Oleh: Cindy Debora Nadapdap
Mahasiswi Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia
Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta
Ada pesan menarik yang dapat kita ambil dari perbincangan politik dalam video yang beredar di media sosial: anak muda jangan terlalu lama terjebak dalam persoalan, tetapi harus mulai berpikir tentang solusi. Pesan seperti ini penting di tengah kehidupan generasi muda sekarang. Kita hidup pada masa ketika hampir setiap persoalan dapat diketahui dalam hitungan detik. Melalui media sosial, anak muda dapat melihat persoalan ekonomi, politik, hukum, pendidikan, lapangan pekerjaan hingga berbagai kebijakan pemerintah. Tetapi pertanyaannya adalah: setelah mengetahui masalah tersebut, apa yang kita lakukan? Menurut saya, generasi muda tidak cukup hanya menjadi kelompok yang paling cepat mengkritik. Generasi muda juga harus berusaha menjadi kelompok yang mampu menawarkan gagasan dan jalan keluar.
Politik Seharusnya Menjadi Jalan Memecahkan Masalah
Sebagai mahasiswa Ilmu Politik, saya melihat bahwa politik seharusnya tidak hanya dipahami sebagai perebutan jabatan, kekuasaan, atau pertarungan antarpartai. Pada hakikatnya, politik merupakan salah satu instrumen untuk menentukan bagaimana kehidupan masyarakat diatur dan bagaimana kepentingan rakyat diperjuangkan. Keputusan mengenai pendidikan, lapangan pekerjaan, pajak, bantuan sosial, pembangunan, kesehatan hingga perlindungan hukum semuanya tidak terlepas dari proses politik. Karena itu, ketika anak muda mengatakan tidak tertarik pada politik, sebenarnya bukan berarti politik berhenti memengaruhi kehidupannya.nKita boleh tidak tertarik kepada politik, tetapi keputusan politik tetap dapat menentukan masa depan kita. Itulah sebabnya anak muda harus memiliki literasi politik yang baik.
Kritik Penting, Tetapi Solusi Lebih Dibutuhkan
Demokrasi membutuhkan kritik. Tidak ada pemerintahan, lembaga negara ataupun pejabat publik yang boleh terbebas dari pengawasan masyarakat. Namun kritik akan menjadi jauh lebih kuat apabila disertai pengetahuan, data, dan alternatif penyelesaian. Generasi muda jangan sampai hanya menjadi masyarakat yang ramai ketika sebuah persoalan viral, kemudian berpindah ke persoalan lain beberapa hari kemudian. Ketika kita mengkritik pendidikan, tawarkan gagasan bagaimana pendidikan dapat diperbaiki. Ketika berbicara tentang pengangguran, pikirkan bagaimana lapangan pekerjaan dapat diperluas. Ketika mengkritik pelayanan publik, tunjukkan bagian mana yang harus diperbaiki. Dan ketika menemukan persoalan hukum, pahami terlebih dahulu aturan serta proses hukumnya sebelum mengambil kesimpulan. Keberanian bersuara harus berjalan bersama kemampuan berpikir.
Hukum Menjadi Batas bagi Kekuasaan
Sebagai mahasiswa yang juga mempelajari hukum, saya melihat ada hubungan yang sangat penting antara politik dan hukum. Politik melahirkan kekuasaan dan kebijakan. Sementara hukum memastikan kekuasaan tersebut mempunyai batas. Dalam negara demokrasi, orang yang memiliki kekuasaan tidak boleh bertindak hanya berdasarkan kehendaknya sendiri. Setiap tindakan pemerintahan harus memiliki dasar hukum dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, masyarakat juga mempunyai hak untuk menyampaikan pendapat, mengawasi pemerintah, serta memperjuangkan kepentingannya melalui cara-cara yang sesuai dengan hukum. Karena itu, generasi muda harus memahami keduanya. Jangan hanya mengetahui siapa yang berkuasa, tetapi pahami juga aturan yang membatasi kekuasaan tersebut.
Jangan Jadikan Media Sosial Sebagai Ruang Kemarahan Saja
Generasi sekarang mempunyai kekuatan besar yang tidak dimiliki generasi sebelumnya dalam skala sebesar ini: media sosial. Satu orang dapat menyampaikan pendapat kepada ribuan bahkan jutaan orang. Ini merupakan kekuatan demokrasi yang luar biasa. Namun media sosial juga dapat membuat kita terbiasa bereaksi terlalu cepat. Sebuah video pendek dapat langsung menimbulkan kesimpulan. Sebuah potongan pernyataan dapat menjadi bahan kemarahan. Bahkan seseorang dapat dihakimi sebelum informasi lengkap diketahui. Karena itu, anak muda harus membangun kebiasaan baru: jangan hanya cepat berbicara, tetapi juga cepat belajar. Kritislah terhadap pemerintah, tetapi juga kritislah terhadap informasi yang kita terima.
Generasi Muda Harus Berani Masuk ke Ruang Pengambilan Keputusan
Anak muda sering mengatakan bahwa politik harus berubah. Tetapi perubahan tidak akan terjadi apabila generasi muda hanya berdiri di luar sistem dan menjadi penonton. Generasi muda harus berani hadir dalam berbagai ruang pengambilan keputusan. Tidak semuanya harus menjadi politisi. Ada yang dapat menjadi akademisi, advokat, aktivis, birokrat, jurnalis, pengusaha, peneliti maupun bagian dari masyarakat sipil. Yang terpenting adalah mempunyai keberanian untuk membawa gagasan. Karena demokrasi tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menunjukkan apa yang salah. Demokrasi juga membutuhkan orang yang berani mengatakan: “Ini masalahnya, dan ini solusi yang dapat kita kerjakan.”
Jangan Takut Bermimpi dan Berproses
Generasi muda mempunyai waktu, energi, kreativitas dan kesempatan untuk membawa perubahan. Tetapi mimpi tidak cukup hanya dibicarakan. Mimpi membutuhkan proses, kemampuan, keberanian mengambil keputusan, serta kesiapan menghadapi kegagalan. Tidak semua anak muda lahir dengan kesempatan yang sama. Ada yang mempunyai fasilitas lebih besar, ada pula yang harus berjuang dari keterbatasan. Namun dalam demokrasi yang sehat, negara harus berusaha membuka ruang agar setiap anak bangsa mempunyai kesempatan untuk berkembang. Di sinilah politik dan hukum seharusnya bekerja: menciptakan kesempatan yang lebih adil bagi seluruh rakyat.
Generasi Solusi
Indonesia tidak kekurangan anak muda yang cerdas. Indonesia juga tidak kekurangan anak muda yang berani berbicara. Tantangan kita sekarang adalah bagaimana keberanian tersebut berubah menjadi pengetahuan, gagasan dan tindakan. Kita membutuhkan generasi yang mampu mengkritik tanpa kehilangan objektivitas. Generasi yang mampu berbeda pilihan politik tanpa kehilangan persaudaraan. Generasi yang memahami hukum agar tidak mudah dipermainkan kekuasaan. Dan generasi yang tidak berhenti mengeluhkan keadaan, tetapi ikut memperbaikinya.
Anak muda jangan hanya bertanya siapa yang salah. Mulailah juga bertanya: apa yang bisa kita lakukan untuk membuat keadaan menjadi lebih baik?
Karena masa depan politik dan demokrasi Indonesia pada akhirnya akan berada di tangan generasi yang hari ini sedang belajar, berpikir, berbicara, dan mempersiapkan dirinya untuk memimpin.
