Fondasi Karakter Menuju Usaha yang Dipercaya, Bertumbuh, dan Berkelanjutan
Penulis:
St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok
Mahasiswa Program Doktor (S3) Hukum – Konsentrasi Hukum Bisnis, Universitas Kristen Indonesia
Purnatugas PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di dunia perbankan dan bisnis mikro
Dalam dunia kerja dan bisnis, modal uang memang penting. Namun, karakter, kepercayaan, kerja keras, serta kemampuan membangun hubungan dengan manusia jauh lebih menentukan keberlangsungan sebuah usaha. Banyak orang mampu memulai bisnis karena mempunyai modal, tetapi tidak semuanya mampu menjaga agar usaha tersebut tumbuh, dipercaya, dan bertahan dalam jangka panjang. Dari pengalaman di dunia perbankan, bisnis mikro, organisasi, pelayanan masyarakat, serta pembelajaran dalam bidang Hukum Bisnis, saya merangkum sebuah pendekatan sederhana yang saya sebut “6H dalam Bisnis”, yaitu: Honest – Hard Work – Humble – Heart – Happy – Hobby. Enam prinsip ini saya susun berdasarkan urutan prioritas. Karakter harus mendahului keuntungan, kerja harus mendahului hasil, dan keberhasilan harus tetap dibingkai oleh hati serta kemanusiaan.
1. HONEST — KEJUJURAN ADALAH MODAL UTAMA
Honest berarti jujur.
Saya menempatkan kejujuran pada urutan pertama karena bisnis pada dasarnya adalah trust business — bisnis kepercayaan. Pelanggan membeli karena percaya. Bank memberikan pembiayaan karena percaya. Investor menanamkan modal karena percaya. Mitra usaha menjalin kerja sama karena percaya. Karyawan pun bertahan karena percaya kepada perusahaan dan kepemimpinannya. Kejujuran harus diterapkan dalam berbagai aspek usaha, mulai dari kualitas produk, harga, laporan keuangan, pembayaran pajak, perjanjian, pelayanan kepada konsumen, hingga hubungan dengan pemerintah dan masyarakat. Dalam perspektif Hukum Bisnis, setiap transaksi melahirkan hak, kewajiban, tanggung jawab, serta konsekuensi hukum. Karena itu, keuntungan tidak boleh diperoleh melalui manipulasi ataupun pelanggaran terhadap hak orang lain. “Kejujuran melahirkan kepercayaan. Kepercayaan melahirkan pelanggan. Pelanggan yang percaya membangun bisnis yang berkelanjutan.” Nama baik bahkan dapat menjadi aset yang jauh lebih berharga daripada gedung maupun uang.
2. HARD WORK — KERJA KERAS MENGUBAH RENCANA MENJADI KENYATAAN
Setelah mempunyai kejujuran, seorang pekerja maupun pengusaha harus memiliki etos kerja yang kuat. Tidak ada usaha besar yang dibangun hanya dengan keinginan. Di dalamnya terdapat proses panjang, kegagalan, penolakan, persaingan, kerugian, evaluasi, serta keberanian untuk mencoba kembali. Namun, di zaman digital, kerja keras saja tidak cukup. Kita membutuhkan: HARD WORK + SMART WORK + DIGITAL WORK
Artinya, seseorang harus bekerja keras sekaligus bekerja cerdas: memahami pasar, memanfaatkan teknologi, membaca data, membangun jaringan, meningkatkan pelayanan, serta terus berinovasi. Seorang pengusaha tidak boleh langsung menyerah apabila dagangannya belum laku. Evaluasi produknya, harganya, lokasi usahanya, promosinya, pelayanannya, serta kebutuhan konsumennya.“Kegagalan bukan selalu alasan untuk berhenti. Kegagalan dapat menjadi informasi tentang apa yang harus diperbaiki.”
3. HUMBLE — TETAP RENDAH HATI KETIKA BERHASIL
Humble berarti rendah hati.
Tidak ada pengusaha sukses yang bekerja sendirian. Di balik keberhasilan selalu ada pelanggan, pekerja, pemasok, mitra, perbankan, pemerintah, keluarga, dan masyarakat. Karena itu, semakin tinggi seseorang mencapai keberhasilan, semakin besar pula kebutuhannya untuk tetap rendah hati. Seorang pemimpin bisnis harus mau mendengar, menerima kritik, menghargai pekerja, belajar dari pelanggan, serta terbuka terhadap ide dari siapa pun. Jangan merasa terlalu besar untuk belajar dari pedagang kecil. Jangan merasa terlalu pintar untuk mendengarkan pelanggan. “Orang yang merasa sudah mengetahui semuanya akan berhenti belajar. Orang yang rendah hati akan terus bertumbuh.” Kerendahan hati bukan kelemahan. Dalam kepemimpinan, justru kerendahan hati dapat membangun loyalitas, kepercayaan, dan penghormatan.
4. HEART — BERBISNIS DENGAN HATI
Setelah Honest, Hard Work, dan Humble, saya menempatkan Heart atau hati. Bisnis bukan sekadar angka, omzet, target, dan keuntungan. Di balik setiap angka terdapat manusia. Ada karyawan yang mempunyai keluarga. Ada pelanggan yang membutuhkan pelayanan. Ada pemasok yang menggantungkan penghasilannya pada keberlangsungan usaha. Ada pula masyarakat di sekitar perusahaan yang seharusnya mendapatkan manfaat.
