Depok – Persoalan sampah masih menjadi tantangan yang dihadapi banyak daerah di Indonesia, termasuk Kota Depok. Pertumbuhan jumlah penduduk, meningkatnya aktivitas ekonomi, serta perubahan pola konsumsi masyarakat menyebabkan volume sampah terus bertambah setiap tahun. Kondisi tersebut menuntut adanya solusi yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan dan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD Kota Depok Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H. menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus dipandang sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, sampah tidak lagi sekadar menjadi persoalan kebersihan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat, kelestarian lingkungan, hingga peluang ekonomi. “Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengangkut dan membuangnya ke tempat pembuangan akhir. Kita membutuhkan perubahan pola pikir, inovasi dalam pengelolaan, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat agar sampah dapat dikelola secara berkelanjutan,” ujar Binton. Binton yang juga merupakan Mahasiswa Program Doktor (S3) Hukum Bisnis Universitas Kristen Indonesia (UKI) mengatakan bahwa penguatan regulasi dan tata kelola lingkungan menjadi faktor penting dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif. Menurutnya, pemerintah daerah perlu terus mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular, yaitu mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya melalui pemilahan, penggunaan kembali (reuse), daur ulang (recycle), dan pengolahan yang memberikan nilai tambah. “Pengelolaan sampah harus diarahkan menjadi bagian dari ekonomi sirkular. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat diolah menjadi produk baru, bahan baku industri, kompos, hingga sumber energi. Dengan demikian, manfaatnya bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Berbekal pengalaman selama 31 tahun berkarier di Bank Rakyat Indonesia (BRI), Binton menilai pengembangan usaha berbasis pengelolaan sampah juga berpotensi membuka peluang ekonomi baru. Menurutnya, bank sampah, koperasi lingkungan, dan pelaku UMKM yang bergerak di bidang daur ulang perlu mendapatkan dukungan berupa pelatihan, akses pembiayaan, dan pendampingan usaha. “Apabila dikelola secara profesional, sektor pengelolaan sampah dapat menjadi sumber ekonomi baru. Banyak masyarakat yang bisa memperoleh penghasilan dari kegiatan daur ulang maupun usaha berbasis lingkungan. Karena itu, pemerintah perlu memberikan dukungan nyata melalui pembiayaan, pelatihan, dan kemitraan usaha,” jelasnya. Sebagai Anggota DPRD Kota Depok, Binton juga menyoroti pentingnya edukasi kepada masyarakat untuk membangun budaya peduli lingkungan sejak dini. Ia menilai kebiasaan memilah sampah dari rumah tangga harus menjadi gerakan bersama yang didukung oleh sekolah, komunitas, dunia usaha, dan pemerintah. Selain itu, ia mendorong pemanfaatan teknologi dalam sistem pengelolaan sampah, mulai dari digitalisasi layanan pengangkutan, optimalisasi bank sampah berbasis aplikasi, hingga pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi yang tetap memperhatikan aspek lingkungan dan regulasi yang berlaku. “Kota Depok memiliki potensi besar untuk menjadi contoh pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan. Dengan kolaborasi yang kuat, inovasi teknologi, serta partisipasi aktif masyarakat, saya optimistis persoalan sampah dapat diatasi secara bertahap dan memberikan manfaat ekonomi maupun lingkungan,” ungkapnya.
Binton menambahkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membiasakan pemilahan sampah, dan mendukung berbagai program lingkungan di tingkat kelurahan maupun komunitas. Ia berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dapat mempercepat terwujudnya sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. “Lingkungan yang bersih adalah investasi bagi masa depan. Jika pengelolaan sampah dilakukan secara terencana dan berkelanjutan, kita bukan hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan mewariskan kota yang lebih baik bagi generasi mendatang,” tutup Binton.
