Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok Komisi A dan Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Di tengah dunia kerja saat ini, pendidikan formal menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kesempatan seseorang. Banyak perusahaan mensyaratkan pendidikan minimal sarjana, nilai akademik tertentu, kemampuan bahasa asing, bahkan berbagai sertifikasi profesional. Semua itu tentu penting. Pendidikan memberikan dasar pengetahuan, melatih cara berpikir, sekaligus membuka banyak kesempatan. Namun sejarah Indonesia juga mengajarkan bahwa ijazah bukan satu-satunya ukuran kapasitas seseorang.
Salah satu contoh yang menarik adalah Adam Malik, tokoh nasional yang pernah menjadi Menteri Luar Negeri Republik Indonesia dan kemudian Wakil Presiden Republik Indonesia. Adam Malik tidak tumbuh melalui jalur pendidikan tinggi seperti yang umumnya ditempuh para diplomat modern. Catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut ia memperoleh pendidikan di sekolah dasar yang dikelola Belanda serta sekolah agama. Namun keterbatasan pendidikan formal tersebut tidak menghentikannya untuk terus belajar.
Sejak usia muda, Adam Malik aktif dalam pergerakan nasional. Pada 1937, ia ikut mendirikan kantor berita Antara yang kemudian berkembang menjadi Kantor Berita Antara. Pengalaman sebagai wartawan, aktivis, politikus, dan diplomat membentuk kemampuan komunikasi serta pemahamannya terhadap politik nasional maupun internasional. Karier diplomatiknya pun tidak sederhana.
Ia pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet dan Polandia. Pada 1962, Adam Malik memimpin perundingan dengan Belanda mengenai persoalan Irian Barat. Kemudian sejak Maret 1966 ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia. Adam Malik juga menjadi salah satu tokoh yang menandatangani Deklarasi Bangkok pada 1967 yang melahirkan ASEAN, bersama para wakil dari Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Puncak pengakuan internasional terhadap kemampuan diplomasi Adam Malik terjadi pada 21 September 1971, ketika ia terpilih menjadi Presiden Sidang ke-26 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Bayangkan, seseorang dengan pendidikan formal yang terbatas mampu berdiri memimpin salah satu forum diplomasi paling penting di dunia.
Menurut saya, kisah Adam Malik bukanlah alasan untuk mengatakan bahwa sekolah dan perguruan tinggi tidak penting. Justru pendidikan harus terus kita perjuangkan dan tingkatkan kualitasnya. Tetapi ada pelajaran lain yang tidak kalah penting. Pendidikan formal harus berjalan bersama dengan kemauan belajar, pengalaman, keberanian mengambil tanggung jawab, kemampuan berkomunikasi, jaringan, kecerdasan membaca situasi, serta kepercayaan diri. Seseorang boleh memiliki banyak gelar akademik, tetapi apabila berhenti belajar ketika keluar dari ruang kelas, pengetahuannya dapat tertinggal. Sebaliknya, seseorang yang memiliki keterbatasan kesempatan pendidikan tetapi terus membaca, berdiskusi, belajar dari pengalaman, membangun relasi, dan berani mengambil kesempatan dapat berkembang jauh melampaui keterbatasannya.
Adam Malik belajar banyak dari dunia nyata. Politik menjadi ruang belajarnya. Jurnalistik menjadi sekolahnya. Pergaulan internasional menjadi tempat ia mengasah kemampuan diplomasi. Inilah yang menurut saya perlu menjadi inspirasi terutama bagi generasi muda. Jangan minder hanya karena kita merasa tidak berasal dari universitas paling terkenal, tidak memiliki nilai akademik paling tinggi, atau perjalanan hidup kita berbeda dengan orang lain. Tingkatkan pendidikan apabila kita mempunyai kesempatan. Kejar gelar akademik setinggi mungkin apabila mampu. Kuasai bahasa asing, teknologi, dan berbagai keterampilan yang dibutuhkan zaman. Tetapi jangan berhenti pada ijazah.
Bangun kemampuan berbicara. Perbanyak membaca. Belajar memahami manusia. Perluas jaringan. Berani mengambil tanggung jawab. Belajar bernegosiasi. Dan yang paling penting, jangan pernah merasa proses belajar selesai hanya karena kita telah meninggalkan bangku sekolah. Karena kehidupan sering kali memberikan ujian yang tidak pernah tercantum dalam silabus perkuliahan. Adam Malik membuktikan bahwa keterbatasan pendidikan formal tidak harus menjadi keterbatasan masa depan. Pada akhirnya, dunia tidak hanya melihat seberapa panjang gelar yang berada di belakang nama kita.
Dunia juga melihat apa yang kita mampu kerjakan, persoalan apa yang mampu kita selesaikan, bagaimana kita memperlakukan orang lain, dan sebesar apa kontribusi yang mampu kita berikan kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Itulah salah satu pelajaran besar yang dapat kita petik dari perjalanan hidup Adam Malik.