Karena itu, seorang pengusaha harus mempunyai empati, kepedulian, rasa keadilan, dan hati nurani. Berbisnis dengan Heart berarti, memperlakukan pekerja secara manusiawi, tidak mengambil keuntungan dengan merugikan pelanggan, membayar mitra secara adil dan tepat waktu, memperhatikan lingkungan, membantu UMKM dan usaha kecil berkembang, serta mengembalikan sebagian manfaat dari keberhasilan kepada masyarakat. Dalam Hukum Bisnis, kita tidak cukup hanya bertanya “Apakah ini diperbolehkan menurut hukum?” Kita juga perlu bertanya “Apakah ini benar, adil, dan pantas menurut hati nurani?” “Bisnis yang hanya menggunakan otak mungkin menghasilkan laba. Tetapi bisnis yang juga menggunakan hati akan menghasilkan kepercayaan, loyalitas, dan manfaat.”
5. HAPPY — SUKSES JUGA HARUS MEMBAWA KEBAHAGIAAN
Keberhasilan jangan hanya diukur dari jumlah aset, omzet, jabatan, maupun saldo rekening. Apa gunanya perusahaan semakin besar apabila kesehatan terganggu? Apa gunanya kekayaan bertambah apabila keluarga terabaikan? Apa gunanya berhasil apabila hidup tidak pernah dinikmati? Happy berarti menikmati proses, mensyukuri hasil, serta menciptakan lingkungan kerja dan kehidupan yang sehat. Menurut saya, keberhasilan bisnis harus mempunyai keseimbangan:
PROFIT + PEOPLE + PURPOSE + HAPPINESS
Perusahaan memang harus memperoleh keuntungan agar dapat bertahan dan berkembang. Namun, keuntungan tersebut semestinya juga meningkatkan kesejahteraan pemilik, pekerja, keluarga, dan masyarakat. “Jangan hanya menjadi orang kaya yang sibuk. Jadilah orang berhasil yang tetap mempunyai waktu untuk keluarga, kesehatan, persahabatan, pelayanan, dan masyarakat.”
6. HOBBY — JADIKAN KEGEMARAN SEBAGAI PELUANG
Saya menempatkan Hobby pada urutan keenam, bukan karena tidak penting, tetapi karena tidak semua bisnis harus berawal dari hobi. Namun, ketika hobi bertemu dengan kemampuan dan peluang pasar, ia dapat menjadi kekuatan yang luar biasa. Orang yang menyukai memasak dapat membangun bisnis kuliner. Pecinta kopi dapat membuka kedai kopi. Pecinta seni dapat mengembangkan galeri atau usaha kreatif. Orang yang gemar berbicara dapat mengembangkan podcast, pelatihan, maupun public speaking. Hobi membuat seseorang menikmati proses. Namun, hobi harus dikembangkan menjadi usaha yang profesional.
HOBBY + SKILL + MARKET + MANAGEMENT = BUSINESS OPPORTUNITY
Pertanyaannya bukan hanya: “Apa yang saya sukai?” Tetapi juga: “Bagaimana sesuatu yang saya sukai dapat memberikan manfaat kepada orang lain sekaligus mempunyai nilai ekonomi?”
FILOSOFI 6H DALAM BISNIS
Enam prinsip tersebut dapat dirangkum sebagai berikut:
1. HONEST — Integrity
Jujur untuk membangun kepercayaan.
2. HARD WORK — Performance
Kerja keras untuk menghasilkan prestasi.
3. HUMBLE — Attitude
Rendah hati agar terus belajar.
4. HEART — Humanity
Gunakan hati agar bisnis bermanfaat bagi manusia.
5. HAPPY — Balance
Nikmati perjalanan dan hasil keberhasilan.
6. HOBBY — Passion
Jadikan kecintaan sebagai energi dan peluang usaha.
Urutannya adalah: HONEST → HARD WORK → HUMBLE → HEART → HAPPY → HOBBY
Tanpa Honest, kepercayaan akan hilang.
Tanpa Hard Work, cita-cita hanya menjadi rencana.
Tanpa Humble, keberhasilan dapat melahirkan kesombongan.
Tanpa Heart, bisnis kehilangan kemanusiaannya.
Tanpa Happy, kesuksesan dapat kehilangan makna.
Tanpa Hobby atau Passion, pekerjaan dapat kehilangan gairah.
PENUTUP
Bagi saya, pengusaha yang berhasil bukan hanya orang yang mampu mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Keberhasilan juga harus diukur dari berapa banyak lapangan kerja yang diciptakan, berapa banyak orang yang ikut maju, seberapa besar kepercayaan yang dibangun, serta berapa banyak manfaat yang ditinggalkan kepada masyarakat. Karena itu, filosofi 6H dalam Bisnis dapat dirangkum dalam satu kalimat “Mulailah dengan JUJUR, jalankan dengan KERJA KERAS, ketika berhasil tetap RENDAH HATI, gunakan HATI dalam mengambil keputusan, jalani kehidupan dengan BAHAGIA, dan jadikan HOBBY sebagai kekuatan serta peluang.”
Bisnis yang besar bukan hanya bisnis yang mempunyai profit, tetapi bisnis yang memiliki integritas, reputasi, nilai kemanusiaan, keberlanjutan, serta memberikan manfaat kepada banyak orang.
6H DALAM BISNIS
HONEST • HARD WORK • HUMBLE • HEART • HAPPY • HOBBY
“Carilah keuntungan dengan kerja keras, jagalah dengan kejujuran, nikmatilah dengan kebahagiaan, dan bagikan manfaatnya dengan hati.”
St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok Ketua DPD PSI Kota Depok Mahasiswa Program Doktor (S3) Hukum – Konsentrasi Hukum Bisnis, Universitas Kristen Indonesia
Purnatugas PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di dunia perbankan dan bisnis mikro
