Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Penetua Gereja | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah lebih dari 30 tahun pengabdian sebagai Pelayan Nasabah | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” — Amsal 3:5
Dalam kehidupan, tidak semua yang kita rencanakan berjalan sesuai harapan. Ada usaha yang belum berhasil, pekerjaan yang belum diperoleh, hubungan yang menghadapi persoalan, atau doa yang jawabannya belum terlihat. Pada saat seperti inilah iman kita diuji. Menurut saya, percaya kepada Tuhan bukan hanya ketika semuanya berjalan baik, tetapi juga ketika kita belum memahami apa yang sedang terjadi.
Kita sering ingin semuanya terjadi sesuai waktu yang kita tentukan. Padahal ada proses yang harus dilewati. Ada karakter yang perlu dibentuk, kesalahan yang harus diperbaiki, dan pelajaran yang baru dapat dipahami setelah kita melewati masa sulit. Karena itu, jangan terlalu cepat menganggap Tuhan tidak mendengar hanya karena jawaban belum datang. Lebih dari 30 tahun saya mengabdi di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai pelayan nasabah di wilayah Depok. Saya bertemu dengan ribuan masyarakat dari berbagai latar belakang. Ada pelaku UMKM yang berhasil, ada yang mengalami kesulitan, ada yang pernah jatuh kemudian bangkit kembali. Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa satu kegagalan tidak menentukan seluruh perjalanan hidup seseorang.
Percaya kepada Tuhan juga bukan berarti kita berhenti berusaha. Kalau berdoa agar usaha berkembang, kita harus belajar mengelolanya dengan lebih baik. Kalau berdoa agar keluarga dipulihkan, kita harus belajar berkomunikasi, meminta maaf, dan mengampuni. Kalau meminta kehidupan berubah, kita juga harus berani memperbaiki diri. Dalam perjalanan hidup saya, pelayanan menjadi bagian penting. Ketika bekerja di Bank BRI, saya belajar menjadi pelayan nasabah. Ketika dipercaya menjadi penetua gereja, saya belajar melayani Tuhan dan sesama. Dan ketika masyarakat memberikan kepercayaan kepada saya menjadi Anggota DPRD Kota Depok, saya kembali belajar menjadi pelayan masyarakat. Tempat pelayanan dapat berubah, tetapi prinsipnya tetap sama: hidup harus memberikan manfaat.
Jangan pula berhenti berbuat baik hanya karena kehidupan sedang sulit. Menjadi berkat tidak selalu membutuhkan uang. Kita dapat memberikan perhatian, informasi, kesempatan, doa, atau sekadar semangat kepada seseorang yang sedang kehilangan harapan. Kadang keadaan sulit juga mengajak kita mengevaluasi diri. Mungkin ada keputusan yang harus diperbaiki, kebiasaan yang harus dihentikan, atau hubungan yang perlu dipulihkan. Mengakui kesalahan bukan tanda kekalahan. Mengakui kesalahan adalah awal dari perubahan. Pada akhirnya, jangan menilai seluruh masa depan hanya dari keadaan hari ini. Selama Tuhan masih memberikan kehidupan, masih ada kesempatan untuk bangkit, memperbaiki diri, bekerja, melayani, dan memulai kembali.
Tetaplah percaya. Tetaplah berdoa. Tetaplah berusaha dan berbuat baik. Sebab ketika hidup belum berjalan sesuai rencana kita, bukan berarti Tuhan telah selesai bekerja.
