati dan melayani sesama. Apa pun yang telah saya capai sampai hari ini, semuanya pertama-tama merupakan berkat Tuhan. Di dalamnya juga ada dukungan dan doa istri saya, anak-anak saya, keluarga, orang-orang yang berada di sekitar saya, sahabat, serta rekan-rekan anggota DPRD yang bekerja dan berjalan bersama saya. Namun, jauh di dasar perjalanan itu, tetap ada teladan seorang ayah.
Ayah mungkin tidak pernah menyadari bahwa dapur rumah kami telah menjadi sekolah kehidupan bagi saya. Meja makan menjadi tempat belajar tentang rasa syukur. Kaca dan sisir menjadi pelajaran tentang kerapian. Honda CB menjadi ruang belajar tentang kedisiplinan. Sementara ciuman di kepala menjadi bahasa kasih yang tidak pernah hilang dari ingatan. Bapak, engkau tidak hanya mengantarkan saya ke sekolah. Engkau sesungguhnya sedang mengantarkan saya menuju masa depan. Engkau tidak hanya memasakkan makanan untuk kami. Engkau sedang mengajarkan bahwa kasih harus diwujudkan melalui pelayanan. Kepada anak-anak saya dan siapa pun yang membaca kisah ini, saya ingin menitipkan satu pesan:
Jangan hanya bercita-cita menjadi orang yang berhasil. Jadilah manusia yang bersedia bangun lebih awal, bekerja dengan disiplin, memperhatikan kebutuhan orang lain, berdoa dengan tulus, serta melayani dengan kasih. Sebab penghargaan dapat terlupakan dan jabatan suatu hari akan berakhir, tetapi keteladanan seorang ayah akan hidup selama-lamanya di dalam diri anak-anaknya.
