Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 Tahun Pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Dalam kehidupan, manusia sering bertanya mengapa ada orang yang sudah berdoa dan bekerja keras, tetapi belum memperoleh keberhasilan yang diharapkan. Sementara itu, ada orang lain yang terlihat lebih mudah mendapatkan kesempatan, rezeki, dan kemajuan. Pertanyaan tersebut mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak cukup dijalani hanya dengan berharap, tetapi juga membutuhkan pemahaman, kedisiplinan, tindakan nyata, dan tanggung jawab atas setiap keputusan.
Ada sebuah cara pandang menarik yang menggambarkan hubungan antara Tuhan, semesta, dan kehidupan manusia melalui perumpamaan sebuah perusahaan. Dalam perumpamaan tersebut, Tuhan digambarkan sebagai pemilik perusahaan, semesta sebagai sistem yang berjalan, dan berbagai prinsip kehidupan diibaratkan sebagai aturan kerja yang perlu dipahami. Tentu saja, perumpamaan ini bukan berarti Tuhan dapat disamakan sepenuhnya dengan pemilik perusahaan atau bahwa seluruh kehidupan bekerja seperti sebuah organisasi. Namun, ada pelajaran penting yang dapat kita ambil, yaitu bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dan keberhasilan membutuhkan proses.
Pertama, iman harus disertai tindakan nyata.
Berdoa merupakan bagian penting dari kehidupan spiritual. Namun, doa tidak seharusnya dijadikan alasan untuk berhenti berusaha. Seseorang yang menginginkan kehidupan ekonomi lebih baik perlu bekerja, meningkatkan keterampilan, mengelola keuangan, dan memanfaatkan peluang secara bertanggung jawab. Jangan hanya berdoa meminta keberhasilan, tetapi persiapkan diri agar mampu menjalankan tanggung jawab ketika kesempatan datang.
Kedua, pahami pentingnya sistem dan kedisiplinan.
Dalam sebuah perusahaan, keberhasilan tidak cukup hanya mengandalkan keinginan pemilik atau semangat karyawan. Diperlukan sistem kerja, aturan, evaluasi, dan tanggung jawab yang jelas. Demikian pula dalam kehidupan. Orang yang ingin maju perlu membangun kebiasaan baik, mengatur waktu, menjaga komitmen, dan melakukan evaluasi terhadap setiap keputusan. Keberhasilan memang tidak selalu dapat dipastikan, tetapi kedisiplinan dan sistem yang baik membantu memperbesar peluang untuk mencapai tujuan.
Ketiga, cara berpikir memengaruhi tindakan dan keputusan.
Pikiran yang terus dipenuhi ketakutan, kemarahan, keputusasaan, atau prasangka dapat menghambat seseorang dalam melihat peluang dan mengambil keputusan. Sebaliknya, pola pikir yang terbuka, optimistis, dan realistis membantu seseorang menghadapi masalah dengan lebih baik. Namun, berpikir positif saja tidak otomatis mendatangkan rezeki. Tetap diperlukan pengetahuan, kemampuan, kerja keras, dan kesempatan.
Keempat, bersyukur dan berserah diri bukan berarti menyerah.
Ada kalanya manusia sudah melakukan yang terbaik, tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Dalam keadaan seperti ini, diperlukan kesabaran, evaluasi, dan keyakinan untuk terus melangkah. Berserah diri kepada Tuhan bukan berarti berhenti bekerja atau menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada keadaan. Kita perlu melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita dengan sungguh-sungguh, kemudian menerima hasilnya dengan bijaksana sambil terus memperbaiki diri.
Kelima, keberhasilan harus dibangun dengan integritas.
Dalam dunia bisnis, organisasi, maupun kehidupan sosial, kepercayaan merupakan modal yang sangat berharga. Orang yang menjaga kejujuran, menepati janji, bekerja secara profesional, dan menghargai sesama akan lebih mampu membangun hubungan yang sehat dan berkelanjutan. Sebaliknya, keberhasilan yang diperoleh melalui ketidakjujuran dapat merusak kepercayaan dan menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Menurut saya, kehidupan yang baik bukan hanya tentang seberapa besar keinginan kita untuk berhasil, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani proses dengan iman, pengetahuan, kerja keras, dan karakter yang benar.
Kita tidak dapat mengendalikan seluruh keadaan, tetapi kita dapat memperbaiki sikap, meningkatkan kemampuan, menjaga hubungan dengan sesama, serta mengambil keputusan yang lebih bijaksana. Pada akhirnya, jangan hanya meminta Tuhan mengubah keadaan hidup kita, tetapi bersedialah memperbaiki kebiasaan, cara berpikir, dan tindakan yang masih menjadi tanggung jawab kita sendiri.
Berdoalah dengan sungguh-sungguh, bekerjalah dengan disiplin, bersyukurlah dalam setiap keadaan, dan jangan pernah berhenti belajar. Karena iman memberikan pengharapan, pengetahuan memberikan arah, tindakan membuka peluang, dan integritas menjaga nilai dari setiap keberhasilan yang kita capai.(BN)
