Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok | Anggota Bapemperda DPRD Kota Depok
Hidup dapat diibaratkan sebagai sebuah buku catatan. Ada halaman yang telah dituliskan untuk kita, ada pula halaman-halaman yang setiap hari harus kita isi sendiri melalui pilihan, tindakan, perkataan, dan cara kita memperlakukan sesama. Menurut saya, yang membuat kehidupan seseorang bernilai bukan hanya berapa lama ia hidup, tetapi apa yang ia tuliskan dalam perjalanan hidup tersebut. Kita tidak memilih bagaimana dan di mana kita dilahirkan. Kita juga tidak sepenuhnya mengetahui kapan perjalanan kehidupan akan berakhir. Tetapi di antara kelahiran dan kematian terdapat begitu banyak halaman yang dipercayakan kepada kita. Di situlah manusia mempunyai kesempatan untuk belajar, bekerja, mengasihi, berbagi, memperbaiki kesalahan, dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Halaman Pertama Bukan Kita yang Menentukan
Tidak seorang pun memilih keluarga tempat ia dilahirkan, kondisi ekonomi keluarganya, lingkungan pertamanya, ataupun berbagai keadaan yang menyertai kelahirannya. Ada yang memulai hidup dalam keadaan berkecukupan, ada yang tumbuh dalam kesederhanaan, dan ada pula yang sejak awal harus menghadapi berbagai keterbatasan. Menurut saya, kita tidak seharusnya terlalu lama mempersoalkan halaman pertama kehidupan karena halaman tersebut bukan sepenuhnya pilihan kita. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menuliskan halaman berikutnya. Latar belakang memang dapat memengaruhi perjalanan seseorang, tetapi latar belakang tidak harus menjadi satu-satunya penentu masa depannya. Pendidikan, kerja keras, disiplin, karakter, keberanian belajar, serta lingkungan yang baik dapat membuka jalan menuju kehidupan yang lebih berkembang.
Nilai Kehidupan Terlihat dari Apa yang Kita Berikan
Dalam perjalanan hidup, manusia sering sibuk menghitung apa yang telah diperolehnya jabatan, kekayaan, penghargaan, kendaraan, rumah, atau kedudukan sosial. Semua itu dapat menjadi bagian dari pencapaian, tetapi menurut saya, nilai seseorang tidak cukup diukur dari apa yang berhasil ia kumpulkan. Kita juga harus bertanya apa yang telah ia berikan? Ada orang yang mungkin tidak mempunyai kekayaan besar tetapi kehadirannya membuat banyak orang merasa terbantu. Ada guru yang mengubah masa depan muridnya. Ada orang tua yang berkorban untuk pendidikan anaknya. Ada pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan. Ada pekerja yang menjalankan tugasnya dengan penuh integritas. Ada pula seseorang yang sederhana tetapi selalu hadir ketika orang lain membutuhkan pertolongan. Itulah sebabnya kebaikan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mahal. Senyum tidak memerlukan biaya, perhatian tidak harus berbentuk uang, dan kata-kata yang baik dapat memberikan kekuatan kepada orang lain.
Jadilah Orang yang Bertambah Ilmu Sekaligus Bertambah Manfaat
Semakin bertambah usia, halaman kehidupan kita juga semakin banyak. Namun pertanyaannya adalah apakah halaman tersebut hanya bertambah jumlahnya, atau juga bertambah nilainya? Menurut saya, setiap tahap kehidupan harus diisi dengan pembelajaran. Jangan sampai usia bertambah tetapi pengetahuan, kedewasaan, dan karakter berhenti berkembang. Kita harus terus belajar dari buku, pendidikan, pengalaman, pekerjaan, kegagalan, keberhasilan, bahkan dari orang-orang yang kita temui. Orang yang pernah gagal seharusnya belajar agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Orang yang berhasil pun tetap harus belajar agar tidak merasa dirinya sudah mengetahui semuanya. Semakin banyak pengalaman yang kita miliki, seharusnya semakin matang pula cara kita berpikir.
