Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok
Ada satu pelajaran penting dalam kehidupan ekonomi yang sering kita abaikan: mendapatkan uang dalam jumlah besar tidak otomatis membuat seseorang menjadi sejahtera. Uang memang penting, tetapi kemampuan mengelola uang jauh lebih menentukan apakah kekayaan tersebut dapat bertahan, berkembang, atau justru habis dalam waktu singkat. Menurut saya, persoalan utama bukan semata-mata berapa banyak uang yang masuk, tetapi bagaimana cara seseorang berpikir ketika menerima uang tersebut. Jika pola pikir, pengetahuan, dan kebiasaan keuangannya tidak berubah, uang sebesar apa pun berpotensi habis.
Uang Besar Bisa Habis Jika Tidak Dikelola
Kita sering mendengar seseorang mendapatkan uang dalam jumlah besar secara tiba-tiba, baik melalui penjualan aset, warisan, bonus, kompensasi, maupun sumber lainnya. Pada awalnya kondisi ekonominya terlihat berubah. Kendaraan dibeli, rumah direnovasi, barang konsumtif bertambah, dan gaya hidup meningkat. Namun masalah muncul ketika uang yang diterima lebih banyak digunakan untuk konsumsi daripada membangun sumber pendapatan baru. Menurut saya, uang yang hanya dibelanjakan akan terus berkurang. Uang yang dikelola dengan pengetahuan dapat menjadi modal untuk membangun masa depan. Karena itu, mendapatkan uang hanyalah satu tahap. Tantangan sesungguhnya adalah mempertahankan dan mengembangkannya.
Kaya Bukan Sekadar Memiliki Banyak Uang
Kekayaan seharusnya tidak hanya dilihat dari saldo rekening atau kendaraan yang dimiliki. Seseorang bisa terlihat mempunyai banyak uang hari ini, tetapi apabila seluruh kehidupannya bergantung pada uang tersebut tanpa mempunyai sumber penghasilan yang berkelanjutan, kondisi ekonominya tetap rentan. Menurut saya, kesejahteraan yang sehat membutuhkan penghasilan, aset produktif, kemampuan mengendalikan pengeluaran, dana cadangan, dan pengetahuan mengenai risiko. Artinya, tujuan kita bukan sekadar mempunyai uang, tetapi membangun sistem keuangan yang mampu menghasilkan dan mempertahankan nilai.
Mindset Harus Berubah Bersama Kondisi Ekonomi
Ketika pendapatan meningkat, cara berpikir juga harus berkembang. Jika sebelumnya seseorang terbiasa menghabiskan seluruh pendapatannya, ketika memperoleh uang sepuluh kali lebih besar tetapi kebiasaannya tetap sama, kemungkinan besar pengeluarannya juga akan meningkat. Inilah mengapa menurut saya perubahan ekonomi harus diikuti perubahan pola pikir. Pertanyaannya jangan hanya “Apa yang bisa saya beli dengan uang ini?” Tetapi juga “Bagaimana uang ini dapat membantu kehidupan saya lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan?” Perubahan pertanyaan sederhana tersebut dapat menghasilkan keputusan yang sangat berbeda.
Bedakan Aset Produktif dan Konsumsi
Salah satu keterampilan keuangan yang penting adalah memahami perbedaan antara pengeluaran konsumtif dengan sesuatu yang dapat menghasilkan nilai ekonomi. Membeli kendaraan mungkin diperlukan. Memperbaiki rumah juga dapat menjadi kebutuhan. Menikmati hasil kerja bukan sesuatu yang salah. Namun semuanya harus dilakukan secara proporsional. Sebagian uang seharusnya diarahkan untuk modal usaha, peningkatan keterampilan, pendidikan, instrumen investasi yang dipahami, atau aset produktif yang dapat menghasilkan pendapatan. Dengan demikian, uang tidak hanya keluar, tetapi juga mempunyai kesempatan untuk kembali menghasilkan nilai.
