Oleh: St. Binton Jhonson Nadapdap, S.Sos., S.H., M.M., M.H.
Anggota DPRD Kota Depok – Komisi A | Ketua DPD PSI Kota Depok | Purnabakti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk setelah 31 tahun pengabdian | Penggiat dan Pelaku UMKM | Mahasiswa Program Doktor Hukum Universitas Kristen Indonesia
Banyak orang memulai usaha dengan semangat yang besar. Mereka ingin mendapatkan penghasilan tambahan, membantu ekonomi keluarga, membuka lapangan kerja, atau membangun masa depan yang lebih baik. Namun menurut saya, semangat saja belum cukup. UMKM juga harus mempunyai target yang jelas agar usaha tidak berjalan tanpa arah. Usaha yang tidak mempunyai target akan sulit dievaluasi. Pemilik mungkin merasa sudah bekerja keras setiap hari, tetapi tidak mengetahui apakah usaha benar-benar berkembang, berjalan di tempat, atau justru mengalami kemunduran. Karena itu, pelaku UMKM perlu membiasakan diri menetapkan tujuan. Tidak harus langsung besar. Yang penting terukur, realistis, dan terus dievaluasi.
Jangan Hanya Membuka Usaha, Tentukan Mau Dibawa ke Mana
Ketika memulai usaha, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: usaha ini ingin menjadi apa dalam satu, tiga, atau lima tahun ke depan? Apakah ingin menambah pelanggan, menambah omzet, membuka cabang, merekrut karyawan, mempunyai produk sendiri, masuk marketplace, memiliki legalitas lengkap, atau menjadi pemasok bagi perusahaan yang lebih besar? Menurut saya, usaha yang mempunyai arah akan lebih mudah menentukan langkah. Kalau targetnya menambah pelanggan, pemasaran harus diperkuat. Kalau targetnya meningkatkan keuntungan, biaya harus dikendalikan. Kalau targetnya membuka cabang, sistem dan sumber daya manusia harus dipersiapkan.
Target Harus Bisa Diukur
Jangan hanya mengatakan, “Saya ingin usaha lebih maju.” Pertanyaan berikutnya adalah: lebih maju seperti apa? Misalnya saat ini memiliki 100 pelanggan dalam satu bulan, maka tahun depan targetnya dapat menjadi 150 pelanggan. Jika omzet rata-rata Rp20 juta per bulan, pelaku usaha dapat membuat target peningkatan yang masuk akal berdasarkan kemampuan pasar dan kapasitas usaha. Begitu juga dengan keuntungan, jumlah tenaga kerja, jumlah produk, hingga jangkauan pemasaran. Apa yang bisa diukur akan lebih mudah dievaluasi dan diperbaiki.
Jangan Hanya Mengejar Omzet
Target usaha jangan hanya mengenai omzet. Omzet memang penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Pelaku UMKM juga perlu memperhatikan keuntungan bersih, jumlah pelanggan yang kembali membeli, biaya operasional, jumlah utang, produktivitas karyawan, kualitas produk, serta pertumbuhan aset. Usaha bisa saja memiliki omzet besar tetapi keuntungan kecil karena biaya terlalu tinggi. Sebaliknya, usaha dengan omzet lebih kecil bisa lebih sehat karena pengelolaannya efisien. Menurut saya, yang harus dibangun bukan hanya penjualan yang besar, tetapi bisnis yang sehat.
Evaluasi Setiap Bulan
Pelaku UMKM tidak perlu menunggu akhir tahun untuk mengevaluasi usaha. Setiap bulan, luangkan waktu untuk melihat hasil penjualan, biaya, keuntungan, keluhan pelanggan, produk terlaris, dan masalah yang muncul. Tanyakan: apa yang berjalan baik? Apa yang harus diperbaiki? Apa yang harus dihentikan? Dan apa peluang baru yang dapat dicoba? Kebiasaan evaluasi sederhana seperti ini dapat membantu pemilik usaha mengambil keputusan lebih cepat. Jangan menunggu masalah menjadi besar baru melakukan perbaikan.