Kemurahan Hati Tidak Hanya Berbicara tentang Uang
Menjadi pribadi yang dermawan tidak selalu berarti memberikan uang dalam jumlah besar. Kemurahan hati dapat hadir melalui waktu, pengetahuan, kesempatan, perhatian, maupun kemampuan yang kita miliki. Seorang profesional dapat berbagi pengetahuan. Seorang pengusaha dapat membuka kesempatan kerja. Orang yang mempunyai pengalaman dapat membimbing generasi yang lebih muda. Mereka yang mempunyai pengaruh dapat menggunakan pengaruhnya untuk membantu orang lain memperoleh kesempatan. Menurut saya, kehidupan menjadi jauh lebih bermakna ketika apa yang kita miliki tidak berhenti pada diri sendiri. Kita tidak akan membawa seluruh materi yang kita kumpulkan sepanjang hidup. Tetapi ilmu yang pernah kita bagikan, orang yang pernah kita bantu, keluarga yang kita jaga, pekerjaan yang kita lakukan dengan baik, serta kebaikan yang pernah kita tanam dapat meninggalkan pengaruh jauh setelah sebuah peristiwa berlalu.
Jangan Hanya Menjadi Penerima dalam Kehidupan
Pada masa tertentu kita memang membutuhkan bantuan orang lain. Tidak ada manusia yang dapat hidup sepenuhnya sendirian. Kita tumbuh karena keluarga, guru, sahabat, rekan kerja, masyarakat, dan banyak orang yang mungkin jasanya tidak pernah kita sadari. Tetapi menurut saya, jangan sepanjang hidup hanya menjadi penerima. Pada waktunya kita juga harus belajar menjadi pemberi. Jika dahulu kita dibantu, ketika sudah mampu bantulah orang lain. Jika dahulu seseorang memberikan kesempatan kepada kita, kelak berikan kesempatan kepada orang lain. Jika kita pernah mendapatkan ilmu dari seseorang, bagikan kembali pengetahuan tersebut. Dengan cara itulah kebaikan terus bergerak dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Ketika Halaman Kehidupan Semakin Menipis
Tidak ada manusia yang mengetahui secara pasti berapa banyak halaman kehidupan yang masih tersedia baginya. Karena itu, semakin bertambah usia seharusnya semakin besar kesadaran untuk menggunakan waktu dengan baik. Menurut saya, waktu adalah salah satu kekayaan paling berharga karena uang yang hilang mungkin masih dapat dicari kembali, tetapi waktu yang berlalu tidak pernah dapat dikembalikan. Jangan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk dendam, iri hati, permusuhan, atau membuktikan diri kepada semua orang. Gunakan waktu untuk memperbaiki kehidupan, menjaga keluarga, meningkatkan kemampuan, bekerja dengan benar, membantu sesama, serta membangun sesuatu yang dapat memberikan manfaat. Setiap hari sebenarnya kita sedang menulis sejarah kecil tentang diri kita sendiri.
Halaman Terakhir Mengingatkan Kita untuk Rendah Hati
Pada akhirnya, setiap perjalanan manusia akan sampai pada halaman terakhir. Kapan waktunya dan bagaimana akhirnya merupakan bagian kehidupan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Kesadaran terhadap kematian bukan untuk membuat kita takut menjalani hidup. Justru menurut saya, kesadaran bahwa kehidupan mempunyai batas seharusnya membuat kita lebih serius memberikan makna pada waktu yang tersedia. Jabatan akan berakhir. Kekayaan dapat berpindah tangan. Popularitas dapat hilang. Tetapi karakter, pengabdian, kebaikan, pengetahuan yang dibagikan, dan manfaat yang kita tinggalkan akan menjadi bagian dari jejak perjalanan kita. Karena itu, jangan terlalu sibuk bertanya berapa panjang buku kehidupan kita. Lebih penting bertanya apa yang sedang kita tuliskan di dalamnya? Saran saya sederhana isilah halaman kehidupan dengan pembelajaran, kerja keras, integritas, kasih kepada keluarga, kepedulian kepada sesama, dan keberanian untuk memberikan manfaat. Jangan menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Jangan menunggu mempunyai jabatan untuk berbuat baik. Jangan menunggu usia tua untuk mulai memperbaiki diri. Karena pada akhirnya,
kehidupan yang bernilai bukan kehidupan yang paling banyak halamannya, tetapi kehidupan yang setiap halamannya meninggalkan pelajaran, kebaikan, dan manfaat bagi orang lain.(BN)