Pelaku UMKM Juga Harus Membangun Disiplin Keuangan
Prinsip yang sama berlaku bagi pelaku UMKM. Banyak usaha sebenarnya memiliki penjualan yang baik, tetapi sulit berkembang karena uang usaha bercampur dengan uang pribadi. Ketika ada keuntungan, seluruhnya dianggap sebagai uang yang bisa dibelanjakan. Menurut saya, pelaku UMKM harus mulai membangun sistem sederhana pisahkan uang pribadi dan uang usaha, catat pemasukan dan pengeluaran, sisihkan modal kerja, bentuk dana cadangan, dan investasikan sebagian keuntungan untuk meningkatkan kapasitas usaha. Usaha yang besar bukan hanya lahir dari penjualan besar, tetapi dari kemampuan mengelola arus kas secara disiplin.
Literasi Keuangan Harus Dibangun
Kita membutuhkan masyarakat yang tidak hanya bekerja keras mencari uang, tetapi juga memahami bagaimana mengelola hasil kerja tersebut. Literasi keuangan bukan berarti setiap orang harus menjadi ahli investasi. Literasi keuangan dimulai dari hal-hal sederhana memahami kebutuhan dan keinginan, mengetahui kemampuan berutang, mempunyai tabungan darurat, memahami risiko sebelum berinvestasi, dan tidak mudah tergoda keuntungan besar yang tidak kita pahami. Semakin besar uang yang kita kelola, semakin besar pula tanggung jawab dan pengetahuan yang diperlukan. Karena keputusan yang salah terhadap Rp1 juta mungkin masih dapat diperbaiki, tetapi keputusan yang salah terhadap ratusan juta atau miliaran rupiah dapat mengubah masa depan sebuah keluarga.
Jangan Naikkan Gaya Hidup Lebih Cepat daripada Kemampuan
Salah satu jebakan ketika kondisi ekonomi membaik adalah lifestyle inflation—penghasilan bertambah dan pengeluaran langsung ikut melonjak. Menurut saya, ketika pendapatan meningkat, kualitas aset dan keamanan keuangan seharusnya meningkat terlebih dahulu sebelum gaya hidup. Bangun dana darurat. Kurangi utang yang memberatkan. Perkuat usaha. Tingkatkan kompetensi. Siapkan pendidikan keluarga. Setelah fondasi tersebut semakin kuat, barulah peningkatan gaya hidup dilakukan secara wajar.
Uang Adalah Alat, Bukan Tujuan Akhir
Pada akhirnya, uang hanyalah alat. Uang dapat memberikan kesempatan, keamanan, pendidikan, modal usaha, dan kehidupan yang lebih baik. Tetapi semuanya sangat tergantung pada bagaimana uang tersebut digunakan. Menurut saya, orang yang memiliki banyak uang belum tentu memiliki kemampuan mengelola kekayaan. Sebaliknya, seseorang yang saat ini belum mempunyai banyak uang dapat membangun masa depan yang lebih baik apabila mempunyai disiplin, pengetahuan, dan kebiasaan keuangan yang sehat. Karena itu, jangan hanya mengajarkan masyarakat bagaimana mencari uang. Kita juga harus mengajarkan bagaimana menyimpan, mengelola, melindungi, dan mengembangkan uang. Saran saya sederhana ketika mendapatkan rezeki lebih besar, jangan buru-buru menaikkan gaya hidup. Tingkatkan terlebih dahulu pengetahuan dan kemampuan mengelola keuangan. Sisihkan untuk kebutuhan keluarga, bangun dana cadangan, lunasi kewajiban yang memberatkan, dan arahkan sebagian untuk sesuatu yang produktif. Sebab pada akhirnya,
Kesejahteraan bukan ditentukan oleh seberapa banyak uang yang pernah kita terima, tetapi seberapa bijaksana kita mengelolanya agar memberikan manfaat dalam jangka panjang.(BN)
