Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Ada satu persoalan penting yang patut kita renungkan ketika berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia Indonesia. Menurut saya, kemajuan suatu bangsa tidak cukup hanya diukur dari kecerdasan akademik atau angka IQ. Yang jauh lebih luas adalah kemampuan masyarakat untuk membaca, memahami informasi, berpikir kritis, berdiskusi secara rasional, menjaga moralitas, serta mempunyai kerendahan hati untuk terus belajar. Di tengah arus informasi yang sangat cepat, tantangan kita bukan lagi sekadar kekurangan informasi. Justru kita hidup pada masa ketika informasi tersedia hampir tanpa batas. Persoalannya adalah apakah kita mempunyai kemampuan untuk menyeleksi, memahami, menguji, dan menggunakan informasi tersebut secara bertanggung jawab.
Jangan Merasa Tahu Sebelum Benar-Benar Memahami
Salah satu tantangan dalam kehidupan sosial hari ini adalah munculnya kebiasaan merasa mengetahui sesuatu hanya karena pernah membaca satu unggahan, menonton satu potongan konten, atau mendengar satu pendapat. Menurut saya, pengetahuan yang sebenarnya membutuhkan proses. Kita harus membaca lebih luas, membandingkan sumber, mendengarkan pandangan berbeda, dan berani mengakui ketika kita belum memahami suatu persoalan. Orang yang berpendidikan bukanlah orang yang selalu mempunyai jawaban. Justru salah satu tanda kedewasaan intelektual adalah kemampuan berkata, “Saya belum tahu, saya perlu belajar lebih lanjut.” Kerendahan hati seperti inilah yang menjaga seseorang agar tidak mudah terjebak pada kesimpulan yang keliru.
Literasi Bukan Sekadar Bisa Membaca
Literasi sering disederhanakan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Padahal dalam kehidupan modern, literasi jauh lebih luas. Kita membutuhkan literasi digital, literasi keuangan, literasi hukum, literasi politik, serta kemampuan memahami data dan informasi. Seseorang dapat membaca ribuan kata setiap hari melalui media sosial, tetapi belum tentu benar-benar memahami konteks dari apa yang dibacanya. Karena itu, menurut saya, tantangan kita bukan hanya membuat masyarakat lebih banyak membaca, tetapi membuat masyarakat lebih mampu memahami dan menilai apa yang dibaca. Sebelum membagikan informasi, periksa sumbernya. Sebelum percaya pada sebuah klaim, cari penjelasan lain. Sebelum menghakimi seseorang, pahami persoalannya secara utuh.
IQ Bukan Satu-Satunya Ukuran Kualitas Manusia
Pembicaraan mengenai kecerdasan sering berakhir pada angka IQ. Padahal kualitas manusia tidak sesederhana satu angka. Kemampuan seseorang juga dipengaruhi pendidikan, pengalaman, lingkungan, kesehatan, kesempatan, kemampuan sosial, kreativitas, disiplin, karakter, dan banyak faktor lainnya. Karena itu, saya berpendapat bahwa kita sebaiknya berhati-hati menggunakan angka IQ untuk memberikan penilaian umum terhadap kualitas masyarakat atau suatu bangsa. Yang lebih produktif adalah memperkuat pendidikan, budaya membaca, kemampuan berpikir kritis, serta akses masyarakat terhadap pengetahuan. Bangsa yang maju bukan hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi juga orang yang mempunyai integritas, mampu bekerja sama, menghargai fakta, dan menggunakan pengetahuannya untuk menghasilkan manfaat.
Kebebasan Berpikir Harus Disertai Tanggung Jawab
Kita membutuhkan masyarakat yang berani berpikir secara mandiri. Namun pemikir bebas bukan berarti bebas mengatakan apa saja tanpa dasar. Kebebasan berpikir harus berjalan bersama logika, bukti, etika, dan tanggung jawab. Menurut saya, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang sehat. Justru melalui perbedaan, suatu gagasan dapat diuji. Namun perdebatan seharusnya diarahkan kepada gagasan, bukan berubah menjadi serangan pribadi. Tidak perlu marah hanya karena seseorang mempunyai pandangan berbeda. Dengarkan argumentasinya. Periksa faktanya. Jika kita mempunyai bukti yang lebih kuat, sampaikan dengan baik. Kualitas sebuah diskusi terlihat bukan dari seberapa keras seseorang berbicara, tetapi dari seberapa kuat alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pengetahuan Tanpa Moralitas Juga Berbahaya
Kemajuan ilmu pengetahuan memang penting, tetapi menurut saya, pengetahuan harus berjalan bersama moralitas. Orang yang sangat pintar tetapi tidak mempunyai integritas dapat menggunakan kepintarannya untuk kepentingan yang merugikan orang lain. Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya mengejar nilai akademik. Pendidikan harus membentuk kejujuran, tanggung jawab, empati, disiplin, serta kesadaran bahwa kemampuan yang kita miliki seharusnya memberikan manfaat kepada masyarakat. Kecerdasan memberikan kemampuan untuk melakukan sesuatu. Karakter menentukan untuk apa kemampuan tersebut digunakan.
Bangun Lingkungan dan Jaringan yang Membuat Kita Bertumbuh
Perkembangan seseorang juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Jika kita berada dalam lingkungan yang gemar belajar, berdiskusi, bekerja keras, dan terbuka terhadap kritik, kita akan terdorong untuk terus meningkatkan kualitas diri. Karena itu, jangan hanya membangun network untuk mencari keuntungan. Bangun jaringan dengan orang-orang yang mempunyai pengetahuan, pengalaman, integritas, dan semangat untuk berkembang. Bagi generasi muda maupun pelaku UMKM, lingkungan seperti ini sangat penting. Pertemuan dengan orang yang tepat dapat membuka pengetahuan, pasar, teknologi, pengalaman, bahkan sudut pandang baru yang sebelumnya tidak kita miliki.
Saran Saya: Kurangi Budaya Sok Tahu, Perbanyak Budaya Belajar
Saran saya sederhana. Jangan malu mengatakan belum tahu. Yang seharusnya kita khawatirkan justru ketika tidak tahu tetapi merasa sudah mengetahui semuanya. Biasakan membaca lebih panjang daripada sekadar judul. Dengarkan orang yang memang memahami bidangnya. Jangan hanya mencari informasi yang membenarkan pendapat kita sendiri. Belajarlah menerima koreksi. Gunakan teknologi untuk meningkatkan kemampuan, bukan hanya untuk mencari hiburan. Bagi orang tua, dorong anak untuk bertanya dan membaca. Bagi sekolah dan perguruan tinggi, bangun ruang diskusi yang sehat. Bagi organisasi, berikan kesempatan kepada anggota untuk belajar dan mengembangkan kompetensi. Bagi masyarakat, mari menciptakan budaya yang menghargai ilmu pengetahuan.
Menurut saya, masa depan Indonesia tidak hanya bergantung pada berapa banyak orang pintar yang kita miliki, tetapi pada seberapa banyak masyarakat yang mau terus belajar, berpikir jernih, bekerja sama, dan mempunyai integritas. Kita tidak membutuhkan generasi yang merasa paling mengetahui segala sesuatu. Kita membutuhkan generasi yang penasaran, kritis, terbuka, berkarakter, dan tidak pernah berhenti belajar. Saran saya semakin banyak ilmu yang kita miliki, seharusnya semakin rendah hati kita dalam berbicara. Karena pengetahuan yang sesungguhnya bukan membuat seseorang merasa paling tahu, tetapi membuatnya semakin menyadari betapa banyak hal yang masih perlu dipelajari.(BN)