Belajar dari Kegagalan Target
Tidak semua target akan tercapai. Itu bagian dari perjalanan usaha. Yang penting adalah mengetahui penyebabnya. Apakah target terlalu tinggi? Apakah pemasaran kurang efektif? Apakah kualitas produk menurun? Apakah biaya meningkat? Atau memang kondisi pasar sedang berubah? Menurut saya, kegagalan mencapai target jangan langsung dianggap sebagai kegagalan usaha. Justru dari sana kita mendapatkan pelajaran. Target bukan alat untuk menghukum diri sendiri, tetapi alat untuk mengetahui posisi usaha dan menentukan langkah berikutnya.
Target Harus Diikuti Disiplin
Mempunyai target tanpa disiplin tidak akan menghasilkan perubahan. Kalau ingin meningkatkan penjualan, promosi harus dilakukan secara konsisten. Kalau ingin memperbaiki keuangan, pencatatan harus dilakukan setiap hari. Kalau ingin membangun merek, kualitas dan pelayanan harus terus dijaga. Tidak ada pertumbuhan yang terjadi hanya karena keinginan. Target memberikan arah, tetapi disiplin yang membuat kita sampai ke tujuan.
Jangan Terlalu Cepat Membuka Cabang
Salah satu keinginan banyak pelaku usaha ketika mulai ramai adalah membuka cabang. Menurut saya, langkah tersebut harus dihitung dengan hati-hati. Jangan membuka cabang hanya karena merasa usaha sedang ramai. Pastikan usaha utama sudah mempunyai keuntungan yang sehat, sistem yang jelas, karyawan yang siap, dan pelanggan yang stabil. Cabang baru berarti biaya baru. Ada sewa, tenaga kerja, stok, listrik, peralatan, dan biaya operasional lainnya. Lebih baik mempunyai satu usaha yang sehat daripada banyak cabang tetapi seluruhnya kesulitan menghasilkan keuntungan.
Targetkan Usaha Semakin Mandiri
Salah satu target yang menurut saya penting adalah membuat usaha semakin mandiri dari waktu ke waktu. Jangan sampai setelah bertahun-tahun seluruh kegiatan masih bergantung pada pemilik. Mulailah membangun sistem, melatih karyawan, membuat standar kerja, mencatat keuangan, menjaga stok, dan mengatur pelayanan pelanggan. Ketika usaha dapat berjalan dengan sistem yang baik, pemilik mempunyai lebih banyak waktu untuk memikirkan pertumbuhan. Pemilik usaha harus naik kelas dari orang yang mengerjakan semuanya menjadi orang yang mampu mengarahkan usaha.
Pemerintah Perlu Membantu UMKM Bertumbuh secara Terukur
Program pemberdayaan UMKM juga sebaiknya mempunyai ukuran keberhasilan yang jelas. Menurut saya, keberhasilan jangan hanya dihitung dari berapa banyak pelaku UMKM yang mengikuti pelatihan atau pameran. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah program tersebut selesai. Apakah omzet meningkat? Apakah pasar bertambah luas? Apakah legalitas menjadi lebih tertib? Apakah tenaga kerja bertambah? Apakah produk mampu masuk ke pasar yang lebih besar? Pendampingan UMKM harus menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan dan diukur.
Usaha Kecil Tetap Harus Punya Mimpi Besar
Memulai dari kecil bukan berarti harus berpikir kecil. Pelaku UMKM boleh mempunyai mimpi besar, tetapi mimpi tersebut harus diterjemahkan menjadi langkah-langkah yang realistis. Mulai dari target harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Catat hasilnya. Evaluasi. Perbaiki. Kemudian naikkan target secara bertahap. Menurut saya, usaha besar dibangun dari banyak target kecil yang berhasil dicapai secara konsisten.
Karena itu, kepada seluruh pelaku UMKM, jangan hanya sibuk bekerja setiap hari tanpa mengetahui ke mana usaha sedang menuju. Tentukan target. Catat perkembangan. Evaluasi hasil. Perbaiki kesalahan. Jaga kualitas. Bangun pelanggan. Kendalikan keuangan. Dan terus tingkatkan kemampuan.
UMKM harus punya arah. Jangan hanya bertahan dari hari ke hari. Bangun usaha dengan target yang jelas agar setiap tahun semakin kuat, semakin profesional, dan semakin dekat menuju naik kelas.
